Kabar Prabowo

Andre Rosiade Akui Megawati Bantu Pulangkan Prabowo dari Yordania: Saya Tahu Kok Mereka Teman Baik

Sosok berjasa lainnya yang ada di balik kepulangan Prabowo Subianto adalah Megawati Sukarnoputri.

Andre Rosiade Akui Megawati Bantu Pulangkan Prabowo dari Yordania: Saya Tahu Kok Mereka Teman Baik
Instagram/puanmaharaniri
Puan Maharani foto selfie bersama ibunya, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade mengakui jasa Megawati Sukarnoputri memulangkan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto dari Yordania kembali ke Indonesia.

Megawati dan Prabowo Subianto sesungguhnya berteman baik.

Saat itu, pemulangan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut dilakukan Megawati dan Suaminya Taufik Kiemas pada 2000.

Sosok berjasa lainnya yang ada di balik kepulangan Prabowo Subianto adalah Megawati Sukarnoputri.

Kala itu, ucap Andre, Ketua Umum PDI Perjuangan itu menjabat Wakil Presiden dari Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001).

Dirinya mengucapkan rasa terima kasih atas jasa yang telah dilakukan oleh pasangan suami istri tersebut, karena telah membantu proses pemulangan Prabowo.

"Jadi memang dari awal kami berterima kasih dengan Taufik Kiemas yang telah membantu Bapak Prabowo."

"Sehingga Pak Prabowo dapat kembali ke Indonesia dan bisa beraktivitas seperti sedia kala," katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Menurutnya, hubungan Prabowo dan Megawati Sukarnoputri serta keluarganya lah yang membantu Prabowo pulang dari Yordania ke Tanah Air.

Ia menjelaskan, tanpa bermaksud merendahkan martabat Prabowo Subianto, beliau sempat merasakan kesulitan untuk masuk ke Indonesia.

"Karena waktu itu kesulitan masuk ke Indonesia, tanpa merendahkan martabat Pak Prabowo Subianto," ujarnya.

Menurut penilaiannya, hubungan di antara Prabowo Subianto dan Megawati Sukarnoputri adalah persahabatan yang sangat baik.

"Saya tahu kok bagaimana Ibu Megawati Sukarnoputri dan Pak Prabowo Subianto bersahabat dan teman yang sangat baik," ucapnya.

Ia pun mengimbau kepada masyarakat agar tidak perlu mengeluarkan respons negatif terhadap hubungan mereka.

"Jadi sekarang enggak perlu lah kita respons, karena sekarang waktunya bekerja, bukan nyinyir."

"Siapa pun pemimpinnya, saatnya kita sekarang bekerja," tuturnya, mengimbau masyarakat agar tetap rukun.

Selain itu, dia juga menyinggung kinerja para anggota dewan yang ada di DPR.

"Anggota DPR jangan hanya diam dan tunjukkan cara bekerja yang baik, karena pemilu sudah lewat," paparnya.

Dirinya menegaskan, sudah saatnya para wakil rakyat itu bersatu bekerja sesuai amanah, dan bukan hanya minta anggaran.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengarah Badan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Sukarnoputri sempat berbagi cerita soal kedekatannya dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Hal ini diungkapkan Megawati saat memberikan sambutan di acara Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12/2019)‎.

"Kenapa Pak Prabowo, orang bingung kok saya bisa sobatan sama yang namanya Prabowo. Memangnya kenapa?" ujar Megawati mengawali pembicaraanya.

Menurut Megawati, persahabatan dirinya dengan Prabowo merupakan wujud pengaplikasian Pancasila.

Megawati menegaskan, Prabowo tidak pernah ia anggap sebagai musuh.

"Kenapa saya sobatan sama Pak Prabowo? Itu Pancasila saya. Katanya musuh harus dirangkul."

"Kalau Prabowo musuh saya, untuk apa saya suruh dia pulang? Dulu saya ambil beliau keleleran," ‎ungkap Megawati.

Megawati ‎melanjutkan ketika itu dirinya sempat marah pada Menteri Luar Negeri hingga Panglima TNI, karena membiarkan Prabowo tidak memiliki kewarganegaraan alias stateless.

"Saat itu saya marah sebagai presiden. Siapa yang buang beliau stateless?"

"Beliau manusia Indonesia, pulang. Begitu itu tanggung jawab," tutur Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut.

Megawati Sukarnoputri juga berbagi cerita ketika dirinya diangkat menjadi Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), oleh Presiden Jokowi.

Kala itu, Megawati mengaku sedang berada di luar negeri.

Dia mendapat telepon dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Di perbincangan tersebut, Megawati diminta menjadi Ketua Dewan Pengarah BPIP.

"Saya waktu itu sedang di luar negeri. Lalu ditelepon oleh Setkab diminta untuk jadi ketua dewan pengarah."

"Yang saya langsung bilang ke Pak Pramono, kenapa saya Pram?"

"Saya berdua sudah seperti saudara," ungkapnya di sela acara Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Megawati sempat berpikir Presiden Jokowi sangat tega memilih dirinya yang merupakan mantan Presiden kelima, menjadi Ketua Dewan Pengarah BPIP.

Tapi pada akhirnya Megawati menyanggupi permintaan menjadi Ketua Dewan Pengarah demi ideologi Pancasila.

"Beliau (Jokowi) yang memilih, kok beliau kebangetan ya? Saya ini kan pensiunan presiden ke-5, kok diturunkan ke unit kerja."

"Tapi karena ini itu untuk sebuah ideologi bangsa, ya saya terima. Saya tidak tahu teman-teman saya siapa," katanya.

Sampai pada akhirnya Megawati merasa senang karena ‎jabatan di Dewan Pengarah di BPIP diisi para tokoh-tokoh bangsa.

Beberapa di antaranya kini 'naik kelas' seperti Maruf Amin yang menjadi Wakil Presiden, dan Mahfud MD yang menjadi Menkopolhukam.

Hingga kini, pengganti Maruf Amin dan Mahfud MD belum ada. Megawati meminta Jokowi segara menunjuk tokoh penggantinya.

"Mohon maaf Pak Presiden, saya sudah sering kali ingatkan. Sampai saat ini tetap belum ada penggantinya Pak Maruf Amin dan Mahfud MD, kami masih kurang," paparnya.

Sebelumnya, Megawati Sukarnoputri meminta pengusung khilafah datang ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Megawati mengaku Fraksi PDI Perjuangan di DPR membuka diri kepada mereka yang mendukung khilafah.

Dia mengajak Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto agar Fraksi Gerindra juga membuka diri kepada pendukung khilafah.

"Bagi mereka yang sangat berkeinginan untuk mendirikan yang namanya khilafah, boleh ke DPR. Kami dengarkan itu.

"Opo toh karepe?" Ujarnya saat memberikan sambutan dalam acara presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Selasa (3/12/2019).

‎Megawati menyinggung bentuk khilafah dan mempertanyakan siapa sosok khalifah yang memimpin hingga bagaimana cara memilihnya.

Sampai dengan saat ini, menurut Megawati, tidak ada kelompok pro khilafah yang datang ke DPR bertemu Fraksi PDI Perjuangan.

Padahal, ungkap Megawati, jajaran partainya sudah menunggu untuk berdiskusi soal khilafah.

"Padahal saya sudah nunggu-nunggu, bukan saya, nanti yang hadapi anak buah saya. Supaya enak gitu loh," tuturnya.

Megawati juga angkat bicara soal aparatur sipil negara (ASN) yang terpapar radikalisme.

Bahkan, Megawati menyinggung Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo yang memiliki tugas berat terkait ASN terpapar radikalisme.

"Seperti ASN, sekarang yang pusing kepala sebetulnya Pak Tjahjo."

"Saya bilang hati-hati loh Yo, kamu yang mesti mikirkan kenapa ASN bisa terpapar (radikalisme), sampai sebegitu," paparnya.

Megawati juga menyebut banyak masjid terpapar radikalisme.

Untuk itu, dia ingin membumikan nilai Pancasila di kementerian/lembaga.

"Karena kita sendiri tahu sudah sampai seberapa jauh terpaparnya masjid-masjid kita," kata Megawati.

Megawati berpendapat masih banyak masjid di lingkungan kementerian/lembaga yang mengizinkan kiai ataupun ustaz menyampaikan kebencian.

Menyoal itu, Ketua Umum PDI Perjuangan ini menyatakan pernah menyampaikan hal ini kepada Jusuf Kalla, Ketua Dewan Masjid Indonesia.

"Tolong pak kalau dibiarkan saja hanya kebencian yang diberikan kepada mereka-mereka ini, rakyat kita yang perlu rohaninya diisi, tapi oleh seperti itu."

"Bagaimana kalau kita kejadian seperti di timur tengah? Siapa yang akan menghentikan?" bebernya.

Megawati lantas meminta izin pada pimpinan kementerian/lembaga, agar dia bersama BPIP bisa masuk membumikan nilai-nilai Pancasila.

"Dengan segala hormat saya, kalau nanti saya mau kulonuwun mohon diterima. Kalau saya ditolak enggak apa-apa, tapi jangan Buya, Pak Tri ditolak," pintanya. (Mafani Fidesya Hutauruk)

Editor: Aldi Ponge
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved