Tajuk Tamu Tribun Manado

Dilema Kenaikan Cukai Rokok

Pemerintah telah menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen yang akan berlaku mulai 2020 mendatang.

Dilema Kenaikan Cukai Rokok
kontan
ilustrasi cukai rokok 

Oleh:
Titha Aprilliawatie SST
Statistisi Pertama BPS Kota Manado

“LEBIH baik tidak makan nasi daripada tidak merokok”. Kalimat yang seringkali terdengar dari mereka, para perokok.

Rokok tampaknya sudah menjadi kebutuhan primer bagi para pecandunya. Porsinya terhadap total pengeluaran pun tak main-main.

Berdasarkan data hasil Susenas September 2018, misalnya, pengeluaran rata-rata per kapita sebulan untuk kelompok tembakau dan sirih mencapai 5.90 persen dari seluruh total pengeluaran, sedangkan untuk kelompok padi-padian, yang notabene merupakan makanan pokok, hanya sebesar 5.54 persen.

Menarik, jika kemudian harga rokok diwacanakan akan mengalami kenaikan karena imbas kenaikan cukai rokok. Apakah rokok akan tetap menjadi yang pertama?

Pemerintah telah menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen yang akan berlaku mulai 2020 mendatang. Ketentuan tersebut termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan No 152/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK No 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Tanggapan Bea Cukai Manado Mengenai Kenaikan Pajak Cukai Cairan Vape dan Rokok

Meskipun akan mengundang adanya pro dan kontra, kebijakan ini didasarkan pertimbangan bukan hanya terkait pendapatan negara yang ditargetkan akan meningkat namun juga didasarkan pertimbangan tentang upaya pengurangan konsumsi rokok dan pengaturan industri rokok.

Data dari Kementerian Keuangan pada rentang waktu 2015-2018, penerimaan cukai hasil tembakau memiliki tren yang cenderung meningkat setiap tahun dan mendominasi hingga mencapai 95 persen total penerimaan cukai. Pada tahun 2018, penerimaan cukai Indonesia sebesar Rp 159.6 triliun, di mana Rp 152.9 triliun di antaranya merupakan penerimaan dari cukai hasil tembakau.

Dengan rencana kebijakan kenaikan cukai rokok ini, pendapatan dari cukai ditargetkan mencapai Rp 180.5 triliun pada 2020.

Gara-gara Rokok Elektrik, Pemuda 17 Tahun Ini Harus Jalani Cangkok Paru-paru Ganda

Selain dari segi makroekonomi, kebijakan ini diharapkan mampu menurunkan angka konsumsi rokok, terlebih bagi pelajar dan anak di bawah umur. Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di ASEAN dan ketiga di dunia. Lebih mengejutkannya lagi, para perokok didominasi oleh mereka yang berada pada kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Kebijakan kenaikan cukai rokok juga harus didukung dengan kebijakan lanjutan. Misalnya, penegakan aturan pelarangan merokok di tempat umum. Saat ini, sudah banyak tempat memberlakukan aturan tersebut, namun kemudian menjadi tidak efektif karena belum adanya efek jera yang nyata bagi para pelanggarnya.

Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved