Berita Koperasi

Kerja Sama Antarkoperasi Belum Maksimal, COO Kopkun Ungkap Dua Kendala Utama

Kerja sama antarkoperasi sebenarnya sudah diatur dalam prinsip koperasi Indonesia, yakni prinsip nomor 6 soal kerja sama antarkoperasi.

Kerja Sama Antarkoperasi Belum Maksimal, COO Kopkun Ungkap Dua Kendala Utama
ISTIMEWA
Firdaus Putra Aditama, COO Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Group 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kerja sama antarkoperasi sebenarnya sudah diatur dalam prinsip koperasi Indonesia, yakni prinsip nomor 6 soal kerja sama antarkoperasi.

Hal tersebut disampaikan Firdaus Putra Aditama, Chief Operating Officer (COO) Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Group, kepada Tribunmanado.co.id, Selasa (8/10/2019).

"Harus diakui, sampai saat ini kerja sama antar koperasi itu belum maksimal dilaksanakan," ujarnya.

Menurutnya, terdapat dua kendala. Pertama, soal kepercayaan di antara koperasi-koperasi itu sendiri.

Solusinya bisa dibangun dan dikembangkan lewat komunitas/gerakan koperasi.

Bisa dimulai dari kerja sama perseorangan atau person to person lantas dilanjutkan kerja sama antarlembaga atau organization to organization.

"Kendala kedua, masalah pengambilan keputusan di internal yang bisa terjebak pada birokrasi. Misalnya, keputusan di level manajer naik ke pengurus. Bila investasinya besar, dari pengurus naik ke rapat anggota khusus," sebut Firdaus.

Lanjutnya, solusi untuk kendala kedua tersebut, perlu diedukasi ke koperasi tentang tingkatan pengambilan keputusan.

"Contohnya, bila investasinya rendah, pengambilan keputusan cukup di level manajer. Bila investasinya lebih besar harus naik ke tingkat pengurus dan semakin besar investasinya harus diputuskan pada rapat anggota. Hal ini perlu disepakati sehingga bisa lebih tangkas dan taktis," kata dia.

Memang ada beberapa kerja sama antarkoperasi sudah terjadi, misalnya pada usaha peminjaman dan pendanaan. Sedangkan pada proyek-proyek baru, urusannya bisa panjang dan lalu menguap begitu saja.

Baca: COO Kopkun Group Sebut Perlu Mengakuisisi Milenial Bertalenta ke dalam Gerakan Koperasi

Baca: Pemko Tomohon Buat Pelatihan Pengurus Koperasi, Lolowang Sebut Nabi Musa

"Namun soal rencana kerja sama ini perlu dibahas internal dulu. Kalau suatu proyek atau usaha bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus kerja sama? Masalahnya, kalau ketika menggarap proyek itu koperasi merasa tidak punya skill dan pengalaman, maka kerja sama itu penting," jelasnya.

Menurutnya, selain menutupi kelemahan dari sisi skill dan pengalaman, kerja sama itu juga bisa memperkecil risiko bagi kedua belah pihak.

"Satu hal yang penting dalam kerja sama ini, harus ada kesepakatan bersama. Hal ini utamanya menyangkut pembagian keuntungan," ujar Firdaus.

Di atas semua itu, kembali pada problem awal, bgaimana meyakinkan kaum milenial yang bertalenta bahwa memasuki koperasi itu keputusan tepat bagi mereka. (*)

Baca: Kisah Niccolas Saputra, Bocah SD yang Bersekolah Sambil Jual Es kucir, Pernah Jualan Nasi Kucing

Baca: Wisuda Sarjana Unika De La Salle, Veren Kodoati Terkenang Awal Kuliah

Baca: Viral, Seorang Pria Menyiksa Anjing Peliharaan di Hadapan sang Putri, Marah Dengar Tagihan RS Mahal

Penulis: Siti Nurjanah
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved