HARI GURU NASIONAL
HARI GURU NASIONAL, Ini 3 Kasus Guru Dibunuh Siswanya, Nomor 2 Berawal dari Goresan Cat
Bukannya mendapat penghargaan dari siswa yang mereka ajar, guru-guru berikut ini malah tewas ditangan siswanya
Penulis: Indry Panigoro | Editor: Indry Panigoro
TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari Guru Nasional diperingati setiap tahun pada tanggal 25 November.
Untuk tahun ini, Hari Guru Nasional jatuh pada hari ini Senin (25/11/2019).
Diketahui Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru.
Hal itu karena guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah yang tak kenal lelah untuk memberi pengetahuan.
Saking pentingnya guru, guru sampai mendapat julukan pahlawan tanpa jasa.
Hal ini pun membuat murid-murid memberikan apresiasi terhadap guru-gurunya.
• Hari Guru Nasional, 5 Puisi Karya Para Tokoh untuk Peringati Hari Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Ini
Terlebih ketika murid itu sukses setelah lulus sekolah, merekapun akan mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada para guru yang telah mendidik mereka.
Namun berbeda dengan guru-guru berikut ini.
Bukannya mendapat penghargaan dari siswa yang mereka ajar, guru-guru berikut ini malah tewas ditangan siswanya.
Siapa saja mereka? Berikut 3 kasus guru dibunuh siswanya yang dirangkum Tribunmanado.co.id dari berbagai sumber.
• Terima Kasih Telah Memenuhi Pertanyaan Konyolku, Aku Doakan Yang Terbaik Untuk Selamanya Guruku
1. Gara-gara Ponsel Disita, Siswa SMP Gorok Gurunya hingga Tewas

Dilansir dari merdeka.com dari surat kabar the Daily Mail, seorang siswa SMP menggorok leher gurunya hingga tewas dalam sebuah aksi balas dendam setelah telepon seluler (ponsel) miliknya disita oleh gurunya yang bernama Sun Wakang.
Pelajar itu, diketahui bernama Lei dari laporan media lokal.
Menurut informasi, Lei ketahuan gurunya sedang memainkan ponsel.
Sun Wakang, saat pelajaran kimia di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Fuzhou, sebelah timur laut Provinsi Jiangxi, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Senin (25/11/2019).
Pada hari berikutnya Lei pergi ke kelas Sun.
Saat itu sang guru sedang duduk sambil bersiap-siap memulai pelajaran.
Siswa itu langsung melakukan kekerasan kepada pria 32 tahun.
• Sejarah Hari Guru Nasional: Dari Zaman Hindia Belanda 1912 Hingga Tahun Kemerdekaan 1945
Alhasil, Sun Wakang alangsung meninggal di lokasi kejadian
Sesudah itu Lei dilaporkan melarikan diri.
Pejabat sekolah, Xiong Haishui, mengatakan Sun telah bekerja sebagai guru kimia di Sekolah Menengah Linchuan No. 2 selama lima tahun sebelum insiden pembunuhan brutal itu.
Sun dikabarkan mengambil ponsel Lei setelah bocah sadis itu menggunakannya selama jam pelajaran. Tetapi ponsel itu sudah dikembalikan setelah pulang sekolah.
Meskipun demikian, Lei menyerang Sun di saat sang guru itu sedang menyiapkan pelajaran di kelas. Insiden ini terjadi hanya empat hari setelah peringatan Hari Guru di China, sebuah hari nasional yang digunakan para siswa untuk menghormati guru mereka.
Para pejabat mengatakan seorang guru lainnya sempat mendengar teriakan Sun setelah insiden itu dan langsung memanggil layanan darurat. Tetapi nahas, guru Sun sudah meninggal sebelum ambulans tiba.
Di China, sekolah menengah pertama terdiri dari anak-anak usia tujuh hingga sembilan tahun, dan siswa sepuluh sampai 12 tahun, sebelum mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Sekolah Menengah Linchuan No. 2 adalah salah satu sekolah terbaik di Provinsi Jiangxi dan memiliki salah satu universitas dengan tingkat penerimaan tertinggi di wilayah itu.
2. Berawal dari Cat, Guru Seni Dihajar Siswanya

Penganiayaan berujung maut yang dilakukan seorang murid SMAN 1 Torjun, HI (170 kepada gurunya, Ahmad Budi Cahyono (26) memunculkan berbagai versi di publik.
Untuk meluruskan hal itu, Polres Sampang menggelar konferensi pers pada Jumat (2/2/2018) malam, di Mapolres Sampang, Jawa Timur.
Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman mengatakan, banyak informasi simpang siur beredar di masyarakat. Bahkan, ada pula pihak yang langsung mempublikasikan kejadian, meski belum mengetahui detail kejadiannya.
Berikut kronologi penganiayaan HI terhadap sang guru yang disampaikan Budi:
1. Pada Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 13.00, korban mengisi pelajaran seni melukis di halaman depan kelas XII. Semua siswa diberi tugas melukis. Pelaku tidak menghiraukan apa yang ditugaskan korban.
2. Korban kemudian menegur pelaku agar mengerjakan tugas seperti temannya yang lain. Teguran itu tetap tidak dihiraukan pelaku.
3. Karena teguran tidak dihiraukan, korban kemudian menggoreskan cat ke pipi pelaku.
4. Pelaku tidak terima dan mengeluarkan kalimat tidak sopan.
5. Karena tidak sopan, korban memukul pelaku dengan kertas absen.
6. Pukulan itu ditangkis pelaku dan langsung menghujamkan pukulan ke pelipis sebelah kanan korban. Akibatnya, korban tersungkur.
7. Murid yang lain melerai pelaku dan korban.
8. Korban bangun setelah terjatuh. Lengan kiri korban lecet karena menahan tubuhnya saat terjatuh.
9. Seusai kejadian tersebut, seluruh siswa masuk kelas. Di dalam kelas, pelaku sempat meminta maaf kepada korban disaksikan murid-murid yang lain.
10. Setelah pelajaran usai, korban dan pelaku pulang ke rumahnya masing-masing. Korban masih sempat bercerita kepada kepala sekolah tentang kejadian pemukulan yang dilakukan muridnya.
11. Setiba di rumah, korban langsung istirahat karena mengeluh pusing dan sakit kepala. Sekitar pukul 15.00, korban dibawa ke Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang. Karena pihak Puskesmas tidak mampu menangani, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit daerah Kabupaten Sampang. Korban kembali dirujuk ke rumah sakit DR Soetomo, Surabaya.
12. Pihak rumah sakit kemudian menangani korban dan korban dinyatakan mengalami mati batang otak (MBO), yang menyebabkan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi. Dokter memprediksi, korban tidak akan hidup lama.
13. Sekitar pukul 21.40, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban kemudian langsung dibawa pulang ke rumahnya di Sampang.
"Saya luruskan, tidak ada penghadangan korban oleh pelaku setelah jam pulang sekolah. Kejadian penganiayaan yang sebenarnya di depan halaman kelas," kata Budi.
Ia berharap, tidak ada lagi informasi simpang siur mengenai peristiwa ini.
"Polres Sampang terus mendalami kasus ini dan pelaku sudah ditahan. (Jumat) malam ini (pelaku) sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujarnya.
Meski termasuk kategori di bawah umur, HI tetap dikenakan Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.(Kontributor Pamekasan, Taufiqurrahman)
Berita ini Sudah tayang di Kompas.com dengan judul: Penganiayaan Guru oleh Siswa di Sampang, Begini Kronologinya...
3. Guru SMK Ichthus Manado Tewas Ditikam Murid

Seorang guru, Alexander Werupangkey (54) tewas ditikam muridnya sendiri seusai tegur sang murid yang merokok di lingkungan SMK Ichthus di Manado, Senin (21/10/2019).
Kini izin operasional SMK Ichthus dicabut sehingga para murid kemungkinan akan dimutasi.
Diketahui, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.30 WITA di Kompleks SMK Ichthus, Mapanget Barat Lingkungan I, Kecamatan Mapanget.
Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Auri dan dirujuk ke Rumah Sakit Malalayang.
Namun, dokter mengabarkan korban meninggal dunia pada malam harinya.
Terdapat dua tersangka dalam kasus ini, mereka berinisial FL (16) dan OU (17).
Akibat tindakan kejinya, FL dijerat Pasal 340 KUHP, sedangkan OU dijerat Pasal 340 KUHP subsider 338 KUHP jo Pasal 55 dan 56 KUHP.
Kronologi Kejadian
Kapolresta Manado Kombes Pol Benny Bawensel, ketika diwawancarai awak media, Selasa (22/10/2019) siang, sekitar pukul 14.30 Wita, mengatakan, bahwa kasus ini sedang ditangani Polresta Manado.
"Jadi, kronologis kejadian ini, berawal, Senin (21/10/2019) pagi, tersangka FL (16) warga Kelurahan Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut, dan satu temannya terlambat masuk sekolah," kata Bawensel.
Lanjutnya, tersangka dan temannya itu diberi sangsi untuk menanam bunga di plastik.
Foto. Tribun Manado/Jufry Mantak. Kapolda Sulut temui tersangka pembunuh Guru SMK Ichthus. (jufry mantak/tribun manado)
"Setelah selesai melaksanakan sangsi, mereka berdua duduk di halaman sekolah, sambil merokok," ucap Kapolresta.
Perilaku kedua siswa itu dilihat oleh korban yang merupakan guru agama mereka.
"Di situlah, korban menegur tersangka dan temannya, agar tidak merokok," ujarnya.
Tersangka tak terima dengan teguran tersebut.
Sehingga siswa kelas XI itu pergi ke rumahnya untuk mengambil pisau jenis stanlis.
Saat tersangka kembali ke sekolah, dia bertemu dengan korban yang saat itu sudah berada di atas sepeda motor.
Seketika, tersangka langsung menikam korban berulang kali.
"Korban terjatuh dari sepeda motornya dan lari ke halaman sekolah, sambil minta pertolongan," ujar Bawensel.
Sayangnya tersangka terus mengejar korba dan kembali menikam korban berulang kali saat di halaman sekolah.
"Meski sudah kena tikam, korban sempat berdiri, dan kembali berjalan keluar dari halaman dan meminta pertolongan kepada guru lainnya," ujarnya.
Setelah puas menikam korban, tersangka, langsung lari dari lokasi kejadian.
"Korban dilarikan ke rumah sakit Auri, dan dirujuk ke rumah sakit Malalayang. Namun sayangnya, korban meninggal dunia di rumah sakit Malalayang," jelasnya.
Tersangka saat ini sudah dibawa ke Polresta Manado untuk proses lanjut.
"Memang tersangka dibawa umur, tapi untuk proses kasusnya, kami mengenakan KUHP pasal 340 terhadap tersangka, dengan ancaman 20 tahun penjara," tegasnya.
Motifnya hanya karena tersangka tidak terima teguran dari korban.
"Tersangka memang ada pengaruh alkohol semalam. Saat itu, korban tegur tersangka jangan merokok, dan tersangka sakit hati, pergi mengambil pisau di rumahnya, dan kembali menikam korban," jelasnya.
Itulah 3 kasus guru dibunuh siswanya. (Tribunmanado.co.id/Indri Fransiska Panigoro)
Tonton: