Sains

Zona Kematian Menuju Puncak Everest, Kenapa Banyak Pendaki Tewas Saat Berada di Situ?

Area terakhir ini dikenal dengan sebutan the death zone atau zona kematian, sebelum menginjakkan kaki di puncak tertinggi di dunia

Zona Kematian Menuju Puncak Everest, Kenapa Banyak Pendaki Tewas Saat Berada di Situ?
outsideonline.com
Sebagai gunung dengan puncak tertinggi di dunia, Gunung Everest menjadi "kiblat" para pendaki gunung.  

Sebuah riset mengatakan, saat berada di ketinggian sekitar 3.657 mdpl, kadar oksigen berkurang 40 persen.

Coba bayangkan bagaimana kondisi udara di ketinggian 8.000 mdpl seperti puncak Everest.

Dalam ekspedisi Caudweel Xtreme di Everest tahun 2007, dokter Jeremy Windsor mengambil sampel darah dari empat pendaki yang sedang mengantre di zona kematian.

Dia menemukan, cara bernapas mereka sama seperti orang sekarat.

Adaptasi tubuh

Kekurangan oksigen memicu berbagai masalah kesehatan.

Ketika jumlah oksigen dalam darah anjlok, detak jantuk akan melonjak sampai 140 detak per menit.

Kondisi ini akan meningkatkan risiko serangan jantung.

Pendaki butuh waktu untuk bisa aklimitisasi atau adaptasi dengan kondisi di Everest sebelum mencapai puncaknya.

Setidaknya lakukan tiga kali pendakian gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 5.000 mdpl dalam setahun.

Halaman
1234
Editor: Finneke Wolajan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved