Trump Kobarkan Perang Dagang Baru: China Membalas, Resesi Ancam Dunia

Harga emas dunia memangkas pelemahan memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Senin (2/12/19) setelah Presiden Donald Trump

Trump Kobarkan Perang Dagang Baru: China Membalas, Resesi Ancam Dunia
kontan
Uang dolar AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Harga emas dunia memangkas pelemahan memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Senin (2/12/19) setelah Presiden Donald Trump mengobarkan perang dagang dengan Brasil dan Argentina. Resesi pun kian mengacam dunia menyusul ketegangan baru antara AS dan China di sektor perdagangan.

Pada pukul 21:00 WIB, harga emas diperdagangkan di level US$ 1.458,96/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya emas sempat melemah 0,68%.

Prabowo Perkuat Pertahanan: Incar Teknologi AS-Rusia hingga Inggris-Turki

Melalui akun twitternya, Presiden Trump mengatakan akan menerapkan lagi bea masuk importasi baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina. Kedua negara dituduh sengaja mendevaluasi mata uang mereka, yang menyebabkan petani di AS kehilangan daya saing.

"Brasil dan Argentina telah melakukan devaluasi besar-besaran terhadap mata uang mereka, dan hal itu tidak bagus untuk petani kita. Oleh karena itu, efektif secepatnya, saya akan menerapkan lagi bea masuk semua baja dan aluminum yang masuk ke AS dari dua negara tersebut" kata Trump melalui akun Twitternya, sebagaimana dilansir CNBC International.

Perang dagang dengan China masih belum berakhir, Trump sudah mengobarkan perang dagang baru lagi. Sentimen pelaku pasar yang sebelum sedang bagus kini kembali memburuk, bisa lepas dari tekanan.

Sebelumnya pada pagi hari, pelaku pasar dibuat ceria oleh data ekonomi dari China. Dampaknya bursa Asia menghijau, dan emas melemah hingga 0,68%. Caixin melaporkan indeks aktivitas manufaktur yang dilihat dari purchasing managers' index (PMI) naik menjadi 51,8 di bulan November, dibandingkan bulan sebelumnya 51,7.

Angka di atas 50 berarti ekspansi, dengan demikian pada bulan lalu sektor manufaktur China meningkatkan ekspansinya. Selain itu angka indeks di bulan November tersebut juga mematahkan prediksi penurunan menjadi 51,5 di Forex Factory.

Data bagus dari Caixin tersebut melengkapi data aktivitas manufaktur China versi pemerintah yang dirilis Sabtu lalu. Data tersebut menunjukkan angka 50,2 untuk bulan November. Ekspansi sektor manufaktur tersebut merupakan yang pertama kali setelah sebelumnya mengalami kontraksi dalam enam bilang berturut-turut.

Rilis tersebut juga mematahkan prediksi di Forex Factory yang menunjukkan sektor manufaktur China masih akan berkontraksi 49,5 di bulan November. Setelah China, malam ini AS akan merilis data yang sama.

Sulut ‘Juara’ Nasional Inflasi: Tomat Sayur sebagai Pemicu

Kali ini giliran Institute for Supply Management (ISM) yang akan melaporkan PMI AS, melihat prediksi di Forex Factory, sektor manufaktur AS diprediksi masih berkontraksi, tetapi membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved