Turis Sibuk Berfoto saat Merapi Erupsi: Kini Warga Tidak Mudah Panik
Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY kembali menunjukkan geliatnya. Merapi kembali erupsi dan melontarkan awan panas
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY kembali menunjukkan geliatnya. Merapi kembali erupsi dan melontarkan awan panas sejauh 1000 meter.
Kepala Desa Glagaharjo, Suroto saat dihubungi mengatakan bahwa masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Kondisi Gunung Merapi yang sering aktif malah justru membuat masyarakat semakin terbiasa.
• Kecewa Vonis Kasus First Travel: Begini Penjelasan Jaksa Agung
"Sampai hari ini warga masyarakat masih tetap aman, artinya belum lari mengungsi. Justru dengan seringnya Gunung Merapi seperti ini, masyarakat tidak berpikir ke erupsi besar. Karena sedikit-sedikit sudah keluar, secara logika masyarakat mikirnya seperti itu," ujarnya.
Namun demikian, pihaknya terus menekankan kepada masyarakat untuk tetap waspada. Yang dirasakan sekarang adalah ketika ada letusan, masyarakat memang sempat keluar rumah dan turun ke jalan.
Tapi setelah memantau kondisi Gunung Merapi, mereka langsung melanjutkan aktivitas keseharian seperti biasa. "Kami belajar pengalaman dari yang dulu-dulu. Saat ini warga tidak panik," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat, Dardiri mengatakan Gunung Merapi aktif di jam wisatawan banyak yang berkunjung. Dengan kondisi seperti ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengabadikan moment aktivitas Merapi.
"Driver juga tidak panik, tetap santai dan mengajak wisatawan untuk turun. Tapi dengan kondisi seperti ini justru dimanfaatkan untuk mendapatkan momen dengan berfoto. Tentu di jarak yang aman," jelasnya.
Adapun wisata jeep jangkauan tertingginya sampai di bunker yang jaraknya 5,5 km dari puncak Gunung Merapi. Jarak itu masih di luar kawasan rawan bencana yakni 3 km.
Bahkan menurutnya, dengan kondisi Gunung Merapi membuat wisata jeep semakin populer. Dari pantauannya, 800 jeep masih terus beroperasi tiap harinya. Jika diasumsikan setiap jeep dalam sehari melakukan perjalanan sekali dengan empat tamu, maka dalam seminggu sudah ada 22 ribu lebih kunjungan wisatawan.
"Setiap driver juga dibekali HT, jadi setiap ada aktivitas Merapi kita bisa saling memantau perkembangan," paparnya.
Kabid Kedaruratan Dan Logistik BPBD Sleman, Makwan menjelaskan usai letusan pagi itu, tidak terpantau hujan abu di wilayah Sleman, khususnya di wilayah lereng Merapi seperti di Cangkringan dan Turi.
• Batik Air Mendarat Darurat: KNKT Selidiki Pilot Pingsan
Warga pun tetap tenang dalam merespon kondisi Gunung Merapi pagi itu. "Kaliurang juga akvitias seperti biasa, tenang dan tidak terpantau abu vulkanik," jelasnya.
Hujan Abu
Hujan abu turun akibat letusan Gunung Merapi terjadi di dua desa di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yakni, Desa Sumber dan Keningar. Hujan abu turun secara tipis dan jangka waktu yang singkat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto, mengatakan meski turun hujan abu, aktivitas masyarakat tetap berjalan normal seperti biasanya. Tidak ada dampak yang signifikan akibat hujan abu tersebut.
"Update terakhir pukul 11.30 WIB tadi. Hal tersebut berdasarkan dari informasi dan laporan masyarakat. Dampak dari letusan awan panas tadi, hujan abu turun di Desa Sumber dan Desa Keningar, Kecamatan Dukun," kata Edy.
Meski terjadi erupsi lagi dan awan panas setinggi 1.000 meter, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengimbau warga tetap tenang dan waspada serta terus mengikuti perkembangan informasi aktivitas Gunung Merapi dari sumber terpercaya.
Luncuran awan panas terjadi menurut BPPTKG karena ada material kubah lava yang ikut terbongkar. Selain itu, disampaikannya potensi bahaya saat ini masih sama yakni awan panas.
"Potensi bahaya saat ini masih sama yaitu berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif," tulis petugas dari BPPTKG. Selain itu masih adanya suplai magma yang ditandai adanya gempa vulkanik dan adanya akumulasi gas.
Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat terjadinya letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY Pukul 10.46 WIB dengan tinggi kolom asap 1000 meter ke arah barat. Letusan kali ini terjadi selama 155 detik dengan amplitudo maksimal 70 mm.
Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan berdasarkan pantauan Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) situasi di lapangan aman terkendali. "Berdasar pantauan Pusdalops BNPB situasi di lapangan aman terkendali dan tidak ada dampak yang berarti," kata Agus.
• Baim Wong Ibah dengar Pengakuan Mantan Satpam yang Curi Motor: Saat Itu Kelihatannya Tulus
Untuk itu, Agus mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan mengikuti rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)."Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti rekomendasi dari PVMBG," kata Agus.
Kepala PVMBG Kasbani menjelaskan terdapat lima rekomendasi dari pihaknya terkait letusan Gunung Merapi tersebut. Pertama adalah potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
Kedua, area dalam radius 3 Km dari puncak Gunung Merapi agar tidak ada aktivitas manusia. "Tidak ada peningkatan status. Masih level 2, waspada dengan daerah bahaya dalam radius 3 Km dari puncak," kata Kasbani.
Ketiga, masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awan panas maupun letusan eksplosif. "Keempat, masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi," kata Kasbani.
Terakhir, informasi aktivitas GunungMerapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).
Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko, mengungkapkan situasi terkini terkait sebaran debu vulkanik dari letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY sebaran debu vulkanik sudah tidak terdeteksi lagi pada Satelit Cuaca Himawari sejak pukul 13.00 WIB. "Sebaran debu vulkanik sudah tidak terdeteksi atau dengan kata lain kondisinya sudah clear," kata Hary.
Bandara Aman
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan operasional penerbangan di Bandara Adisutjipto (JOG) dan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (YIA) berjalan normal sejak meletusnya Gunung Merapi.
"Melalui ASHTAM (pemberitahuan pada pihak penerbangan mengenai aktivitas gunung berapi) AirNav, tidak terdapat rute dan ketinggian penerbangan yang terpengaruh dan tidak terdapat penutupan penerbangan di wilayah terdampak letusan Gunung Merapi," demikian pernyataan tertulis Kemenhub, Minggu (17/11/2019).
Meski begitu, Kemenhub terus mengawasi perkembangan aktifitas Gunung Merapi Melalui sistem i-wish yang telah dikembangkan guna menjaga aktifitas penerbangan di wilayah terdampak letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti, meminta seluruh stakeholder penerbangan untuk terus mewaspadai aktifitas Gunung Merapi, yang saat ini berada pada status WASPADA (level 2).
"Kami telah berkoordinasi dengan seluruh stakeholder penerbangan dan meminta seluruh pihak untuk turut mewaspadai peningkatan aktivitas Gunung Merapi, keselamatan penerbangan merupakan hal yang utama," kata Polana. (Tribun Network/nto/rfk/wly)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/erupsi_merapi_4.jpg)