Berita Religi

Pastor John Rawung Persembahkan Misa Pesta Santo Fransiskus Xaverius di Gereja Paroki Watutumou

Pastor John Rawung MSC, Pastor Paroki Watutumou memimpin misa Pesta Santo Fransiskus Xaverius, pelindung karya misi, Selasa (03/12/2019) lalu.

Pastor John Rawung Persembahkan Misa Pesta Santo Fransiskus Xaverius di Gereja Paroki Watutumou
ISTIMEWA
Santo Fransiskus Xaverius 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pastor John Rawung MSC, Pastor Paroki Watutumou memimpin misa Pesta Santo Fransiskus Xaverius, pelindung karya misi, Selasa (03/12/2019) lalu.

Fransiskus Xaverius juga pelindung Stasi Maumbi, satu di antara beberapa stasi di Paroki Watutumou.

Dalam renungannya, ia mengatakan Fransiskus lahir tahun 1506.

Fransiskus kuliah di Universitas Paris dan bersahabat dengan santo Ignatius Loyola.

Pertanyaan dasar yang mengubah Fransiskus ialah kata-kata dalam Injil "apa gunanya orang memiliki seluruh dunia tapi kehilangan nyawa?"

Bersama Loyola dan lima rekannya mereka mengikrarkan kaul.

Dikutip dari www.imankatolik.or.id, selain kaul kemiskinan dan kemurnian hidup, mereka juga berjanji untuk membantu Paus dalam usaha memberantas berbagai ajaran sesat dan menyebarluaskan iman Kristen

Pada tanggal 16 Maret 1540, Xaverius meninggalkan rekan-rekannya di Roma dan berangkat ke Portugal untuk memenuhi undangan Raja Yohanes III, yang meminta imam-imam Yesuit untuk mewartakan Injil di wilayah jajahan Portugis di India.

Bersama dua rekannya dari Portugis, Fransiskus memulai perjalanan yang sulit itu pada tanggal 7 April 1541. Mereka tiba di Goa, India pada tanggal 6 Mei 1542 dan mulai berkarya di India Selatan dan Sri Langka.

Karyanya di Goa diberkati dengan keberhasilan yang gemilang. Dengan cara pewartaannya yang menarik dan kesalehan hidupnya, ia berhasil menawan hati banyak orang dan mempermandikan mereka menjadi pengikut-pengikut Kristus.

Dalam sebuah suratnya kepada Ignasius pada tanggal15 Januari 1544, ia menulis :

"Lenganku sering terasa sangat letih dan sakit karena membaptis begitu banyak orang dan mengajari mereka kewajiban-kewajiban iman Kristiani dalam bahasa mereka."

Pada tahun berikutnya, sekitar tanggal 27 Januari, ia mengabarkan lagi ke Roma bahwa ia sudah mempermandikan kurang-lebih 10.000 orang dalam waktu satu bulan.

Selama tiga tahun (1542-1545), Fransiskus Xaverius mewartakan Injil di pantai Barat India.

Semua perbuatannya yang agung itu terdengar juga hingga ke Malaka.

Oleh karena itu, pada musim semi tahun 1545, ia tiba di Malaka dan mewartakan Injil di sana.

Awal tahun 1546, ia berlayar dengan kapal dagang ke gugusan kepulauan di Indonesia bagian timur, terutama di Maluku.

Fransiskus mempermandikan kira-kira 1.000 orang Ambon dan mempersiapkan kedatangan imam-imam baru.

Lalu ia menuju ke Ternate pada bulan Juli 1546.

Setiap pagi Fransiskus berkotbah kepada saudagar-saudagar Portugis, yang seluruh pikirannya dijejali dengan urusan-urusan perdagangan rempah-rempah dan wanita.

Pada tanggal 14 Juni 1549, Fransiskus berlayar ke Jepang ditemani oleh Pater Cosmas de Torres, Bruder Juan Fernandez, Anger, seorang Jepang yang sudah bertobat dan dua orang lainnya.

Mereka tiba di Kagoshima, Kyushu pada tanggal 15 Agustus 1549.

Mula-mula mereka berusaha mempelajari bahasa Jepang dan menerjemahkan ajaran-ajaran Kristen ke dalam bahasa daerah setempat.

Dari Kagoshima, pada bulan Agustus 1550 Fransiskus bersama kawan-kawannya berlayar ke Honshu, pulau terbesar dari gugusan kepulauan Jepang.

Pada tahun 1552 Xaverius didesak untuk kembali ke India guna menyelesaikan masalah-masalah administratif yang timbul selama ia tidak ada.

Pater Torres dan Bruder Fernandez menetap di Jepang untuk melanjutkan karya misi di sana.

Pada bulan April 1552, ia berlayar menuju Cina dengan sebuah kapal Portugis dan didaratkan di pulau Sanchian, di depan muara sungai Chukiang.

Di sana ia menunggu jemputan perahu yang bersedia menyelundupkannya ke daratan Tiongkok.

Tetapi ia tiba-tiba jatuh sakit dan dalam waktu dua minggu ia menghembuskan nafas terakhir di sebuah gubug, ditemani hanya oleh seorang pemuda Tionghoa yang telah menemani dia dari Goa.

Fransiskus meninggal dunia di Sanchian pada tanggal 3 Desember 1552.

Pastor John Rawung mengatakan Santo Fransiskus merupakan santo yang energik, menarik, dan rendah hati.

Ia membantu katakumenat, membangun sekolah, memerhatikan imam pribumi dan tekun mempelajari bahasa daerah.

"Semoga menjadi semangat kita untuk meneladaninya," katanya.

(Tribunmanado.co.id/David Manewus)

BERITA TERPOPULER :

 Airlangga Ketum, Bamsoet Waketum Golkar dan Posisi Ketua MPR Aman, Posisi Tetty Paruntu?

 Mahfud MD: Tiga Hari Sebelum Diganti Menag Lukman Keluarkan Rekom Lalu Menag Fachrul buat Baru

 Fadli Zon Mulai Ragukan Kemampuan Menhan Prabowo, 3 WNI Disandra Abu Sayyaf, Usulkan Kivlan Zen

TONTON JUGA :

Penulis: David_Manewus
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved