Reksadana Terproteksi Masih Prospektif

Tren penurunan suku bunga memberi angin segar bagi produk reksadana yang memiliki aset obligasi.

Reksadana Terproteksi Masih Prospektif
kontan.co.id
Reksadana pasar uang 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Tren penurunan suku bunga memberi angin segar bagi produk reksadana yang memiliki aset obligasi. Termasuk, produk reksadana terproteksi yang meluncur di sepanjang tahun ini.

Kinerja investasi obligasi di tahun ini naik cukup tinggi. Menilik data Penilai Harga Efek Indonesia, indeks Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tercatat naik sebesar 10,56% sejak awal tahun hingga Jumat (27/9).

Baca: Waskita Akan Jual Dua Tol ke Konglomerat Hong Kong

Sementara, imbal hasil obligasi negara tercatat mencapai 10,55% di periode yang sama. Sedangkan, imbal hasil obligasi korporasi sekitar 10,57%.

Namun, Presiden Direktur Succorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan, kinerja reksadana terproteksi tidak telalu mendapat pengaruh dari pergerakan kinerja pasar obligasi. Penyebabnya, imbal hasil reksadana terproteksi stabil karena aset dasar dipegang hingga jatuh tempo.

Meski begitu, sejumlah reksadana terproteksi tetap mampu mencetak imbal hasil yang lumayan besar. Contoh, reksadana terproteksi milik Oso Manajemen Investasi. Reksadana Oso Dana Terproteksi VI yang meluncur sejak 26 Maret 2018 mencatatkan return 9,69%.

Sementara, Head of Fixed Income Fund Manager Prospera Asset Management Eric Sutedja mengatakan imbal hasil reksadana terproteksi di Prospera AM untuk tenor tiga tahun berada di 8%.  Sebagai perbandingan, sejak awal tahun, IHSG cuma mencetak kenaikan 0,04%.

Return turun

Bayu Pahleza, Fund Manager OSO Manajemen Investasi, mengatakan, prospek semua reksadana dengan aset dasar obligasi seharusnya positif dengan adanya sentimen penurunan suku bunga. Namun, Bayu kini sedang mengawasi kondisi dalam negeri, apakah ikut terkena gelombang resesi global atau tidak.

Bayu menilai, saat ini ketidakpastian ekonomi global kian mengkhawtirkan dan bukan tidak mungkin bisa menyeret Indonesia mengalami resesi di satu tahun hingga 1,5 tahun ke depan.

Apalagi, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China masih berlangsung. "Jika terjadi resesi, investor akan menghindari pasar keuangan, dus harga obligasi di pasar, terutama obligasi durasi panjang, akan turun dan sentimen penurunan suku bunga jadi tidak berpengaruh," kata Bayu, Jumat (27/9).

Baca: Man United vs Arsenal: Jangan Pecat Ole!

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved