Pariwisata
Belajar Pariwisata Terpadu di Saung Angklung Udjo Bandung
Saung Angklung Udjo berdiri sejak tahun 1966. Tak hanya sekadar tempat pembuatan dan pementasan angklung
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: David_Kusuma
Belajar Pariwisata Terpadu di Saung Angklung Udjo Bandung
TRIBUNMANADO.CO.ID - Saung Angklung Udjo berdiri sejak tahun 1966. Tak hanya sekadar tempat pembuatan dan pementasan angklung.
Tempat yang didirikan Udjo Ngalagena dan istri Umum Sumiati, kini jadi pusat kesenian dan budaya Sunda, khususnya Angklung.
Sebuah ampiteater bernuansa etnik Sunda berdiri di tengah-tengah Saung Udjo. Rangka atap, plafon dan ornamen lainnya, dari tanaman berongga itu. Rindang pohon bambu berjejer mengitari area pertunjukan ini.
Setiap hari pementasan seni budaya Sunda ditampilkan di sini. Ada Wayang Golek, Tari Topeng, Helaran Sunat -di dalamnya ada atraksi kuda lumping- Angklung Nusantara hingga orkestra Angklung. Pengunjung pun diberikan pengalaman bermain angklung masal.
• Pelajar Mahasiswa Jadi Sasaran Awal Penerapan QRIS, Ini Manfaatnya bagi Masyarakat Indonesia
• Makan Malam Bersama, BI Perwakilan Sulut dan DPD Aprindo Bakal Terapkan Program Ini!
Atraksi yang disajikan istimewa karena dibawakan anak-anak dan remaja. Kalau pun ada orangtua, hanya sebagian yang memainkan gamelan Sunda dan angklung. Pertunjukan dua kali sehari, pukul 10.00 Wita dan pukul 15.00.
Saung Angklung Udjo tak sekadar tempat pertunjukan. Ini adalah sanggar kebudayaan Sunda. Tempat orang belajar tentang Angklung dan seni yang terkait dengannya.
"Di sanggar ini, muridnya dari anak usia dua tahun hingga lansia. Jumlahnya 500 orang. Belajar membuat angklung, tari-tarian, gamelan dan lainnya," kata Yosinta Oktaviani Cantika, MC yang juga biasa jadi guide bagi tamu di Saung Mang Udjo.
Sabuah gazebo terbuat dari bambu yang berada tepat di belakang panggung utama wajib dikunjungi ketika ke sana.
Di sini, Achmad Rosidi (66) setiap hari membuat angklung. Ia biasa didampingi beberapa perajin lainnya.
Pria 74 tahun itu menjadi pembuat angklung dan menampilkannya secara 'live' ke pengunjung. Ia menekuninya sejak tahun 1975. Jemarinya fasih menyerut bambu pakai pisau khusus.
"Angklung terbuat dari bambu hitam, bambu Apus dan bambu Gombong," katanya.
Untuk menyetel nada angklung, butuh pengalaman dan intuisi. Untuk menaikkan nada, dipotong bagian atas bambu. Untuk menurunkan nada sisi bambu diserut.
• Jerry Sambuaga Langsung Ngantor Setelah Dilantik Jadi Wamen Perdagangan
• Prabowo Sebut Ryamizard Ryacudu Tahu Rahasianya: Jadi Jangan Dibuka Ya Pak
Rachmat mendidik puluhan perajin angklung. Sebagian warga sekitar, sisanya berasal dari Garut, Sumedang dan daerah lainnya di sekitar Bandung.
"Sekarang agak sulit mencari orang yang benar-benar mau belajar membuat angklung," kata pria empat anak itu.
Muridnya yang paling muda saat ini berusia 40 tahun. Ia biasanya mengajak anak-anak yang putus sekolah di kampung-kampung untuk belajar.
"Zaman telah berubah. Banyak tawaran di luar sana. Memang, empat tahun baru bisa menentukan nada di angklung. Paling penting punya kemauan," ujar Rachmat yang setia dengan topi pet.
Pusat wisata terpadu
Saung Mang Udjo bisa jadi model pengelolaan wisata terpadu yang memberdayakan masyarakat sekitar.
Di pusat kebudayaan yang kini dikelola cucu Mang Udjo, masyarakat sekitar dilibatkan.
Warga setempat pegiat UMKM yang mengisi outlet khusus suvenirnya. Ibu-ibu mengolah aneka penganan, gorengan dan minuman yang ditawarkan di kantinnya.
Di parkiran, mudah bagi pengunjung menikmati bakso, rujak, aneka gorengan, cendol dan aneka es.
• Ini Kata Pakar Telematika Terkait Video Syur Diduga Gisella Anastasia, Singgung Soal Tahi Lalat
• Video Detik-detik Ratusan Preman Bayaran Menyerang Tempat Ibadah, Terekam CCTV, Tonton Videonya
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Arbonas Hutabarat mengatakan, Saung Angling Udjo adalah contoh konsep 'interlink' sektor pariwisata.
"Ini memadukan wisata budaya dan kesenian yang melibatkan UMKM, masyarakat sekitar. Semua kita bisa dapatkan di sini.
Katanya, model pengelolaan seperti itu pantas diadopsi dan diaplikasikan di Sulut. Ambil contoh Tari Maengket, Kabasaran dan produk kebudayaan lainnya.
"Tinggal disiapkan cerita, legenda yang melekat pada produk budaya itu," katanya.
• Mahfud MD Sebelumnya Diplot Jaksa Agung: Berubah Jadi Menkopolhukam Setelah Pelantikan Presiden
Pendapatan dari pengelolaan model wisata terpadu itu begitu besar. Sebagai pembanding. Untuk tiket masuk, Rp 70 ribu per orang untuk mereka yang datang di bawah 50 orang.
Lebih dari 50 orang, biaya masuknya Rp 50 ribu per orang. "Rata-rata yang menonton di setiap penampilan 500 orang," kata Teh Oca, panggilan Yosinta.
Belum lagi pemasukan dari suvenir, kantin, penyewaan area untuk pesta taman dan lain-lain.(ndo)
LIKE FACEBOOK TRIBUN MANADO
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pertunjukan-wayang-golek-diiringi-kolaborasi-gamelan-sunda-dan-angklung.jpg)