Anak dengan HIV Minum Obat Dewasa: Perusahaan Farmasi Enggan Impor ARV untuk Anak

Permasalahan HIV/AIDS di Indonesia tidak sebatas dialami oleh orang dengan HIV dan orang dengan AIDS dewasa.

Anak dengan HIV Minum Obat Dewasa: Perusahaan Farmasi Enggan Impor ARV untuk Anak
HIV 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Permasalahan HIV/AIDS di Indonesia tidak sebatas dialami oleh orang dengan HIV dan orang dengan AIDS dewasa. Anak-anak dengan HIV dan AIDS juga mengalami permasalahan. Permasalahan yang mereka adalah ketersediaan obat antiretroviral (ARV) untuk anak-anak di Indonesia.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan ketersediaan ARV untuk anak di Indonesia masih minim. Anung mengatakan keterbatasan ketersediaan ARV itu terjadi karena jumlah anak dengan HIV di Indonesia sedikit. Perusahaan farmasi yang produksi ARV untuk anak tidak tertarik mengimpor ke Indonesia.

Munas Golkar, Jokowi Bantah Intervensi, Ada yang Teriak: Kasih Bamsoet Sepeda

"Misalnya beli untuk 200 anak. Tidak ada yang bisa impor karena untuk mengimpor itu harus beli ribuan," ujar Anung di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (27/11).

Anung menegaskan persoalannya bukan hanya obat ARV untuk anak. Persoalannya adalah tingkat kebutuhan masyarakat tidak menjanjikan di mata importir. Kaitannya adalah hal ekonomi.

Ketiadaan ARV untuk anak membuat anak-anak dengan HIV harus mengonsumsi ARV untuk dewasa. Biasanya anak-anak dengan HIV mengonsumsi ARV yang digerus agar sesuai takaran yang dianjurkan untuk mereka. Permasalahannya adalah perawat anak dengan HIV belum tentu bisa menakar dosis yang tepat sebelum memberikan ARV ke anak tersebut.

Permasalahan ini terkait dengan fakta banyak anak dengan HIV berstatus yatim piatu. Orangtua mereka meninggal dunia karena AIDS, lalu mereka dirawat oleh kakek dan neneknya. Kondisi kakek dan nenek yang telah lanjut usia seringkali membuat mereka sulit membaca keterangan yang tertera di botol ARV.

"Pecahnya itu digerus, dipotong dan sebagainya. Siapa yang pernah tahu apakah obat-obat yang digerus dan dipotong itu dosisnya sesuai dengan dosis anak-anak. Selain itu, siapa yang bisa memastikan tanggal kedaluwarsanya? Apakah kakek, nenek, ibu bisa melihat obat-obat yang diracik yang digerus itu masih lama kedaluwarsanya," ujar Manajer Advokasi Lentera Anak Pelangi Natasya Sitorus kepada Tribun Network di Jakarta, Sabtu (30/11).

Natasya mengatakan ketidaksesuaian dosis obat yang digerus dapat memberikan efek samping yang lebih besar kepada anak dibandingkan orang dewasa. Menurut Natasya ARV yang digerus tidak dibuat untuk anak meski digerus sebelum dikonsumsi.

"Kita paling sering menemukan kasus ruam pada anak-anak yang minum obat diracik dipotong dan sebagainya," tutur Natasya.

Natasya mengatakan ARV untuk anak tidak selalu harus dalam bentuk sirup. Beberapa jenis ARV dapat dilarutkan, namun pelarutnya harus mengandung alkohol sebesar 40 persen. Namun demikian, menurut Natasya ini bukan hal yang baik untuk anak-anak.

Jaksa Tangkap Jaksa: Peras Mantan Bos BUMN Rp 1 Miliar

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved