Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pariwisata

Belajar Pariwisata Terpadu di Saung Angklung Udjo Bandung

Saung Angklung Udjo berdiri sejak tahun 1966. Tak hanya sekadar tempat pembuatan dan pementasan angklung

Tayang:
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: David_Kusuma
Tribun Manado / Fernando Lumowa
Pertunjukan Wayang Golek diiringi kolaborasi gamelan Sunda dan angklung di Saung Angklung Udjo. 

Belajar Pariwisata Terpadu di Saung Angklung Udjo Bandung

TRIBUNMANADO.CO.ID - Saung Angklung Udjo berdiri sejak tahun 1966. Tak hanya sekadar tempat pembuatan dan pementasan angklung.

Tempat yang didirikan Udjo Ngalagena dan istri Umum Sumiati, kini jadi pusat kesenian dan budaya Sunda, khususnya Angklung.

Sebuah ampiteater bernuansa etnik Sunda berdiri di tengah-tengah Saung Udjo. Rangka atap, plafon dan ornamen lainnya, dari tanaman berongga itu. Rindang pohon bambu berjejer mengitari area pertunjukan ini.

Setiap hari pementasan seni budaya Sunda ditampilkan di sini. Ada Wayang Golek, Tari Topeng, Helaran Sunat -di dalamnya ada atraksi kuda lumping- Angklung Nusantara hingga orkestra Angklung. Pengunjung pun diberikan pengalaman bermain angklung masal.

Pelajar Mahasiswa Jadi Sasaran Awal Penerapan QRIS, Ini Manfaatnya bagi Masyarakat Indonesia

Makan Malam Bersama, BI Perwakilan Sulut dan DPD Aprindo Bakal Terapkan Program Ini!

Atraksi yang disajikan istimewa karena dibawakan anak-anak dan remaja. Kalau pun ada orangtua, hanya sebagian yang memainkan gamelan Sunda dan angklung. Pertunjukan dua kali sehari, pukul 10.00 Wita dan pukul 15.00.

Saung Angklung Udjo tak sekadar tempat pertunjukan. Ini adalah sanggar kebudayaan Sunda. Tempat orang belajar tentang Angklung dan seni yang terkait dengannya.

"Di sanggar ini, muridnya dari anak usia dua tahun hingga lansia. Jumlahnya 500 orang. Belajar membuat angklung, tari-tarian, gamelan dan lainnya," kata Yosinta Oktaviani Cantika, MC yang juga biasa jadi guide bagi tamu di Saung Mang Udjo.

Achmad Rosidi (66)
Achmad Rosidi (66) (Tribun Manado / Fernando Lumowa)

Sabuah gazebo terbuat dari bambu yang berada tepat di belakang panggung utama wajib dikunjungi ketika ke sana.

Di sini, Achmad Rosidi (66) setiap hari membuat angklung. Ia biasa didampingi beberapa perajin lainnya.

Pria 74 tahun itu menjadi pembuat angklung dan menampilkannya secara 'live' ke pengunjung. Ia menekuninya sejak tahun 1975. Jemarinya fasih menyerut bambu pakai pisau khusus.

"Angklung terbuat dari bambu hitam, bambu Apus dan bambu Gombong," katanya.

Untuk menyetel nada angklung, butuh pengalaman dan intuisi. Untuk menaikkan nada, dipotong bagian atas bambu. Untuk menurunkan nada sisi bambu diserut.

Jerry Sambuaga Langsung Ngantor Setelah Dilantik Jadi Wamen Perdagangan

Prabowo Sebut Ryamizard Ryacudu Tahu Rahasianya: Jadi Jangan Dibuka Ya Pak

Rachmat mendidik puluhan perajin angklung. Sebagian warga sekitar, sisanya berasal dari Garut, Sumedang dan daerah lainnya di sekitar Bandung.

"Sekarang agak sulit mencari orang yang benar-benar mau belajar membuat angklung," kata pria empat anak itu.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved