Tajuk Tamu Tribun Manado

Subjek Berpikir Tokoh Kunci Literasi Kultural

Seorang literat adalah orang yang mentransformasi bukan hanya kebudayaan, tapi juga dirinya sebagai subjek yang berpikir.

Subjek Berpikir Tokoh Kunci Literasi Kultural
Tribun Manado
Keseruan Anak-anak Bolsel Bermain di Pantai Sondana 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
* Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
* Pegiat Filsafat

TULISAN ini adalah ‘output’ dari kuliah akhir tahun Komunitas Mapatik yang mengangkat tema: Literasi Kultural, Jumat 13 Desember 2019. Selain ini berupa ‘output‘ ini juga yang akhirnya menjadi bagian dari refleksi teranyar yang penulis dapatkan dalam diskusi itu.

Adapun yang hadir sebagai narasumber adalah Dr Ivan Kaunang, Dr Denni Pinontoan, para budayawan-seniman muda: Freddy Wowor, Kalfein Wuisan dan Direktur Mapatik Minahasa Rickson Karundeng.

Penulis sendiri juga mengambil bagian dari perspektif filosofis tentang bagaimana literasi kultural itu. Sementara yang bertindak sebagai moderator adalah Kharisma Kurama, sang pegiat literasi. Banyak hal telah kami diskusikan dan terurai dengan jelas dalam diskusi waktu itu. Dari hasil diskusi itu, penulis coba rajut dalam karya sederhana ini.

Era kini, mengetengahkan sebuah realitas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diyakini membawa banyak dampak dan konsekuensi. Konsekuensi itu tampak lewat sebuah fakta bahwa kita disuguhi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang nyata juga lewat perkembangan media. Tapi hal itu lumrah mengingat era kini juga dikenal sebagai era digital, era teknologi informasi.

Jijik tapi Gurih: Begini Cara Orang Korea Makan Ikan Penis

Sebagai dampak dan konsekuensi dari perkembangan yang dimaksud, perkembangan sikap dan perilaku manusia terhadap realitas juga turut berubah. Saat ini manusia sering mengabaikan apa yang menjadi kodrat-nya untuk kemudian ‘mengabdi-menghamba’ pada ilmu dan teknologi yang dikenal instan itu. (Bandingkan refleksi penulis dalam “Kebudayaan, Peradaban dan Keterasingan Manusia”, Tajuk Tamu Tribun Manado 18 November 2019).

Hemat penulis, menghadapi fakta di atas, perlu sebuah gerakan, dan gerakan yang cukup mumpuni adalah gerakan literasi kultural. Budayawan Dr Denni Pinontaan menguraikan bahwa literasi kultural adalah upaya berpengetahuan dan mentransformasi budaya, agar ia memiliki makna dan daya guna bagi kehidupan kini. Tentu daya guna itu mengacu dari makna-makna luhur dari kebudayaan tersebut.

Sejalan dengan itu, literasi kultural juga dipahami sebagai kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. (Materi Pendukung Literasi Budaya, 2017: 3). Jadi, fakta progresivitas kebudayaan yang ada kini, perlu dipahami dan disikapi, dan karena telah dipahami dan disikapi seperti demikian, itu pun menyatu dengan proses berpengetahuan.

Kaleidoskop 2019: Aksi Teror Jaringan Teroris di Indonesia, Bom Sibolga Hingga Penusukan Wiranto

Kendati demikian, kita tidak bisa mengelak kenyataaan yang ada sekarang, yang mengetengahkan fakta bahwa literasi kultural seolah tampil seperti sesuatu yang ‘ala kadarnya’, jika ada tanda-tanda baik, semua bergiat (berliterasi), jika ada program literasi, semuanya menjalankan program itu, tanpa tahu dan memahami bahwa literasi kultural itu adalah hal yang fatal dan vital.

Pertanyaan reflektifnya adalah: Mampukah kita menempatkan literasi (kultural) itu sebagai sebuah pengetahuan yang memberi daya guna bagi kehidupan (sebagaimana uraian budayawan Denni Pinontoan)? Pernahkah kita merasa bahwa produk-produk budaya (Baca: Perkembangan budaya terkini), bahkan yang sudah menjadi kekhasan budaya daerah tertentu, adalah sebuah pengetahuan yang memiliki kedalaman, dan perlu diliterasi?

Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved