News

Kisah Dolov Tukang Pijat yang Melegenda, Sembuhnya Patah Tulang Parah, Pasien Rela Datang dari Jauh

Sudah tak terhitung lagi jumlah pasien yang pernah dirawat Om Dolov, sapaan akrabnya.

andrew pattymahu/tribun manado
Kisah Dolov Tukang Pijat yang Melegenda, Sembuhnya Patah Tulang Parah, Pasien Rela Datang dari Jauh 

"Ada aturan dan pantangan yang harus mereka laksanakan. Seperti mereka harus puasa sebelum diurut, tidak boleh makan lemon, tidak boleh terkena air, tidak boleh makan sembarangan, atau tidak boleh minum-minuman beralkohol, karena akan membahayakan dan berpengaruh pada tulang yang akan diurut," kata dia.

Menurut Opa, tak jarang ada pasien yang disuruh pulang lantaran tak mau ikuti aturan tersebut.

"Kalau mereka tak ikut aturan, ya saya suruh pulang, karena itu untuk kebaikan mereka juga," ucapnya.

Opa Jos menambahkan, biasanya pasien disuruh menginap, supaya bisa terkontrol apa yang dikonsumsi oleh pasien ataupun bisa ditangani rutin.

"Biasanya saya urut pagi dan sore terus setiap hari, sampai selesai pengobatan, dan jika mereka sudah berusaha untuk berjalan itu lebih bagus," kata Opa.

Namun untuk pertama kali yang dilakukan adalah pembetulan tulang yang patah.

"Pertama itu, saya perbaiki susunan tulang yang patah, selanjutnya adalah perawatan sampai dipastikan pasien sembuh," ujarnya.

Diceritakannya, pernah ada pasien yang sudah patah tulang selama satu tahun.

"Pasien tersebut datang dan minta diurut, namun sudah patah tulang sejak satu tahun. Nah, itu susah sebab tulangnya sudah terbungkus daging, ya terpaksa harus diberikan alat dan menemukan susunan, untuk disambung kembali dan akhirnya berhasil, waktu penyembuhan itu sekitar dua bulan," ujarnya.

Tak ada bahan spesial yang digunakan untuk mengurut, hanya minyak kelapa buatan sendiri yang digunakan, serta keterampilan yang mumpuni. "Lemon juga, jika sudah sembuh," jelasnya.

Tak terhitung lagi jumlah pasien yang datang berobat dan berhasil disembuhkan, baik dari pejabat, hingga dokter juga pernah disembuhkannya.

"Untuk biaya saya tidak tentukan tarifnya, terserah dari mereka, seberapapun yang mereka berikan saya terima dengan ikhlas," jelas dia.

Omongan orang

Sementara itu, menurut dr Oktavin Umboh, Kepala Puskesmas Teling Atas, Manado, pengobatan alternatif menjadi sangat populer di desa terpencil. Mereka lebih mempercayai dukun dibandingkan dokter.

Menurut Umboh, beberapa faktor penyebab di antaranya bisa jadi dikarenakan kebiasaan, kepercayaan, adat istiadat.

Selain itu, tergantung keadaan di mana kebanyakan masyarakat di daerah terpencil mengalami sakit, namun tak kunjung sembuh. Mungkin kekurangan peralatan medis, jadi mereka lebih memilih pengobatan alternatif seperti ke dukun.

Bisa jadi juga karena di desa terpencil tersebut, kebanyakan pendidikannya kurang, jadi masih terpengaruh oleh omongan orang ataupun mitos. Menurutnya, kalau pergi ke dukun itu juga harus mengeluarkan uang.

Tapi karena sudah menjadi kebiasaan dan terlalu mempercayai orang. Jadi mereka lebih mempercayai dukun dibandingkan dokter.

Sebagai dokter, dia sama sekali tidak mempercayai dukun, karena itu bisa jadi hanya akal-akalan mereka untuk bisa meraih keuntungan.

Penulis: Andrew_Pattymahu
Editor: Maickel_Karundeng
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved