Saham Kebun Dipoles Kenaikan Harga CPO

Indeks sektor agrikultur tengah naik daun. Kendati kemarin (6/11) indeks yang beranggotakan saham-saham agri

AFP PHOTO / ADEK BERRY
Ilustrasi kelapa sawit 

 
∆/∇ YoY

 
SSMS

 
2.891,11

 
2.419,07

 
-16,33%

 
392,62

 
-1,366,34

 
n/a

 
LSIP

 
2.873,82

 
2.586,15

 
-10,01%

 
343,46

 
51,44

 
-85,02%

 
BWPT

 
2.363,84

 
1.733,97

 
-26,65%

 
-265,71

 
-774,94

 
-191,65%

 
AALI

 
13.761,63

 
12.386,47

 
-9,99%

 
1.123,92

 
111,18

 
-90,11%

 
TBLA

 
6.290,43

 
6.344,58

 
0,86%

 
537,69

 
501,77

 
-6,68%

 
MGRO

 
1.469,66

 
1.367,76

 
-6,93%

 
45,41

 
24,14

 
-46,84%

 
SIMP

 
10.261,94

 
10.094,57

 
-1,63%

 
84,45

 
-469,95

 
n/a

 
DSNG

 
3.338,06

 
3.968,04

 
18,87%

 
206,44

 
63,09

 
-69,44%

 
ANDI

 
229,13

 
211,95

 
-7,50%

 
19,02

 
14,78

 
-22,29%

 
Sumber: Riset KONTAN
 

Timbang Cermat Sebelum Membeli Saham Perdana Palma Serasih

Perusahaan perkebunan dan industri pengolahan minyak sawit PT Palma Serasih akan meramaikan daftar perusahaan sektor perkebunan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika tidak ada aral melintang, perusahaan akan menggelar initial public offering (IPO) pada 25 November.  

Mulai 6 hingga 8 November 2019, proses IPO Palma Serasih akan masuk periode book building. Adapun jumlah saham yang ditawarkan sebanyak-banyaknya empat miliar lembar atau  20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Kisaran harga IPO dipatok Rp 103-Rp110. Jadi, perusahaan ini bisa meraup Rp 412 miliar hingga Rp 440 miliar.

Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat modal entitas anak dalam melakukan ekspansi. Rinciannya, alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) yang ditanam sebesar 44%, modal kerja sebesar 30%, capex tambahan untuk pendanaan pabrik kelapa sawit sebesar 14%, serta capex non tanaman sebesar 12%.

Rentang harga saham perdana yang akan ditawarkan setara PBV 1,5 kali. Sayangnya, pihak penjamin dan pelaksana emisi, PT Jasa Utama Capital enggan menjabarkan rata-rata PBV di industri sawit. "Masih di bawah rata-rata industri, harganya juga murah," papar Deddy Suganda Widjaja, Presiden Direktur PT Jasa Utama Capital, Rabu (6/11).

Astrida Novieta, Direktur Palma Serasih, melihat ada sentimen baik terhadap industri CPO. Antara lain program penerapan biodiesel 20% pada BBM atau B20 dan B30 dari pemerintah.

Prospek ini mendorong Palma Serasih IPO meski sektor sawit masih lesu. "Sehingga, ketika market kembali baik, kami dalam kondisi go public," terang Astrida usai  Due Diligence Meeting & Investor Gathering penawaran umum, Rabu (6/11).

Dia optimistis, harga jual produk akan membaik hingga akhir 2019. Dia menghitung, harga jual CPO akan  bertumbuh menjadi
Rp  7.400-Rp 7.700 per kilogram, sementara biaya produksinya sekitar Rp 6.000 per kilogram.

Asal tahu saja, Palma Serasih Grup memulai usahanya sejak 2008. Hingga Mei 2019, perusahaan mencatat penjualan Rp 295,84 miliar naik 7,1% year on year (yoy). Namun, perusahaan ini masih mencatatkan rugi Rp 51,62 miliar pada periode yang sama. (Kenia Intan Nareriska/Nur Qolbi/Intan Nirmala/Irene Putri Sugiharti)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved