ODSK Setuju Legalkan PETI Bolmong: Begini Penjelasan Manumpil

Kabar gembira bagi pegiat pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Sulawesi Utara. Gubernur Sulut Olly Dondokambey

ODSK Setuju Legalkan PETI Bolmong: Begini Penjelasan Manumpil
Istimewa
Penindakan Hukum Pada Tambang Bakan Dilematis, WPR Solusi Terbaik 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Kabar gembira bagi pelaku pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Sulawesi Utara. Gubernur Sulut Olly Dondokambey akan melegalkan area PETI untuk dijadikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

Bupati Bolaang Mongondow Yasti Soepredjo Mokoagow mengusulkan PETI di Tanoyan dan Mois jadi WPR. Usulan itu disodorkan ke Pemerintah Provinsi Sulut. Gubernur Olly berpendapat kekayaan alam suatu daerah tentu harus dinikmati rakyat.

Baca: Polda Jatim Siap Hadapi Kompolnas: Dilaporkan Koalisi Masyarakat Sipil Terkait Veronica Koman

"Saya sudah katakan, sumber daya alam yang ada, milik rakyat. Kalau ada tambang rakyat memenuhi syarat, kita berikan izin,” kata dia kepada tribunmanado.co.id, Kamis (19/9/2019).

Wakil Gubernur Steven Kandouw mengatakan, WPR memang jadi solusi permasalaham PETI yang sudah memakan banyak korban. "WPR salah satu jalan keluar yang baik," kata dia. Tapi untuk mengeluarkan izin tetap harus memenuhi syarat. "Dan tetap harus melalui pertimbangan teknis yang komprehensif," ujar politisi PDIP ini.

Kegiatan pertambangan emas juga harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja. "Tambang rakyat itu ada izin, harus ada pemenuhan keselamatan kerja, langkah emegency, tambang harus ada infrastrukrur keselamatan kerja," kata mantan Ketua DPRD Sulut.

Kegiatan PETI sulit ditertibkan. Usai penertiban ramai lagi. Pola itu terus berulang pada PETI di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong. Kini tambang Bakan kembali ramai usai penertiban beberapa waktu lalu. Tambang liar itu sebelumnya berkali-kali ditertibkan.
Informasi yang dihimpun tribunmanado.co.id, ada ratusan penambang yang kembali adu nyawa di sana. Kompleks Superbusa disebut paling ramai.

Seorang penambang yang enggan namanya disebut menyatakan, tambang itu sudah ramai sejak penjagaan masih ketat. "Waktu itu kami masuk lewat jalan tikus, pada dini hari," kata dia. Ia mengaku pernah berhari-hari sembunyi di atas puncak Superbusa. Lokasi puncak tak pernah terjamah polisi. "Mereka hanya jaga di bawah," beber dia.

Ia nekat menambang demi dapur tetap ngepul. Ia mengisahkan di masa masa awal penertiban, ia dilanda stres berat karena minus pemasukkan.
"Anak saya sampai tak sekolah, istri terus menangis," kata dia. Hal itu mendorongnya nekat menambang meski ada risiko tertangkap aparat atau tewas. "Jika tewas sudah takdir, yang penting saya mati demi menafkahi keluarga saya," katanya.

Baca: Pegawai KPK Kecewa dan Sedih: Mahasiswa Goyang DPR

Seorang penambang lainnya menyatakan, pasca penutupan awalnya ia coba mengadu nasib menambang di wilayah Tanoyan yang berdekatan. Hasilnya tak begitu baik, beda jauh dari pendapatannya di kampung sendiri. "Akhirnya saya ikut ajakan teman saya, naik malam hari, lewat jalur memutar, saya harus merangkak hindari petugas," kata dia.

Tiba di atas ia terkejut.Di sana ada ratusan penambang. "Penambang semakin banyak, kami kian leluasa," beber dia. Ia mengungkap, bertahun tahun hidup dari pertambangan. Dalam sepekan ia bisa kantongi uang sekira Rp 4 jutaan. "Dengan itu saya bisa bangun rumah, beli kebun
hingga sekolahkan anak di sekolah layak," kata dia.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved