Rini Berganti Erick, Saham BUMN Naik

Kabinet Indonesia Maju yang bakal membantu pekerjaan Presiden Joko Widodo di periode kedua ini sudah mulai

Rini Berganti Erick, Saham BUMN Naik
Warta Kota
Erick Tohir 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kabinet Indonesia Maju yang bakal membantu pekerjaan Presiden Joko Widodo di periode kedua ini sudah mulai bekerja sejak kemarin. Berbarengan dengan itu, mayoritas saham BUMN kompak menguat.

Kemarin, indeks IDX BUMN20 menguat 2,06% dalam sehari. Sejak awal tahun, indeks saham ini sudah mencetak kenaikan 3,07%.

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menjelaskan, pelaku pasar juga merespons positif pengumuman kabinet secara keseluruhan. Ini yang mendorong saham-saham BUMN menghijau.

Pertumbuhan Kredit Landai Menjelang Akhir Tahun

"Susunan Kabinet Indonesia Maju bisa dikatakan cukup ideal karena diisi banyak profesional dan banyak orang-orang yang dikenal seperti Erick Tohir, Wishnutama, Nadiem Makarim dan Sri Mulyani," jelas Teguh, Kamis (24/10).

Hariyanto Wijaya, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai, pelaku pasar optimistis melihat susunan kabinet saat ini. Hal ini tercermin dari posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 0,52% pertengahan pekan ini. Kemarin, IHSG bahkan naik 1,31% ke 6.339.

Hariyanto menambahkan, susunan kabinet tersebut bukan hanya positif untuk saham-saham BUMN, melainkan juga untuk bursa saham secara keseluruhan. "Kami tetap mempertahankan target IHSG 6.510 hingga akhir tahun," tulis Hariyanto dalam riset 24 Oktober.

Sudah bottom

Namun, Teguh menilai, penunjukan Erick Tohir sebagai Menteri BUMN tidak lantas menjamin kinerja emiten BUMN bakal melesat. Pelaku pasar kini juga masih menunggu performa pengusaha ini sebagai menteri. Pasar menilai belum berpengalaman di pemerintahan.

Selain itu, euforia susunan kabinet bukan satu-satunya faktor yang membuat saham BUMN mayoritas kompak menguat. Teguh menilai, naiknya saham BUMN juga karena sudah saatnya harga saham-saham pelat merah ini naik.

Bank Central Asia Jaring Penawaran Investor di Atas Rp 1 Triliun

Harga saham-saham BUMN sebelum ini cenderung tertekan akibat faktor eksternal dan internal, misalnya soal arus kas. "Setelah kemarin cerita buruk, sekarang saatnya  cerita bagus yang menghiasi pasar," ujar Teguh.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved