Opini

Trias Kuncahyono: Kisah dari Taman Firdaus, Korupsi Pertama Manusia

Artinya, koruptor adalah orang yang tidak puas akan keadaan dirinya. Dan, karena sistem memberi peluang maka terjadilah korupsi itu

Trias Kuncahyono: Kisah dari Taman Firdaus, Korupsi Pertama Manusia
Shutterstock
Ilustrasi Korupsi 

Menurut Plutarch (46-119) seorang pengarang Yunani, orang Athena tidak memaafkan tindakan korupsi.

Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) negarawan Romawi kuno korupsi adalah salah satu kejahatan paling serius.

Karena itu, Niccolo Machiavelli (1469-1527) menyebut korupsi sebagai “proses pembusukan moral.”

Jack Bologne dalam teorinya menyatakan korupsi terkait dengan keserakahan dan kerakusan _(greedy_) para pelaku korupsi.

Itu pertama. Lalu, juga berhubungan dengan kesempatan _(opportunity_

Artinya, koruptor adalah orang yang tidak puas akan keadaan dirinya.

Dan, karena sistem memberi peluang maka terjadilah korupsi itu.

Hal itu ditambah dengan sikap mental yang tidak pernah merasa cukup, selalu sarat dengan kebutuhan _(needs_) yang tidak pernah usai.

Apalagi, hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku korupsi yang tidak memberi efek jera pelaku maupun orang lain.

Samuel Huntington dalam buku _Political Order in Changing Societies_ (1968) mendefinisikan korupsi sebagai perilaku pejabat publik yang menyimpang dari norma yang diterima untuk melayani kepentingan pribadi.

Dengan demikian, tidak ada jawaban yang tunggal dan sederhana untuk menjawab mengapa korupsi timbul dan berkembang demikian masif di suatu negara (juga di negeri ini).

Melihat dari definisi tersebut jelas bahwa korupsi tidak hanya menyangkut aspek hukum, ekonomi dan politik tetapi juga menyangkut perilaku manusia _(behavior)_ yang menjadi bahasan utama serta norma _(norms_) yang diterima dan dianut masyarakat.

Tidak mengherankan karenanya kalau korupsi selalu membawa konsekuensi negatif terhadap proses demokratisasi dan pembangunan, sebab korupsi telah mendelegetimasi dan mengurangi kepercayaan publik terhadap proses politik melalui politik uang.

Korupsi juga telah mendistorsi pengambilan keputusan pada kebijakan publik, tiadanya akuntabilitas publikserta menafikan _the rule of law._

Itulah sebabnya, korupsi adalah persoalan yang sangat rumit di banyak negara, apalagi di Indonesia.

Sebab, di negeri ini korupsi menyangkut kultur, pandangan hidup, mentalitas, dan tidak semata-mata hanya masalah ekonomi, dan keterpaksaan.

Apalagi sekarang ini, terjadi kegaduhan luar biasa menyangkut komisi yang mengurusi korupsi: KPK.

Bagaimana bisa memberantas korupsi kalau sibuk gaduh.

Sulit untuk dipungkiri bahwa upaya gerakan anti-korupsi Indonesia telah menjadi komoditas politik untuk menghasilkan dukungan publik, atau paling buruk, sebagai senjata politik.

Bukan berlebihan kalau dikatakan bahwa dorongan anti-korupsi Indonesia dalam bahaya.

Kalau kegaduhan yang sarat kepentingan itu berlarut-larut, maka pembusukan, kebusukan yang melanda banyak (untuk tidak mengatakan semua) institusi di negeri ini akan semakin menjadi-jadi.

Hidup kita bersama pun akan busuk.

Dan, bila kegaduhan terus berkanjut dan dimanfaatkan untuk beragam kepentingan tertentu oleh banyak pihak, maka pada akhirnya upaya gerakan anti-korupsi itu hanya akan menjadi lelucon yang sebenarnya tidak lucu, seperti ular yang berhasil membujuk Hawa makan buah terlarang.

Ular—Raja Kegelapan (Lucifer)—akan terus berusaha mencari mangsa, termasuk membuat kegaduhan, sehingga pada akhirnya Taman Firdaus pun hilang. Karena, _avarus animus nullo satiatur lucro_ – pikiran rakus tidak puas dengan keuntungan berapa pun; entah itu keuntungan ekonomi maupun politik atau yang lain. (Artikel lengkap di https://triaskun.id/?p=1315; dan artikel ini sudah tayang di Kompas.id)

Editor: Finneke Wolajan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved