Dana Murah Bank Pindah ke SBR dan Fintech

Penerbitan obligasi ritel pemerintah yang masih terus berlanjut dan semakin berkembangnya perusahaan teknologi finansial

Dana Murah Bank Pindah ke SBR dan Fintech
kontan.co.id
PT Danayasa Arthatama Tbk 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA -  Penerbitan obligasi ritel pemerintah yang masih terus berlanjut dan semakin berkembangnya perusahaan teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech) turun menekan bank dalam menggali dana dari masyarakat, termasuk dana murah (CASA).

Dana yang selama ini banyak menganggur di tabungan mulai berpindah ke instrumen yang memberikan cuan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total pinjaman yang disalurkan fintech per Juli 2019 telah mencapai Rp 49 triliun.

Baca: Optimistis, Kredit Otomotif Tumbuh: Bank Pacu Kelolaan Nasabah Tajir

Direktur Bisnis Konsumer Bank BNI Anggoro Eko Cahyo menduga, Surat Berharga Negara (SBN) ritel turut memberikan tekanan bagi bank dalam menghimpun dana dari masyarakat. Sedangkan kehadiran fintech menurutnya justru bisa memberikan dampak positif terhadap DPK bank jika keduanya melakukan kolaborasi. 

"Kepemilikan dana oleh fintech dari mana pun sumbernya bisa ditempatkan di bank sehingga malah membantu penguatan likuiditas bank," jelas Anggoro pada KONTAN, Selasa (8/10).

Sementara Direktur Kepatuhan Bank Tabungan Negara (BTN), Mahelan Prabantarikso justru melihat shifting atau pergeseran dana masyarakat di tabungan ke fintech pembayaran. Menurutnya, shifting itu didominasi milenial yang pada umumnya memiliki gaya hidup lebih konsumtif. "Sangat mungkin adanya shifting, Tapi mungkin share-nya masih belum besar," katanya.

Dengan adanya tantangan itu, BTN akan terus mencari strategi mendorong CASA. Per Agustus, posisi rasio CASA BTN ada di level 40%.Itu menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang ada di level 45,21% dan juga dari akhir tahun 2018 yang masih di kisaran 43,4%.

Hingga akhir tahun, BTN memperkirakan rasio CASA akan menuju level 43%. Untuk capai target, Mahelan bilang, BTN akan fokus pada upaya akuisisi tabungan debitur KPR yang belum memiliki atau memanfaatkan tabungan, akuisisi tabungan yang berasal dari kerjasama aliansi, seperti pensiunan dan payroll, percepatan akuisisi merchant LinkAja, dan pemenuhan SDM di kantor cabang pareto di Jabodetabek.

Baca: APLN Akan Melepas 4 Miliar Saham Baru

 "Untuk meningkatkan daya saing BTN dibandingkan dengan kompetitor, kami akan fokus menyeimbangkan fitur e-channel untuk meningkatkan layanan kepada nasabah melalui mobile banking, internet banking, cash management system, virtual account, dan e-form," terangnya.

Sementara BNI masih bisa mencatatkan pertumbuhan CASA. Per Juni ada di level 64,6%. Anggoro bilang, sampai akhir tahun, perseroan akan menjaga rasio CAS sekitar 65% supaya margin bunga bersih (NIM) membaik ke kisaran 5%. "Sejalan dengan itu, kami upayakan DPK bisa tumbuh 6%-7% dengan pertumbuhan kredit berkisar 13%-15%," tambah Anggoro.

Guna menjaga CASA, BNI akan melakukan program retensi untuk nasabah lama dan program akuisisi untuk nasabah baru. Perseroan akan menggalakkan transaksi perbankan dengan pemanfaatan digital banking lewat perangkat smartphone agar menjaga loyalitas nasabah.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved