Tajuk Tamu Tribun Manado

Sulawesi Utara Terancam Kekurangan Petani

Bagi kaum milenial, sektor pertanian dianggap sebagai lapangan usaha yang tidak menguntungkan. Kerja fisik yang sangat berat dengan keuntungan sedikit

Sulawesi Utara Terancam Kekurangan Petani
TRIBUNMANADO/VENDI LERA
Aktivitas petani di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. 

Oleh:
M Bayu Prakoso A
Statistisi Ahli Pertama BPS Kota Manado

SEKTOR pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian Sulawesi Utara. Akan tetapi dalam lima tahun terakhir sektor pertanian seakan terseok mengejar cepatnya sektor lainnya. Walaupun tetap menjadi kontributor utama, kontribusi sektor pertanian mulai menurun dalam lima tahun terakhir (2014-2018).

Berkurangnya kontribusi sektor pertanian ini bisa menjadi pertanda sektor pertanian sudah mulai kurang peminat. Menurut hasil Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) 2018, minat penduduk untuk terjuan di dunia pertanian sebagai petani turun 45 ribu jiwa (16 persen) dari tahun 2013. Tahun 2018 petani di Sulawesi Utara 263.371 jiwa.

Regenerasi petani pun terlihat sepi peminat dari kalangan milenial yang menyebabkan komposisi petani saat ini berada pada masa penuaan. Sebanyak 61 persen petani Sulawesi utara berumur 45 tahun ke atas. Kelompok umur 45-54 tahun mendominasi dengan proporsi sebesar 29 persen dari keseluruhan jumlah petani. Petani generasi baru dengan umur kurang dari 25 tahun, proporsinya kurang dari 4 persen.

Jika ini terus berlangsung tidak menutup kemungkinan dalam dua atau tiga dekade ke depan Provinsi Sulawesi Utara bisa kekurangan petani untuk menggarap usaha sektor pertanian.

Bagi kaum milenial, sektor pertanian dianggap sebagai lapangan usaha yang tidak menguntungkan. Kerja fisik yang sangat berat dengan balas jasa/keuntungan yang dianggap sedikit, tidak bisa membuat mereka melirik sektor ini. Pertanian Indonesia yang masih tradisional pun menjadikan sektor ini dianggap sektor kuno dan tidak keren.

Harga Cengkih Rendah, Pak Tani Amelius Bagi Tips, Petani Harus Berani Ambil Risiko

Benar saja, menurut data yang dikeluarkan oleh BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara di tahun 2018 selalu berada di bawah angka 100. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga komoditas barang hasil pertanian tidak bisa mengimbangi kenaikan harga kebutuhan petani. Dengan kata lain, di tahun 2018 kemampuan daya beli petani Sulawesi Utara untuk memenuhi kebutuhannya bisa dikatakan lebih jelek jika dibandingkan tahun 2012 (tahun dasar dalam perhitungan NTP).

Sebetulnya, ketidaktertarikan banyak pemuda dan berkurangnya jumlah petani di Sulawesi Utara bukanlah suatu permasalahan yang besar. Jumlah petani di negara maju pun biasanya tidak lebih dari 10 persen jumlah keseluruhan penduduknya. Namun untuk mencapai hal ini perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, petani memiliki wawasan yang cukup mengenai pertanian, teknologi dan pasar pertanian. Petani harus mengerti dan memiliki koneksi informasi akan pasar pertanian dan perkembangan teknologi yang digunakan dalam pertanian. Mengetahui kondisi di pasar pertanian dan terlibat langsung di dalamnya bisa menjadi cambuk motivasi untuk terus berbenah dan memnuculkan berbagai inovasi dalam bidang pertanian.

Yasti Ternyata Juga Petani, Tanam Rica dan Coklat

Kedua, konsep pertanian modern (smart farming) harus diterapkan. Kekurangan tenaga kerja di sektor ini nantinya tidak boleh mengganggu produktivitas dan kualitas dari hasil pertanian.

Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved