Nono S A Sumampouw

Bumi Karema: Eksplorasi Foto, Budaya, Pariwisata dan Kebijaksanaan

Bulan Agustus lalu sebuah buku fotografi berjudul Bumi Karema karya Rose Kampoong yang merupakan nama pena dari Ruthy Bambang Waskito diberikan kepada

Bumi Karema: Eksplorasi Foto, Budaya, Pariwisata dan Kebijaksanaan
ISTIMEWA
Nono S. A. Sumampouw 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO- Bulan Agustus lalu sebuah buku fotografi berjudul Bumi Karema karya Rose Kampoong yang merupakan nama pena dari Ruthy Bambang Waskito diberikan kepada saya.

Buku ini sejatinya telah terbit dan diluncurkan pada awal tahun, ditulis dan dipublikasikan resensinya melalui rubrik opini di harian Tribun Manado oleh seorang pengajar di STF Seminari Pineleng, ditanda-tangani dan diberikan kata sambutan dari Menteri Pariwisata-Gubernur Sulut-Ketua DPRD Sulut-Kepala Sekolah Staf dan Pimpinan Lemdiklat Polri, dibicarakan serta foto-fotonya –terutama- dipamerankan dalam forum-forum formal serta seremonial baik di Jakarta maupun Sulawesi Utara, terutama Manado dan Tomohon.

Tetapi, tanpa menge-nyampingkan semua hal baik yang telah dilakukan tersebut, rasanya ada yang kurang dari eksplorasi terhadap buku ini, agar tidak hanya menjadi semacam ‘informasi’, yaitu: pesan strategis untuk pengembangan wilayah dan masyarakat secara lebih baik. Jika menempat-kan koleksi foto-foto dalam buku lebih dari sekedar sumber informasi atau fungsi estetiknya, maka kita dapat menginterpretasinya lebih dalam, bermanfaat, lebih luas dan praktikal bahkan berkelanjutan.

Sebagai langkah pertama melihat buku ini adalah: mengetahui bahwa koleksi foto-foto ini disusun oleh seseorang yang tidak lahir dan besar di Sulut serta menghabiskan waktu tinggal yang belum lebih dari 3 tahun merupakan sebuah tamparan yang harusnya disadari.

Terutama dalam hal ini: kepedulian akan potensi-potensi yang ada di Sulawesi Utara juga bagaimana mengumpulkan informasi yang berharga, menyusunnya dengan estetis serta memanfaatkannya secara memadai dan strategis.

Kita dapat memulai mencermati buku ini lebih dalam dari kritik atasnya: di tiap tempat spesifik dalam foto-foto di buku ini selalu ada mite-mite, ada cerita masing-masing, tak melulu hanya soal ‘Karema’.

Bahkan tiap foto punya cerita dan kesan masing-masing untuk fotografernya. Jadi judul ‘Bumi Karema’ agak kurang adil rasanya dengan mempertimbangkan sebaran geografis foto. Hal ini tentu dengan mempertimbangkan berbagai latar belakang kultural dan geografis yang tidak hanya terkait secara interpretatif dengan ‘Karema’.

Dari sudut pandang geografi-kultural paling sederhana: ada 84 foto menyangkut wilayah kebudayaan Minahasa, 19 foto menyangkut wilayah kebudayaan Bolaang-Mongondow dan 27 foto menyangkut wilayah kebudayaan Sangihe-Talaud, serta 1 foto diambil di wilayah Surabaya yaitu peta rekonsutruksi Indonesia dari biji Pala.

Dari data ini, sekalipun ini memang ‘hanya’ judul, tapi menonjolkan Karema rasanya tidak  adil saja dan dengan begitu ‘terlihat’ mengenyamping-kan para ‘utat’ atau ‘ungke’. Sekalipun memang foto yang diambil di wilayah kebudayaan Minahasa adalah yang paling banyak.

Sedikit atau kecil tidak berarti ‘tidak ada’ atau ‘dikesampingkan’ bukan?. Lebih jauh dari ini, dalam keadaan sebaran-sebaran geografi-kultural ini, sebenarnya secara praktikal kita telah langsung melihat spot potensial pengembangan pariwisata, budaya, bahkan ekonomi atau ruang pengembangan mayarakat yang dapat dikembangkan dalam program-program yang terencana.

Halaman
1234
Editor: Enjelita Sandra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved