News

Paroki MRD Tomohon Adakan Bible Camp Untuk Sekami, Iwan Jelaskan Soal Sakramen Perkawinan

Iwan Lalamentik misalnya memberi materi soal perkawinan. Menurutnya perkawinan dalam pandangan tradisionl merupakan ikatan pria dan wanita.

Paroki MRD Tomohon Adakan Bible Camp Untuk Sekami, Iwan Jelaskan Soal Sakramen Perkawinan
Istimewa
Iwan Lalamentik (tengah) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Paroki Maria Ratu Damai (MRD) Tomohon mengadakan Bible Camp bagi Serikat Kepausan Anak Misioner (Sekami), kegiatan dimulai Jumat (4/10/2019) dan ditutup hari Minggu (6/10/2019) ini. Sejumlah materi sudah diberikan oleh Komisi Kataketik Keuskupan Manado.

Iwan Lalamentik misalnya memberi materi soal perkawinan. Menurutnya perkawinan dalam pandangan tradisionl merupakan ikatan pria dan wanita.

"Secara hukum perkawinan adalah suatu perjanjian seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup. Menurut pandangan Katolik (Gereja), perkawinan adalah suatu sakramen," katanya

Menurutnya, tujuan perkawinan menurut gereja Katolik adalah untuk kebahagiaan dan kerukunan antar suami-istri, untuk kelahiran dan pendidikan anak-anak, untuk pengabdian kepada masyarakat, dan untuk pengabdian kepada Tuhan. Sifat-sifat Perkawinan Katolik adalah monogam (Unitas), tak terceraikan (lndissolubilitas) dan sakramental.

"Perkawinan katolik dinyatakan sah apabila perkawinan tersebut tidak terkena halangan apapun. Kemudian kedua mempelai mengucapkan janji-nikah dengan bebas dan janji-janji nikah itu harus dirayakan dalam “forma kanonika” atau tata peneguhan dihadapan imam dan dua orang saksi," katanya.

Ia mengatakan Katekismus Gereja Katolik (KGK) 371, Allah menciptakan dan menghendaki persekutuan hidup antara pria dan wanita. Dalam KGK 372, Pria dan wanita sebagai suami isteri dan orang-tua bekerja sama dengan Tuhan sendiri dalam karya penciptaan umat manusia.

"KGK 1644 menegaskan cinta suami isteri dari kodratnya menuntut kesatuan dan sifat yang tidak terceraikan dari persekutuan pribadi mereka, yang mencakup seluruh hidup mereka: "mereka bukan lagi dua, melainkan satu," katanya.

 Ia mengatakan rumusan Kata-kata (forma) yang membuat perkawinan menjadi Sakramen ialah saat pastor bertanya: (nama)… Maukah engkau menerima (nama pasangan)… sebagai isteri/suami-mu, mencintai dan mengasihinya, selalu menemaninya dalam suka maupun duka, di saat sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian? Dijawab suami/isteri: Ya, saya mau. Benda (Materia) yang membuat perkawinan menjadi Sakramen ialah kedua mempelai yang hadir dengan kehendak bebas, dua orang saksi dan imam/diakon (peneguh nikah)

"Dua tata cara penerimaan sakramen perkawinan ialah tata Cara Penerimaan Sakramen Perkawinan dalam perayaan misa yang lengkap dan Tata Perayaan Sakramen Perkawinan dalam ibadat sabda. Yang bisa menerima sakramen Perkawinan ialah orang yang bebas (belum menikah), tidak ada halangan nikah," katanya.

Ia mengatakan dalam keadaan biasa peneguh nikah adalah Uskup, Imam, diakon. Dalam keadaan khusus sekali, jika tidak ada imam atau diakon untuk jangka waktu tertentu, uskup dapat memberikan delegasi kepada prodiakon dan awam.

Halaman
123
Penulis: David_Manewus
Editor: Maickel_Karundeng
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved