Berita Bolmong

Mengintip Pengobatan Ala Mongondow Zaman Dulu, Penarinya Bisa Menari Berhari-hari

Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Provinsi Sulawesi Utara, punya banyak budaya unik.

Mengintip Pengobatan Ala Mongondow Zaman Dulu, Penarinya Bisa Menari Berhari-hari
TRIBUN MANADO/ARTHUR ROMPIS
Mengintip Pengobatan Ala Mongondow Zaman Dulu, Penarinya Bisa Menari Berhari-hari 

Dalam keadaan trans, beber dia, bolian jadi sakti.

Mereka bisa menghadirkan benda secara gaib sesuai permintaan.

"Misalnya kita minta cengkih, bolian bisa hadirkan, dia kibaskan sapu tangan dan keluar cengkih dari sapu tangan tersebut masih dengan daunnya, namun kadang ia memberi apa yang tidak kita minta," kata dia.

Dikatakannya, cengkih tersebut jadi obat bagi si sakit. Selain cengkih, pasien kerap diberikan jahe.

"Kadang bolian memberi minum air kelapa muda atau memandikan pasien," kata dia.

Bebernya, banyak hal di luar nalar saat menonton tarian ini.

Ia bercerita, ada Bolian yang dapat mengambil barang antik dalam tanah hanya dengan tangan telanjang.

"Tapi ini merupakan tontonan yang menarik bagi turis," kata dia.

Chairun menyatakan, tak sembarangan mengadakan Motayok.

Sebelumnya harus diadakan Mobondit.

"Dalam Mobondit akan dideteksi jenis penyakit dan akan diketahui ritual apa dalam Motayok," beber dia.

Dikatakannya sesaji yang disiapkan dalam Motayok adalah ayam, beras, ketan, sagu hutan.

Beras dan sagu dimasak di dalam bambu dengan ukuran bervariasi.

Semua masakan harus dimasak dalam bulu, setelah sesaji beres, barulah ritual dimulai," kata dia.

Menurut dia, waktu ritual biasanya sore hari.

Selain bolian, ada pemain musik.

Mereka bergantian mengiringi.

Di sekitar tempat ritual, dibangun pondok kecil dari anyaman bambu yang disebut Sibi.

Disana sesajen diletakkan.

"Itu diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur, seseorang yang menguasai Motayok meletakkan sesajen sambil merapal mantra, lalu meminta roh leluhur agar setelah selesai menyantap

sesajen segera kembali ke tempat asalnya," beber dia.

Sebut dia, semua penyakit, baik fisik maupun gaib bisa disembuhkan.

Semua bergantung kepercayaan pasien.

"Jika dia percaya bisa sembuh, jika tak sembuh berarti kurang percaya," kata dia.

Untuk itu, penting untuk menanamkan kepercayaan pasien terhadap prosesi tersebut.

Prosesi tersebut memang menarik ditonton.

Tapi ada pantangannya.

"Dilarang berucap yang tak pantas, itu seperti ngajak bolian beradu fisik, orang yamg menantang bisa lumpuh atau sakit," kata dia.

Pantangan lainnya adalah tidak menginjak dodai atau sebatang kayu tempat injakan bolian saat menari.

Jika bolian marah, mereka akan disadarkan oleh pembantu bolian dengan menabuh gendang secara cepat sambil merapal mantra dengan bahasa Mongondow kuno.

Menurut dia, para Bolian memiliki kesaktian para Bogani yang merasukinya.

Chairun menuturkan, dirinya terpanggil untuk menyelamatkan budaya tersebut dari kepunahan.

"Saya bangun sanggar untuk menyelamatkannya, sayang jika budaya seperti ini hilang begitu saja," kata dia.

Tak mudah karena selain sulit mencari generasi muda juga tak sembarang orang bisa jadi bolian.

"Ia harus punya bakat khusus," kata dia.

Dikatakan Chairun, sanggar tersebut mentas setiap kali ada permintaan untuk pengobatan.

Awan Mokoagow bercerita ia mewarisi keahlian Motayok dari leluhurnya.

"Saat kecil saya sakit, diobati oleh nenek saya, sakit itulah jalan saya untuk mewarisi ilmu itu, syaratnya memang harus keluarga," kata dia.

Menurutnya, pasien yang datang berasal dari Bolmong dan sekitarnya.

Mereka biasanya sudah divonis dokter sembuh tapi nyatanya tidak sembuh.

Pemerintah Kabupaten Bolmong dan Kotamobagu mendukung pelestarian Motayok dengan membangun rumah adat motayok di Desa Bilalang.

(Tribunmanado.co.id/Arthur Rompis) 

BERITA TERPOPULER :

 Erick Thohir Mundur dari BUMN Jika Diminta Selesaikan Kasus Krakatau Steel dengan Syarat Ini

 Dari Arab Saudi, Rizieq Shihab Sebut Ahok Lengser dan Longsor, Singgung Dinaungi Presiden

 Prabowo Perkuat Pertahanan: Incar Teknologi AS-Rusia hingga Inggris-Turki

TONTON JUGA :

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Alexander Pattyranie
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved