Editorial Tribun Manado

Pesta Demokrasi 105 Desa

Memang, soal gengsi jabatan sangadi mungkin tak segagah di masa lalu. Namun ada gula-gula lain yang menarik.

Pesta Demokrasi 105 Desa
Istimewa
Wakil Bupati Bolmong Yanny Tuuk melantik sejumlah pejabat sangadi (kepala desa). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - MASYARAKAT di 105 desa di Kabupaten Bolaang Mongondow akan ‘berpesta’ pada 14 November 2019. Mereka akan memilih sangadi atau kepala desa. Pesta politik di tingkat desa itu akan berlangsung secara serentak di lebih dari setengah wilayah di kabupaten itu. Saat ini, ada 200 desa dan dua kelurahan di daerah yang dipimpin Bupati Yasti Soepredjo Mokoagow.

Tentu saja, jumlah calon yang akan bertarung untuk memperebutkan kepala pemerintahan di desa ini mencapai ratusan orang. Setidaknya ada 363 calon sangadi yang sudah terdaftar dan memenuhi syarat. Bahkan di 22 desa, jumlah pesertanya lebih dari lima orang, sehingga harus ada seleksi. Walaupun memang, ada juga beberapa desa yang minim calon.

Tak kalah dengan anggota legislatif, atau kepala daerah sekalipun, sangadi juga merupakan jabatan yang prestise. Sangadi punya pengaruh yang kuat bagi masyarakat. Mereka yang memangku jabatan ini mempunyai kedudukan istimewa dalam strata sosial. Tak heran, pemilihan sangadi juga menyangkut gengsi, harga diri, dan kehormatan.

Memang, soal gengsi jabatan sangadi mungkin tak segagah di masa lalu. Namun ada gula-gula lain yang menarik. Pemerintahan desa kini mengelola anggaran yang tak sedikit, bisa mencapai miliaran rupiah. Bagi yang punya niat ‘miring’, bisa jadi ladang untuk mendapatkan keuntungan. Kita harap, hal tersebut tak ada dalam pikiran para calon sangadi.

Masak Guru Tak Lolos, Pemabuk Lolos, Masyarakat Protes Hasil Tes Calon Sangadi

Ya, tak heran jika pemilihan sangadi ajang politik yang sengit. Tak jauh beda dengan pemilihan anggota legislatif atau pun pemilihan kepala daerah. Dampak negatif pun bisa saja muncul, seperti politik uang hingga intrik-intrik yang bisa memutuskan silaturahmi masyarakat. Pemilihan sangadi bisa jadi lebih emosional karena kedekatan calon dengan konstituennya.

Masyarakat pedesaan dikenal lebih guyub. Hal ini bisa jadi mempercepat rekonsiliasi antarpendukung usai pemilihan. Namun demikian, upaya pencegahan harus dilakukan. Jangan sampai lengah sehingga konflik membesar dan merugikan semua pihak.

Upaya seperti dilakukan para calon sangadi di Kecamatan Bolaang yang mendeklarasikan pemilihan damai, bisa dicontoh di kecamatan-kecamatan lainnya. Walaupun kegiatan memang diinisiasi oleh polsek setempat, namun para calon kepala desa itu telah menunjukkan untuk tetap menjalin silaturahmi meski berkompetisi.

Calon Sangadi Muslim Harus Bisa Pidato di Pohon Terang

Di sisi lain, pemilihan sangadi ini bisa menjadi pendidikan politik. Sebelum ada pemilihan umum untuk anggota legislatif, kepala daerah, bahkan presiden, masyarakat desa sebenarnya sudah terbiasa memilih pemimpin secara langsung. Namun, menekan kecurangan harus dilakukan. Integritas peserta, panitia, bahkan pemerintah jadi taruhan.

Pemilihan sangadi bisa jadi justru jadi contoh yang baik bagi pemilihan umum dengan skala lebih besar, seperti pileg, pilkada, atau pilpres sekalipun. (*)

Wawancara Eksklusif Avriellia Shaqqila: Rata-rata Semua Model Bisa, Asal Cocok Harga

Perhatian Gading Marten kepada Gisel soal Fitnah Skandal Video Asusila, Ungkap Masa Lalu Mereka

Tak Naik Podium di MotoGP Malaysia, Valentino Rossi Tetap Senang

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved