Renungan
Renungan : Sadar Akan Kematian
Bahasa Latin mengenal ungkapan Memento mori, artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Kenapa mesti diingatkan?
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Maickel Karundeng
Pdt Nico Gara
Jumat, 27 September 2019
Bacaan : Lukas 23:33-39
Setahun: Zefanya 1 - Hagai 2
Nats: Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, "Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" (Lukas 23:39)
Renungan : Sadar Akan Kematian
Bahasa Latin mengenal ungkapan Memento mori, artinya: Ingatlah, Anda akan mati! Kenapa mesti diingatkan?
Bukankah telah jelas bagi semua orang, dirinya akan mati? Rupanya tidak. Itu sebabnya muncul peringatan ini.
Sebab, ternyata banyak orang berlagak seolah-olah dirinya tak akan pernah mati.
Hidupnya ceroboh bukan kepalang, segalanya serba kelewat batas, angkuh, egois, dan jahatnya minta ampun-seperti seakan-akan dirinya hidup terus.
Salah seorang penjahat yang disalibkan di dekat Yesus merupakan contoh ekstrem yang mengagetkan.
Bagaimana tidak? Palang salib siap merenggut jiwanya. Napasnya tersengal-sengal meregang nyawa.
Ajal siap menjemput. Bukit Tengkorak menebar bau kematian yang mencekat di hidungnya.
Alih-alih menyadari akan kematiannya ia malah ikut-ikutan menghujat Yesus (ay. 39). Siapa tidak tergoda untuk berkomentar, "Sungguh tidak tahu diri!"
Apakah kita bekerja terlalu keras tanpa menghiraukan kesehatan?
Atau sebaliknya bermalas-malasan saja seperti tidak akan menjadi tua? Atau kita terlalu sibuk dan enggan melayani Tuhan seakan-akan kesempatan akan selalu ada?
Jika ya, waspadalah! Kita cenderung mengabaikan fakta kematian apabila berkenaan dengan diri sendiri. Padahal ongkosnya terlalu mahal. Yaitu ketidak-siapan menyambut kematian sekaligus untuk menjalani kehidupan dengan baik.
SEBERAPA BAIK DAN BIJAKSANA KITA HIDUP DI DUNIA DITENTUKAN OLEH SEBERAPA SADAR KITA BAHWA HIDUP INI AKAN BERAKHIR.