Breaking News:

Jangan Panik! Lakukan Ini Jika Tanggal Persalinan Moms Melewati HPL

Kebanyakan bayi lahir saat usia kandungan Moms antara 37 hingga 41 minggu, kecuali bayi kembar yang umumnya lahir lebih cepat dari jangka waktu ini.

Kompas.com/THINKSTOCK.COM
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID -  Persalinan menjadi momen yang paling ditunggu oleh semua Moms.

Pasalnya, setelah menunggu selama 9 bulan, Moms pun akan segera bertemu dengan buah hati.

Namun, bagaimana jika jadwal persalinan justru meleset dari yang diperkirakan?

Di awal kehamilan, biasanya dokter menghitung hari perkiraan lahir (HPL) akan terjadi maksimal 40 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir Moms.

Kebanyakan bayi lahir saat usia kandungan Moms antara 37 hingga 41 minggu, kecuali bayi kembar yang umumnya lahir lebih cepat dari jangka waktu ini.

Namun demikian, ada juga bayi yang lahirnya melewati HPL.

Misalnya, kecenderungan bayi lahir telat waktu akan semakin besar jika anak pertama.

Selain merupakan kelahiran pertama, dikutip Nakita.id, menurut dr. Intan Nabila Al Mansyuri dari Poli AMS, RSIA Kemang Medical Care, ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan bayi lahir lewat waktu (postterm/postmatur).

Penyebab itu antara lain riwayat persalinan sebelumnya yang lewat HPL, memiliki kerabat perempuan yang pernah melahirkan lewat dari HPL, atau bumil sendiri dilahirkan pada usia kehamilan di atas 40 minggu, berat badan Moms yang overweight, dan kekeliruan estimasi perhitungan usia kehamilan.

Berdasarkan teori, kehamilan yang usianya lebih dari 42 minggu (lewat waktu) memiliki risiko komplikasi persalinan yang tinggi.

Sebab, plasentanya sudah tua, fungsinya pun menurun, sehingga tidak bagus lagi untuk mentransfer makanan.

Akibatnya, bayi bisa kekurangan pasokan nutrisi (dan juga oksigen) sehingga berat badannya menyusut, gerakannya berkurang, kesejahteraan bayi berkurang. 

“Risiko terburuk dari kondisi ini, setelah lahir, bayi akan mengalami masalah gizi, sehingga perlu dilakukan pemantauan secara berkala,” jelas dr. Merry, SpOG dari Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Risiko lainnya adalah air ketuban keburu habis atau bisa juga cairan ketuban menjadi hijau sehingga berbahaya bagi janin, karena bisa menimbulkan keracunan.

Inilah yang bisa meningkatkan risiko bayi meninggal di dalam kandungan.

Tak hanya itu, bayi yang lahir lewat waktu juga meningkatkan kemungkinan menelan dan menghirup mekonium (tinja pertama), yang dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi paru-parunya dan mengalami gejala kesulitan bernapas setelah lahir. 

Dampak lainnya, bila bayi lahir lebih dari 42 minggu, maka lapisan lemak yang melindungi kulitnya akan hilang, sehingga kulit bayi jadi mengering, pecah-pecah dan mengerut, serta mengelupas.

Selain pada bayi, Moms juga akan mengalami risiko terinfeksi parah saat melahirkan, terutama bila ketubannya menjadi hijau.

Mengingat risikonya yang tidak ringan, maka ketika usia kehamilan sudah mencapai 41—42 minggu, tapi belum ada tanda-tanda melahirkan atau tak juga terjadi persalinan spontan, umumnya dokter akan “memaksa” Moms untuk segera melahirkan.

Untuk itu, akan dilakukan induksi persalinan, yakni upaya menstimulasi terjadinya proses persalinan.

Cara ini merupakan upaya medis untuk memulai proses kelahiran bayi secara normal.

Induksi dilakukan dengan cara memberikan obat-obatan khusus pada bumil melalui oral, infus, atau dimasukkan ke dalam Miss V.

Obat-obat ini bertujuan mengeluarkan hormon prostaglandin yang turut menyebabkan otot rahim berkontraksi.

Akan tetapi, induksi tidak boleh sembarangan, harus dinilai berdasarkan kondisi Moms dan bayi, serta dilihat apakah mulut rahim sudah matang dan pas untuk diinduksi.

Biasanya dokter mengacu pada Bishop score untuk menilai kematangan mulut rahim.

Penilaian tersebut penting untuk menghindari kegagalan induksi yang berakibat pada persalinan sesar.

Jika mulut rahim belum matang, bisa dilakukan pematangan dengan pemberian obat atau dengan menggunakan metode mekanis, yakni memasang kateter foley di leher rahim.

Bila serviks sudah matang, induksi dilakukan dengan pemberian obat (oksitosin) melalui cairan infus.

Namun, jika sudah dua kali infus tidak ada kemajuan, biasanya dokter akan melakukan bedah sesar.

Editor: Rine Araro
Sumber: Nakita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved