Sidang Pembunuhan Guru Agama SMK Ichthus

LIVE FACEBOOK SIDANG PUTUSAN Siswa Bunuh Guru Agama SMK Ichthus, Penuh Teriakan!

Situasi selama sidang bisa dilihat di live Facebook pengguna Facebook dengan nama akun Evan Fhilardio Mohede‎.

LIVE FACEBOOK SIDANG PUTUSAN Siswa Bunuh Guru Agama SMK Ichthus, Penuh Teriakan!
kolasetribunmanado/whatsapp/TRIBUN MANADO/JUFRY MANTAK
Beredar Video Siswa SMK Tikam Guru Agama, Durasi 1 Menit 6 Detik Terdengar Teriakan Dalam Nama Yesus 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sidang putusan siswa bunuh guru agama SMK Ichthus Manado digelar hari ini Senin (02/12/2019).

Dalam sidang tersebut, di ruang sidang terdengar banyak teriakan.

Situasi selama sidang bisa dilihat di live Facebook pengguna Facebook dengan nama akun Evan Fhilardio Mohede‎.

UPDATE TERKINI Kasus Pembunuhan Guru Agama SMK Ichthus, Massa Tuntut Hakim Beri Putusan 2 Suku Kata

Berikut videonya:

Sebelumnya, Aliansi Masyarakat Peduli Korban Pembunuhan Guru dan Forum Keluarga Pendeta menggelar aksi damai yang digelar oleh di halaman depan Pengadilan Negeri Manado, Sulawesi Utara.

Aksi tersebut dalam rangka mengawal sidang kasus pembunuhan guru agama SMK Ichthus Alexander Werupangkey (54) yang meninggal karena ditusuk kedua muridnya, FL (16) dan OU (17) ketika diperingatkan agar tidak merokok di lingkungan sekolah.

Demi mengenang jasa para guru termasuk Alexander, mereka mengajak masyarakat mengenang jasa para guru dengan menyanyikan lagu himne guru.

Masyarakat pun dengan khidmat ikut bernyanyi bahkan ada yang sampai menangis.

Polisi terlihat berjaga di depan pintu masuk PN Manado.

Setelah bernyanyi, massa meminta majelis hakim hari ini memberikan putusan seberat-beratnya, demi tegaknya keadilan.

Massa dan Keluarga Minta Tersangka Dihukum Lebih Berat dari Putusan
Massa dan Keluarga Minta Tersangka Dihukum Lebih Berat dari Putusan (TRIBUN MANADO/ISVARA SAFITRI)

"Kami tidak terima kalau guru yang selama ini menjadi pendidik kami di sekolah diperlakukan seperti ini!" seru Arvin Mapia, salah satu masyarakat yang ikut berorasi.

Baginya, pekerjaan guru sudah sangat berat dan masih mendapatkan bayaran yang tidak setimpal dengan adanya kejadian ini.

Mereka menegaskan bahwa anak muda di masa sekolah berlaku sedikit nakal adalah sebuah kewajaran, namun tidak bisa menjadi pembenaran untuk melakukan perbuatan melanggar hukum.

Anak muda sebagai harapan bangsa seharusnya tidak menjadi pelaku pelanggaran hukum seperti ini.

Istri korban, Silvia Walalangi (41) juga turut memberikan orasi.

Ia juga menyerukan tuntutan yang sama bagi majelis hakim untuk berlaku seadil-adilnya.

Ia bahkan mengatakan bahwa sistem peradilan anak perlu ditinjau ulang agar tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

"Umur saja yang masih muda, tapi kelakuan mereka sudah seperti orang dewasa. Sudah tidak pantas dilindungi sistem peradilan anak," jelas Silvia.

Pihak keluarga korban dan aliansi masyarakat menuntut para tersangka dihukum lebih berat dari yang sudah dituntut oleh jaksa, yakni 10 tahun untuk FL dan 7 tahun untuk OU.

Massa Gelar Aksi Damai Kawal Sidang Kasus Pembunuhan Guru Agama SMK Ichthus di Pengadilan Negeri Manado, Sulawesi Utara, Senin (02/12/2019).
Massa Gelar Aksi Damai Kawal Sidang Kasus Pembunuhan Guru Agama SMK Ichthus di Pengadilan Negeri Manado, Sulawesi Utara, Senin (02/12/2019). (TRIBUN MANADO/ISVARA SAFITRI)

Dalam sebuah wawancara antara Tribunmanado.co.id dan dua pelaku, kedua siswa itu mengaku menyesal telah membunuh guru agama SMK Ichthus Manado Alexander Werupangkey (54).

Dua Siswa Ichthus Manado, yakni FL (16) dan OU (17), mengaku meminta maaf kepada almarhum lewat doa.

"Sejak masih di tahan di Polresta Manado, saya terus berdoa minta maaf, karena saya sudah salah, sampai sekarang, wajah bapak guru masih terbayang di pikiran saya," jelasnya Selasa (26/11/2019).

Pelaku OU menyebut bahwa wajah guru SMK Ichthus Manado yang dipukulnya, pernah terbayang di pikirannya.

"Kami menyesal, memang benar penyesalan di belakang, saya jadi takut, kami berdua sering berdoa bersama, meminta maaf kepada pak guru lewat doa," kata OU.

Cerita 2 Siswa Bunuh Guru SMK Ichthus Manado, Sering Mimpi Aneh Disentuh Orang, Berdoa Baca Alkitab

2 Siswa Bunuh Guru SMK Ichthus Manado,
2 Siswa Bunuh Guru SMK Ichthus Manado, (TRIBUNMANADO/JUFRI MANTAK)

Dua Siswa Ichthus Manado, yakni FL (16) dan OU (17), warga Kelurahan Koka Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut, mengaku wajah guru yang dibunuh mereka sering terbayang.

Hal itu diungkapkan kedua terdakwa, saat ditemui wartawan tribunmanado.co.id, di salah satu ruangan di gedung Pengadilan Negeri Manado, Selasa (26/11/2019), sebelum mereka berdua mengikuti sidang tuntutan.

"Sejak masuk penjara di Polresta Manado, saya sering mimpi aneh. Saat tidur, seperti ada yang menyentuh saya. Tapi saat saya bangun, tidak ada orang disamping saya," ujar FL yang menikam almarhum Alexander Werupangkey (54).

Lanjutnya, saat terbangun, dirinya langsung berdoa, meminta maaf kepada almarhum lewat doa, setelah itu dirinya membaca Alkitab.

"Sejak masih di tahan di Polresta Manado, saya terus berdoa minta maaf, karena saya sudah salah, sampai sekarang, wajah bapak guru masih terbayang di pikiran saya," akunya dengan waja ketakutan.

Begitu juga pengakuan dari OU, bahwa wajah guru SMK Ichthus Manado yang dipukulnya, pernah terbayang di pikirannya.

"Kami menyesal, memang benar penyesalan di belakang, saya jadi takut, kami berdua sering berdoa bersama, meminta maaf kepada pak guru lewat doa," kata OU.

 KRONOLOGI Lengkap Penikaman Guru SMK Ichthus Manado oleh Siswa, Terungkap Ancaman Hukumannya

Saat wartawan tribunmanado.co.id, sedang berbincang-bincang dengan ke dua terdakwa., tiba-tiba waktu sidang tuntutan dimulai, sehingga kedua terdakwa langsung dibawa anggota Polresta Manado, ke dalam ruang sidang anak.

Keluarga korban yang sangat marah dengan kedua terdakwa, sehingga, setelah mengikuti sidang tuntutan

Kedua terdakwa, langsung dibawa anggota Polresta Manado ke mobil yang sudah disediakan di parkiran Pengadilan Negeri Manado. 

5 Fakta di Balik Sidang 2 Siswa Bunuh Guru SMK Ichthus Manado, Curhat Istri hingga Tuntutan 10 Tahun

Sebelumnya, Selasa (26/11/2019), Pengadilan Negeri Manado menggelar sidang ketiga kasus Siswa SMK bunuh guru agama SMK Ichthus Manado.  

Diketahui, Guru Agama Alexander Werupangkey (54) ditikam 14 kali siswanya yakni FL (16) dan OU (17) pada Senin (21/10/2019).

Pembunuhan oleh kedua siswa tersebut sudah direncanakan mereka karena kesal ditegur korban.

PN Manado sudah menggela 3 kali sidang.

Sidang akan dilanjutkan pada hari Senin (2/12/2019) pada pukul sekira 13.00 Wita dengan agenda pembacaan putusan hakim.

Berikut Fakta-fakta di balik sidang kasus Siswa SMK bunuh istri:

1. Sidang Tertutup

Sidang Tuntutan kasus pembunuhan guru SMK Ichtus digelar tertutup di PN Manado.

Pantauan wartawan tribunmanado.co.id, sekitar pukul 15.15 Wita, dua terdakwa berinisial FL (16) dan OU (17), warga Kelurahan Koka Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut, masuk di ruang sidang anak, dikawal anggota Resmob Polresta Manado.

Sidang tuntutan tersebut, dikawal ketat anggota Resmob Polresta Manado dan Tim Paniki Rimbas I Polresta Manado.

Wartawan pun dilarang masuk ke dalam ruang sidang anak yang sedang berlangsungnya sidang tuntutan tersebut.

Terpantau keluarga korbanpun berada di depan ruang sidang, sambil teriak-teriak, bunuh saja mereka.

"Kakak kami mengajarkan kalian untuk tidak merokok di sekolah, tetapi kenapa kalian bunuh kakak kami," teriak keluarga korban.

Lanjutnya, kakak kami sudah meninggal, terus apa lagi yang akan kalian buat.

"Kakak saya sudah teriak-teriak dalam nama Yesus, dalam nama Yesus, tapi kalian tetap bunuh," ucap keluarga korban.

2. Istri: Suami Selalu Berdoa bagi Siswanya

Silvia Walalangi (41) istri korban ternyata sempat menyarankan suaminya berhenti sekolah.

Sebelum sidang dimulai, Silvia mengenang betapa mendiang suaminya sudah memberikan kontribusi besar terhadap SMK Ichthus.

"Setiap hari suami saya berdoa untuk siswa-siswi di sana semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi," katanya, Selasa (26/11/2019).

Silvia beberapa kali melihat suaminya tampak kewalahan lalu menyarankannya untuk berhenti saja.

Meski begitu, Alexander tetap bersikeras tetap berada di SMK Ichthus.

"Dia bilang bahwa itu adalah tugas yang diberikan oleh Tuhan. Saya punya keinginan agar mereka bisa berubah," jelasnya.

Dengan adanya kejadian ini, Silvia berharap para siswa di sekolah bisa lebih menghargai dan menghormati gurunya di sekolah.

"Karena tanpa kita tau pendidik ini meninggalkan keluarga, keluar pagi-pagi berusaha memberikan pendidikan yang baik dan benar. Jangan lagi dibalas dengan umpatan kasar apalagi pembunuhan seperti ini," tambahnya.

Ia juga berharap para orang tua mampu mendidik anaknya dengan baik di rumah, karena rumahlah tempat pendidikan pertama anak-anak.

"Karena kalau di sekolah guru hanya memberikan pendidikan supaya pintar, tempat pembentukan pertama ya di rumah," tutupnya.

Olah TKP penikaman guru SMK Ichthus Manado dan korban saat dirawat di RS
Olah TKP penikaman guru SMK Ichthus Manado dan korban saat dirawat di RS (TRIBUNMANADO/PASCHALIS SERTY/JUFRI MANTAK)

3. Dituntut 10 Tahun Penjara

Jaksa Penuntut Umum mengajukan tuntutan 10 tahun penjara bagi FL dan 7 tahun penjara bagi OU.

Istri korban, Silvia Walalangi (41) berteriak histeris saat tahu hasil tuntutan tersebut.

Keluarga korban pun berseru tidak terima.

Mereka tetap menuntut hukuman penjara seumur hidup bahkan hukuman mati sesuai dengan Pasal 340 KUHP jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana, tanpa mempertimbangkan undang-undang perlindungan anak.

Bagi mereka, kedua tersangka sudah bukan lagi anak-anak mengingat keduanya memang merencanakan pembunuhan ini.

4. Keluarga Korban Mengamuk

Sidang pembacaan tuntutan jaksa membuat ruang sidang berlangsung ricuh.

Selama persidangan pihak keluarga korban meneriaki kedua tersangka, FL (16) dan OU (17) dari luar ruangan.

"Jangan nangis kalian! Sudah mati kakak saya mau berulah apa lagi kalian?" teriak Katrintje Werupangkey, adik kandung mendiang Alexander.

Kedua tersangka terlihat terus menunduk sepanjang proses di dalam ruangan persidangan.

Bahkan keduanya sempat menangis saat dibacakan tuntutan jaksa.

Suasana semakin memanas ketika kedua tersangka keluar dari ruang persidangan.

Pihak korban berusaha mengejar kedua tersangka namun keduanya berhasil diamankan dan langsung dibawa lari oleh oleh Buruh Sergap Tim Paniki Polresta Manado menuju mobil yang menuju Rutan Malendeng.

Tidak berhasil mengejar tersangka, keluarga korban kembali masuk dan berusaha mencari jaksa untuk menuntut keadilan. Namun jaksa tetap tidak dapat ditemui.

"Kakak saya seorang pendeta, dibunuh dengan sadis dan tersangka hanya dihukum sepuluh tahun penjara sudah tidak adil ini jaksa!" teriak Katrin di lorong depan Ruang Sidang Kartika.

Namun pihak keluarga cukup kooperatif, tetap mau mengikuti proses persidangan hingga selesai.

Keluarga korban yang menunggu di depan pintu ruang sidang, teriak-teriak tidak terima tuntutan jaksa

"Kami tidak terima dengan hasil sidang tuntutan ini. Dua terdakwa hanya dikenakan hukuman 10 tahun dan 7 tahun. Seharusnya yang menikam harus diberatkan hukumannya," kata Willem Mononimbar, keluarga korban.

Lanjutnya, ini kasus pembunuhan yang sudah direncanakan oleh terdakwa. Kenapa harus dibela lagi terdakwanya.

"Jangan sampai mereka keluar, dan kembali membunuh guru lagi," ujarnya.

Sidang tuntutan tersebut, dikawal ketat anggota Resmob Polresta Manado dan Tim Paniki Rimbas I Polresta Manado.

Wartawan pun dilarang masuk ke dalam ruang sidang anak yang sedang berlangsungnya sidang tuntutan tersebut.

Terpantau keluarga korbanpun berada di depan ruang sidang, sambil teriak-teriak, bunuh saja mereka.

"Kakak kami mengajarkan kalian untuk tidak merokok di sekolah, tetapi kenapa kalian bunuh kakak kami," teriak keluarga korban.

Lanjutnya, kakak kami sudah meninggal, terus apa lagi yang akan kalian buat.

"Kakak saya sudah teriak-teriak dalam nama Yesus, dalam nama Yesus, tapi kalian tetap bunuh," ucap keluarga korban.

5. Sistem Peradilan Anak

Persi Lontoh, penasihat hukum tersangka mengatakan hal tersebut sudah sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

"Kalau dilihat dari tuntutan JPU menurut kami sudah sesuai dengan aturan, karena memang kasus ini harus menggunakan sistem peradilan anak," ujarnya saat ditemui di Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri Manado (Pos Bakum PN Manado), Selasa (26/11/2019).

Berdasarkan Pasal 340 KUHP jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana pelaku bisa diancam hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Namun perlu diingat, FL dan OU merupakan anak di bawah umur.

Sehingga tuntutan maksimal yang berlaku adalah setengah dari hukuman penjara seumur hidup, yakni sepuluh tahun dari 20 tahun.

Menurut Persi, kedua pelaku selama ini cukup kooperatif sehingga tidak ada hal lain yang memberatkan.

"Saya rasa peradilan ini sudah sangat adil dan sudah sangat obyektif. Jaksa sudah melakukan pemeriksaan saksi dan terdakwa juga mengakui perbuatannya, sehingga sekarang kita tinggal menunggu hasil putusan Majelis Hakim," tutup Persi.

Persidangan akan kembali digelar Senin (2/12/2019) dan akan menjadi sidang terakhir dengan agenda pembacaan putusan Majelis Hakim.

Alexander Werupangkey, Guru SMK Ichthus Manado
Alexander Werupangkey, Guru SMK Ichthus Manado (ISTIMEWA)

Hasil Rekonstrusi

Sebelumnya, rekonstruksi kasus penusukan Alexander Werupangkey (54) guru SMK Ichthus digelar oleh Tim Penyidik Polresta Manado, Sulawesi Utara, pukul 11.22 Wita.

Pelaku FL dan OU, murid korban melakukan reka adegan bersama pemeran korban pada Senin (28/10/2019).

Rekonstruksi dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP) yaitu komplek SMK Ichthus, Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Kedua pelaku melakukannya menggunakan baju tahanan berwana orange dengan nomor 27 dan 05.

 Tidak hanya menghadirkan dua pelaku dan pemeran korban, rekonstruksi juga menghadirkan enam saksi.

Tiga guru SMK Inchthus, satu penjaga sekolah, satu siswa SMK, dan satu guru dari sekolah lain.

Dalam rekonstruksi, pelaku menusuk korban hingga berkali-kali.

Tak hanya mengalami penusukan, korban juga menerima pengeroyokan oleh FL dan OU.

Pada adegan 12, FL (16) menusuk korban.

Korban ditusuk di atas motor saat hendak keluar dari halaman sekolah.

Lalu korban melepaskan motornya dan hendak masuk ke area sekolah.

Namun FL langsung menusuknya dari belakang.

Korban mencoba menghindar dan berlari masuk halaman sekolah.

Dalam rekonstruksi ini korban sempat melakukan perlawanan hingga pisaunya jatuh ke tanah.

Pada adegan ini, pelaku OU (17) masuk menghampiri FL.

OU ikut memukul dan melakukan pengeroyokan kepada korban setelah mendapat ajakan dar FL.

Pada adegan 20 pelaku menikam korban sebanyak tujuh kali.

Tidak berhenti disitu, saat korban merasa terpojok FL melakukan tikaman sebanyak tiga kali.

FL dan OU meninggalkan korban saat terkapar di tanah.

Kasus murid menikam guru di Manado ini telah menjadi sorotan.

Selama rekonstruksi berlangsung, banyak masyarakat berkerumun menyaksikan reka adegan itu.

Diberitakan sebelumnnya, peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa (22/10/2019) silam.

Pelaku mengaku emosi kepada korban yang merupakan guru di sekolahnya.

Pelaku tidak terima dirinya ditegur oleh Alexander Werupangkey saat merokok. (Tribunmanado.co.id/Fit/Ind/Juf/Ald)

Tonton:

Penulis: Indry Panigoro
Editor: Indry Panigoro
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved