Bank Kecil Siapkan Modal Tambahan

Makin mendekati 2020, sejumlah bank kecil di kelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 1, dan BUKU 2 mulai menyiapkan infrastruktur

Bank Kecil Siapkan Modal Tambahan
kontan.co.id
Bank Sempoerna 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Makin mendekati 2020, sejumlah bank kecil di kelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 1, dan BUKU 2 mulai menyiapkan infrastruktur untuk implementasi pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 71.

Man United vs Partizan: Kembali ke Jalur Kemenangan

Via PSAK 71 yang akan berlaku awal tahun depan itu, bank harus membentuk pencadangan kerugian lebih besar. Alasannya, pencadangan kerugian mesti dibentuk sejak awal tahun berjalan (expected loss), alih-alih menyiapkan cadangan ketika terjadi kredit macet (incurred loss).

Aturan ini cukup menantang bagi bank kecil. Sebab  penambahan pencadangan bisa menyebabkan modal hingga laba tergerus. Apalagi permodalan bank kecil relatif  tidak sekuat bank besar.

PT Bank Sahabat Sampoerna misalnya, per September 2019 telah menambah pencadangan kerugian kredit hingga 42,74% secara year on year (yoy) dari Rp 161,18 miliar pada September 2018 menjadi Rp 230,06. Ini yang bikin laba bersih tergerus hingga 52,83% secara yoy dari Rp 52,32 miliar menjadi Rp 24,68 miliar.

Direktur Utama Bank Sempoerna Ali Rukmijah mengatakan, untuk mengantisipasi lonjakan pencadangan pada 2020, pemegang saham Bank Sampoerna telah berkomitmen untuk menjaga kecukupan modal.

Mendagri: Preman Kuasai Parkir Ganggu Investor

“Sepanjang sembilan bulan pada 2019, total tambahan setoran modal yang diterima Bank Sampoerna telah mencapai Rp 265 miliar. Ini berdampak ke rasio kecukupan modal (CAR) kami yang memadai sebesar 20,94% per September 2019,” ujar dia melalui keterangan resmi perusahaan-, Selasa (5/11).

Di sisi lain dengan tambahan pencadangan kerugian kredit, perseroan ini juga berhasil menekan rasio kredit macet bersih atau NPL net dari 3,42% pada September 2018 menjadi 2,97% pada September 2019.

Direktur Kepatuhan
PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) Efdinal Alamsyah juga menyatakan, implementasi PSAK 71 bakal mengakibatkan pencadangan kerugian semakin gemuk.

“Tambahan pencadangan kerugian diperkirakan naik 15% hingga 20% dari saat ini. Sementara untuk persiapan PSAK 71, kami sudah sampai ke tahap user acceptance. Masih sesuai dengan jadwal kami,” katanya kepada KONTAN, Selasa (5/11).

Saat ini pencadangan kerugian kredit Bank Oke yang telah bergabung atau merger dengan PT Bank Dinar Indonesia Tbk itu telah tumbuh hingga 418,51% secara yoy menjadi Rp 5,33 miliar pada September 2019 pascamerger dibandingkan Rp 1,02 miliar di era sebelum bergabung.

Terkait kebutuhan tambahan pencadangan, Efdinal bilang, pemegang saham yaitu Apro Financial telah berkomitmen untuk menyetor tambahan modal tiap tahun Rp 500 miliar selama tiga tahun mendatang atau senilai total Rp 3 triliun.

Nunung Jalan Terpincang-pincang: Jaksa Belum Siap, Sidang Tuntutan Ditunda

Apalagi pascaemeger, CAR perseroan tercatat sangat gemuk sebesar 44,58% pada September 2019. “Terkait tambahan pencadangan untuk kami relatif tidak ada pengaruh terhadap CAR, dan akan kami ambil dari laba tahun berjalan,” lanjut Efdinal.

Sementara perwakilan manajemen PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) Rully Nova menyatakan, Bank Woori bakal menambah pencadangan dari laba ditahan. “Persiapan PSAK 71 saat ini sudah hampir selesai. Dampak penerapan standar itu ke modal kami tidak terlalu signifikan karena laba ditahan masih besar,” katanya, Selasa (5/11).

Strategi menahan laba juga jadi strategi Bank Woori untuk bisa naik kelas ke BUKU 3 secara organik. (Anggar Septiadi)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved