Kisah Tokoh

Kisah Aipda Andrew Maha Putra, Polisi Berkaki Palsu yang Berjibaku dalam Penangkapan Santoso

Aipda Andrew Maha Putra menjadi korban penembakan oleh kelompok Santoso di perbukitan wilayah Salogose, Sausu, Sulteng, pada 31 Desember 2018.

Kisah Aipda Andrew Maha Putra, Polisi Berkaki Palsu yang Berjibaku dalam Penangkapan Santoso
Zaenal Nur Arifin/Tribun Bali
Aipda Andrew Maha Putra memasang kaos pada khaki palsunya saat beraktivitas di Polda Bali, Senin (18/11/2019). Aipda Andrew harus menggunakan kaki palsu setelah kaki kanannya diamputasi akibat ditembak kelompok teroris Santoso. 

Aipda Andrew dan Bripda Baso langsung dievakuasi ke mobil patroli.

Sempat dibawa ke Puskesmas Sausu, tetapi karena kondisi luka yang cukup parah akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara Palu yang ditempuh selama 9 jam.

Tiba di RS Bhayangkara Palu, kami langsung mendapat penanganan medis oleh dokter.

“Sempat dirawat selama 5 hari di ICU, kondisi saya justru semakin memburuk dan akhirnya saya sendiri meminta untuk dirujuk ke RS Sanglah, Denpasar,” imbuh Aipda Andrew.

“Kenapa saya meminta dirujuk ke RS Sanglah? Bayangan saya waktu itu pasti akan mati.

Kalau mati di RS Sanglah, setidaknya saya tidak menyusahkan keluarga. Syukur saya bisa melewati cobaan tersebut,” sambungnya.

Info BMKG: Peringatan Dini Hari Ini Selasa 19 November 2019, Wilayah yang Terkena Gelombang Tinggi

Syok Diamputasi

Dokter di RS Sanglah menilai bahwa luka tembak di kaki Aipda Andrew sudah infeksi.

Apabila tidak diamputasi akan menyebabkan kematian karena sudah tidak ada aliran darah ke kaki bagian bawah.

“Saya langsung syok dan sedih mendengar penjelasan dokter.

Saat itu juga saya bersama keluarga memutuskan dan menyetujui dilakukan operasi amputasi di atas lutut tanggal 17 Januari 2019.

Saya sudah dioperasi sebanyak 8 kali untuk mengangkat serpihan peluru,” tuturnya.

Semangat hidup Aipda Andrew datang dari istri dan ketiga anaknya, Putu Ayu Rania Putri (5), Made Ngurah Satya Putra (3) dan Ngurah Arya Wiguna (7 bulan).

Ia tetap semangat melaksanakan tugas meskipun menggunakan kaki palsu.

“Saya berjalan harus pelan-pelan. Akibat kaki dipotong di atas lutut maka saya jalan harus menggunakan pinggul,” ungkapnya.

Ia mengaku bahwa kaki palsu yang digunakannya sangat tidak nyaman sehingga sering merasa nyeri.

Rasa nyeri itu dirasakan setiap hari sehingga mengganggu waktu tidurnya.

“Saya berharap rasa sakit ini segera hilang. Saya juga mohon dukungan dan perhatian dari pimpinan agar lebih semangat melaksanakan tugas sehari-hari.

Saya menjadi tulang punggung di keluarga, istri juga belum bekerja sejak saya pindah ke Bali,” tambahnya. (zaenal nur arifin)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Subcribe Youtube Tribun Manado Official:

Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved