Jalan Tengah Untuk FPI

Makna demokrasi adalah berpendapat dengan kepala dingin. FPI memang telah mampu menaklukkan hati Fachrul Razi (Kemenag), sehingga SKT terbit.

Jalan Tengah Untuk FPI
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Alumnus Univeraitas al Azhar Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Wakil Ketua Rabithah ma'ahid Islamiyah- asosiasi pondok pesantren se Indonesia- Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) periode 2010-2015. 

Tentu tidak serta mengubah dengan mendeletenya, tetapi harus terlebih dahulu melalui mekanisme kongres internal organisasinya.

Kedua, kita juga mau merangkul FPI asalkan mengubah metode dakwahnya yang lebih menekankan strategi nahi mungkar.

Untuk apa ada UUD ’49 dan seluruh aturan perundang-undangan turunannya jika konsep nahi mungkar FPI berbeda dengan undang-undang negara. FPI hanya akan merecoki jalannya negara dan pemerintahan.

Potensi destruktif, kekerasan fisik dan verbal, akan terus menghantui. Nahi mungkar harus diarahkan ke strategi yang persuasif.

Ketiga, FPI harus duduk dengan kepala dingin bersama ormas-ormas lain, misalnya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lainnya. Bersama-sama menyatukan persepsi dalam membangun bangsa dan negara.

Menyatukan persepsi untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Apa susahnya bekerjasama antar organisasi atau kerjasama antara ormas dan pemerintah jika tujuannya sama: membangun bangsa dan negara?

Hemat penulis, inilah jalan tengah dari kemelut perizinan FPI.

Jika demokrasi kita maknai sebagai berpendapat dengan kepala dingin, tentu saja FPI tidak hanya akan mampu melunakkan hati Kemenag, melainkan seluruh elemen pemerintah (Kemendagri dan Kemenko Polhukam) dan masyarakat (Ormas-ormas Islam).

52.000 cuitan netizen yang menolak keras SKT FPI bukan saja suara umat muslim. Ini harus dicatat.

Halaman
1234
Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved