Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pariwisata

Belajar Pariwisata Terpadu di Saung Angklung Udjo Bandung

Saung Angklung Udjo berdiri sejak tahun 1966. Tak hanya sekadar tempat pembuatan dan pementasan angklung

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: David_Kusuma
Tribun Manado / Fernando Lumowa
Pertunjukan Wayang Golek diiringi kolaborasi gamelan Sunda dan angklung di Saung Angklung Udjo. 

Muridnya yang paling muda saat ini berusia 40 tahun. Ia biasanya mengajak anak-anak yang putus sekolah di kampung-kampung untuk belajar.

"Zaman telah berubah. Banyak tawaran di luar sana. Memang, empat tahun baru bisa menentukan nada di angklung. Paling penting punya kemauan," ujar Rachmat yang setia dengan topi pet.

Pusat wisata terpadu

Saung Mang Udjo bisa jadi model pengelolaan wisata terpadu yang memberdayakan masyarakat sekitar.

Di pusat kebudayaan yang kini dikelola cucu Mang Udjo, masyarakat sekitar dilibatkan.

Warga setempat pegiat UMKM yang mengisi outlet khusus suvenirnya. Ibu-ibu mengolah aneka penganan, gorengan dan minuman yang ditawarkan di kantinnya.

Di parkiran, mudah bagi pengunjung menikmati bakso, rujak, aneka gorengan, cendol dan aneka es.

Ini Kata Pakar Telematika Terkait Video Syur Diduga Gisella Anastasia, Singgung Soal Tahi Lalat

Video Detik-detik Ratusan Preman Bayaran Menyerang Tempat Ibadah, Terekam CCTV, Tonton Videonya

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Arbonas Hutabarat mengatakan, Saung Angling Udjo adalah contoh konsep 'interlink' sektor pariwisata.

"Ini memadukan wisata budaya dan kesenian yang melibatkan UMKM, masyarakat sekitar. Semua kita bisa dapatkan di sini.

Katanya, model pengelolaan seperti itu pantas diadopsi dan diaplikasikan di Sulut. Ambil contoh Tari Maengket, Kabasaran dan produk kebudayaan lainnya.

"Tinggal disiapkan cerita, legenda yang melekat pada produk budaya itu," katanya.

Mahfud MD Sebelumnya Diplot Jaksa Agung: Berubah Jadi Menkopolhukam Setelah Pelantikan Presiden

Pendapatan dari pengelolaan model wisata terpadu itu begitu besar. Sebagai pembanding. Untuk tiket masuk, Rp 70 ribu per orang untuk mereka yang datang di bawah 50 orang.

Lebih dari 50 orang, biaya masuknya Rp 50 ribu per orang. "Rata-rata yang menonton di setiap penampilan 500 orang," kata Teh Oca, panggilan Yosinta.

Belum lagi pemasukan dari suvenir, kantin, penyewaan area untuk pesta taman dan lain-lain.(ndo)

LIKE FACEBOOK TRIBUN MANADO

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved