News

Kasus Perceraian di Manado Semakin Meningkat, Kultur di Sulut Membantu Perempuan Buka Suara

Menurut Koordinator Program LSM Swara Parangpuan, Mun Djenaan kebanyakan perceraian diinisiasi oleh pihak perempuan.

Kasus Perceraian di Manado Semakin Meningkat, Kultur di Sulut Membantu Perempuan Buka Suara
Istimewa
SWAPAR - Foto Perayaan Dua Dekade Swara Parangpuan 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tingginya angka perceraian di Manado memang tidak diragukan lagi.

Menurut data di Pengadilan Agama Manado, hingga November 2019 saja sudah ada 474 kasus perceraian.

Sedangkan di Pengadilan Negeri Manado 411.

Menurut Koordinator Program LSM Swara Parangpuan, Mun Djenaan kebanyakan perceraian diinisiasi oleh pihak perempuan.

Ia berpendapat hal ini masih berkaitan dengan kultur masyarakat Sulawesi Sendiri.

"Di Sulut, terutama masyarakat Minahasa perempuannya itu lebih berani bersuara dibanding dengan suku lain. Mereka tidak begitu saja patuh kepada suami. Jadi kedudukan di rumah itu setara," jelasnya, Selasa (3/12/2019).

Ia menambahkan masyarakat Sulut tidak mengenal dikotomi tugas laki-laki dan perempuan, sehingga kesadaran kesetaraan gender tertanam kuat.

Selain itu, masyarakat Sulut juga tidak gemar mencampuri urusan pernikahan seseorang, sehingga perempuan bisa dengan bebas menentukan nasibnya sendiri.

Faktor penyebabnya pun bermacam-macam.

Mulai dari faktor perselingkuhan, KDRT hingga ekonomi.

Halaman
123
Penulis: Isvara Savitri
Editor: Maickel_Karundeng
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved