Multifinance Masih Berat Garap Properti

Multifinance masih terus mencari peluang di berbagai sektor pembiayaan untuk menggenjot kinerjanya. Kebijakan Bank Indonesia (BI)

Multifinance Masih Berat Garap Properti
kompas.com
Kalau inflasi 8 persen, maka dalam 5 tahun mendatang nilai propertinya akan menjadi sekitar Rp 660 juta. Penghitungan adalah inflasi 8 % x 3 x 5 x Rp 300 juta. Artinya, nilai tabungan Anda bukann berkurang, tetapi malah terus bertambah," ujar Marcell. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Multifinance masih terus mencari peluang di berbagai sektor pembiayaan untuk menggenjot kinerjanya. Kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan ketentuan uang muka lewat pelonggaran rasio loan to value (LTV) untuk kredit properti maupun kendaraan bermotor menjadi peluang bagi multifinance.  

Namun tampaknya pembiayaan di sektor properti  masih belum bisa menjadi andalan dari perusahaan multifinance. Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno mengaku, sulit menggarap bisnis pembiayaan properti. Sebab masih terkendala pendanaan dari perbankan yang hanya menawarkan tenor pendek.

Baca: Aliran Kredit Ekspor Impor Masih Melaju

Sementara pembiayaan perumahan memerlukan waktu panjang. “Misal rumah itu kreditnya 10 tahun, kita dapat dana dari bank cuma tiga tahun. Bila kami dapat dana dari SMF, tapi rumah yang ditawarkan murah. Sehingga porsinya kecil dan sedikit yang menggarap,” tutur Suwandi.

Meski potensinya kecil, beberapa pemain multifinance tetap menggarap lini bisnis ini.  Ambil contoh PT Reliance Finance.

Direktur Reliance Finance Fajar Satritama menyatakan pembiayaan properti menjadi penyumbang utama pembiayaan perusahaan hingga 40% dari total portofolio.

“Hingga Agustus 2019, realisasi pembiayaan sekitar Rp 500 miliar. Sedangkan sampai akhir tahun targetnya bisa mencapai Rp 600 miliar. Untuk pembiayaan rumah kita kerja sama dengan pengembang,” ujar Fajar kepada KONTAN pekan i lalu.

Baca: Bangunan Telantar RS Ratumbuysang Kecipratan Rp 500 M

Ada juga PT Batavia Prosperindo Finance Tbk (BPFI) juga menyasar pembiayaan rumah. Kendati pembiayaan pada mobil bekas masih menjadi dominan pembiayaan perusahaan.

BPFI mencatatkan pembiayaan properti sebesar Rp 32 miliar per Agustus 2019 atau sama dengan realisasi tahun lalu. "Kami menyasar masyarakat dengan penghasilan tidak tetap. Misalnya pengemudi ojek online yang pendapatan bulanannya tidak tetap,” ujar Direktur BPFI Jasin Hermawan.                                         

Risiko Usaha Naik, NPL Bank Terkerek

Pertumbuhan kredit perbankan kian lesu di kuartal III 2019. Hal tersebut juga diikuti dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) perbankan.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved