Anggota TNI

16 Ribu TNI Terpapar Radikalisme, Prabowo & Panglima TNI tak Bisa Jawab, PKS: Republik Bisa Bubar 

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS Sukamta justru meragukan informasi yang diterima oleh Ryamizard Ryacudu tersebut.

16 Ribu TNI Terpapar Radikalisme, Prabowo & Panglima TNI tak Bisa Jawab, PKS: Republik Bisa Bubar 
twitter @Prabowosubianto
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat kunjungan ke Mabes TNI, Rabu (30/10/2019) diterima Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Tampak di belakangnya, mobil yang ditumpangi Prabowo. 

TRIBUNMANADO.CO.ID -  16 ribu dari 550 ribu Anggota TNI disebut terpapar radikalisme.

Hal ini pernah diungkap Mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyatakan adanya angka tiga persen prajurit TNI terpapar radikalisme.

Data tersebut pun ditanyakan Anggota DPR dari PKS keMenteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto.

Namun, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto tak bisa menjawab dengan jelas dan tegas terkait data adanya 3 persen personel TNI yang terindikasi terpapar radikalisme.

Rizieq Shihab dan Prabowo
Rizieq Shihab dan Prabowo (Kolase TribunNewsmaker - Tribunnews)

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS Sukamta justru meragukan informasi yang diterima oleh Ryamizard Ryacudu tersebut.

"Waktu rapat dengan Menhan (Prabowo Subianto), dengan Panglima TNI (Marsekal Hadi Tjahjanto), saya tanyakan sebetulnya.

Tapi ternyata tidak ada jawaban yang clear data itu darimana atau definisinya apa," ujar Sukamta, di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin.

Sukamta mengatakan tiga persen dari jumlah anggota TNI yakni 550 ribu adalah 16 ribu tentara.

Politikus PKS tersebut pun mengungkapkan bila jumlah itu benar terpapar radikalisme, maka dapat membahayakan Tanah Air.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bercanda setelah menyalami Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kamis (31/10/2019).
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bercanda setelah menyalami Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kamis (31/10/2019). ((Rusman-Biro Pers Sekretariat Presiden))

Sebab, kata dia, ketika menangani teroris yang jumlahnya tak mencapai 10 orang, masyarakat pasti akan geger.

Apalagi menghadapi 16 ribu tentara yang terpapar radikalisme.

"Bayangkan kalau 16.000 tentara itu terpapar radikalisme, angka yang besar sekali.

Republik ini bisa bubar oleh 16.000 tentara.

Saya khawatir ini data yang tidak valid. Ini sudah saya tanyakan di Rapat Komisi I, tapi tidak ada jawaban yang pasti," tandasnya.

Editor: Aldi Ponge
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved