Produksi Membanjir, Harga CPO Jadi Loyo

Sempat berada dalam tren kenaikan, harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) kembali bergerak volatil dengan kecenderungan

Produksi Membanjir, Harga CPO Jadi Loyo
KOMPAS/RENY SRI AYU
Ilustrasi: seorang operator alat berat sedang merapikan tumpukan sawit untuk dimasukkan ke mesih pengolahan CPO. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sempat berada dalam tren kenaikan, harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) kembali bergerak volatil dengan kecenderungan mengalami penurunan akhir-akhir ini. Sejumlah sentimen negatif dari global masih mempengaruhi harga CPO.

Jumat (27/9), harga CPO kontrak pengiriman Desember 2019 di Malaysia Derivative Exchange turun 0,92% ke level RM 2.150 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, harga CPO terkoreksi 3,42%.

Baca: Reksadana Terproteksi Masih Prospektif

Salah satu penyebab penurunan harga CPO adalah potensi bertambahnya suplai CPO di Indonesia. Berdasarkan survei yang dihimpun Bloomberg, persediaan CPO di Indonesia berpeluang naik menjadi 3,70 juta metrik ton di bulan Agustusn 2019. Jumlah ini naik 5,11% dibandingkan dengan bulan Juli lalu.

Padahal di saat yang sama permintaan komoditas yang satu ini masih lemah. Terbukti, ekspor CPO Indonesia diprediksi turun 0,68% ketimbang bulan Juli menjadi 2,90 juta metrik ton di bulan lalu.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, besarnya suplai yang tidak diimbangi permintaan jelas akan membuat harga CPO tertekan. Namun, koreksi harga kali ini masih tergolong wajar.

Baca: Cap Tikus Rasa Kopi Tembus Pasar Global

Dengan adanya fluktuasi harga dalam sepekan terakhir, hal itu menunjukkan masih ada sentimen positif yang dapat menggerakkan harga CPO menjadi lebih baik.

Sentimen positif tersebut berasal dari perkembangan perang dagang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan China. Pekan lalu, delegasi China membatalkan kunjungan ke wilayah pertanian di Nebraska, AS. Alhasil, kunjungan ke negara tersebut menjadi lebih singkat.

Dari situ, terdapat kekhawatiran negosiasi dagang tidak berjalan mulus dan potensi kenaikan tarif impor kedelai yang ditujukan ke Negeri Tirai Bambu akan terjadi.

“China berpotensi memperbanyak pembelian CPO sebagai pengganti dari minyak kedelai kalau perang dagang berlanjut,” ungkap Ibrahim, Jumat (27/9).

Di atas kertas, harga CPO masih rentan mengalami tren bearish. Namun, harapan untuk kenaikan harga tetap ada, meski belum akan signifikan.

Baca: Putrinya Ditangkap lantaran Jual Narkoba: Begini Kata Sri Bintang Pamungkas

Salah satunya adalah musim kemarau berkepanjangan yang melanda Indonesia dan Malaysia. Hal ini dapat mengganggu produksi CPO di kedua negara tersebut.

Potensi peningkatan permintaan CPO juga masih cukup terbuka. “Selain China, ada juga India yang diperkirakan mengalami kenaikan impor CPO hingga 2% di tahun ini,” terang Ibrahim. Permintaan CPO dari India dapat meningkat karena tidak lama lagi di negara ini akan melangsungkan perayaan Diwali.

Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang selepas pelantikan Presiden Joko Widodo periode kedua. Pasalnya, pemerintah Indonesia berupaya mempercepat realisasi biodiesel30 (B30). Alhasil, serapan CPO di dalam negeri berpotensi meningkat.

Dia pun memprediksi harga CPO bergerak di kisaran RM 2.100—RM 2.200 per metrik ton pada pekan depan. (Dimas Andi Shadewo)

 

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved