MTPJ 15 – 21 September 2019

MENJABARKAN TRILOGI PEMBANGUNAN JEMAAT - “Bangkitlah, Jadilah Terang”

Didera oleh berbagai kepahitan hidup dapat membuat orang kehilangan sukacita, semangat dan motivasi. Hidup terasa hambar, tidak berdaya

MENJABARKAN TRILOGI PEMBANGUNAN JEMAAT - “Bangkitlah, Jadilah Terang”
WWW.THOUGHTCO.COM
Renungan 

MTPJ 15 – 21 September 2019

TEMA BULANAN : “Peran Gereja Dalam Menghadirkan Tanda-tanda Kerajaan Allah”
TEMA MINGGUAN : “Bangkitlah, Jadilah Terang”
BACAAN ALKITAB: Yesaya 60:1-22

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Alkitab
Alkitab (Netralnews.com)

Didera oleh berbagai kepahitan hidup dapat membuat orang kehilangan sukacita, semangat dan motivasi. Hidup terasa hambar, tidak berdaya dan kehilangan daya karya dan juang. Apa yang dilakukan seakan tidak berarti dan bermakna lagi. Inilah situasi keterpurukan yang bila berlangsung dalam waktu yang lama akan mematikan harapan. Tidak ada dari kita yang ingin berada dalam situasi demikian. Hidup dalam ketiadaan harapan akan membuat orang sulit menjadi terang atau berkat bagi orang lain.

Bagi yang terpuruk dibutuhkan topangan, dorongan dan bantuan pihak lain supaya kembali dapat berdiri tegak menghadapi kenyataan di hari ini dan peluang kelepasan di hari esok. Inilah yang harus menjadi kerja pelayanan bersama di tengah berbagai bentuk masalah dan penderitaan yang sedang dihadapi.

Secara pribadi, keluarga dan Gereja, kita ditantang menjadi pihak yang memberi semangat dan kekuatan kepada mereka yang masih terbelenggu dengan ketiadaan harapan agar kembali kuat dan mantap menjalani hidup anugerah Tuhan sambil menjadi berkat bagi banyak orang. Sebab itu layaklah kita merenungkan tema: “Bangkitlah, Jadilah Terang!”, sebagai bentuk tanggungjawab hidup beriman yang terus tumbuh dan berkembang di tengah tantangan zaman dewasa ini.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Di tengah bangsa yang nyaris kehilangan harapan karena mengalami masa pembuangan, Yesaya menunjukkan adanya situasi baru yang mengajak umat untuk kembali dari pembuangan, sejalan dengan kebijakan raja Koresh yang membolehkan umat kembali ke Yerusalem. Namun ajakan ini tidak disambut dengan semestinya. Mereka masih diliputi ketakutan membangun hidup di Yerusalem.

Untuk itu firman berbicara tentang perintah Tuhan agar Yerusalem bangkit dan menjadi terang (ayat 1-5). Berlawanan dengan bangsa-bangsa lain yang diliputi kegelapan, hanya di Yerusalem terang terbit dan terang itu adalah bentuk penyataan Tuhan sendiri. Di sanalah bangsa-bangsa dan raja-raja akan datang mencari terang itu. Tidak hanya itu, keturunan mereka akan dibawa masuk ke Yerusalem, termasuk harta kekayaan bangsa-bangsa akan dibawa melalui laut. Hal ini mengejutkan dan membawa kegirangan yang besar.

Bangsa-bangsa dengan hasil bumi dan ternaknya, unta-unta muda dari Midian dan Efa, dari Syeba membawa emas dan kemenyan, kambing domba dari Kedar dan Nebayot yang menyediakan domba-domba terbaik untuk ibadah. Menyebut ibadah, mengingatkan hadirnya Bait Suci yang akan menjadi bagian semarak kehidupan beribadah di Yerusalem. Suatu kumpulan besar “seperti awan dan burung merpati” yakni armada kapal yang datang membawa anak-anak bangsa Yehuda serta emas perak milik mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan (ayat 6-9).

Pengalaman pembuangan merupakan bentuk hajaran Tuhan untuk mendidik umat, dan ketika telah menjalaninya, Tuhan mengasihani mereka dan membalikkan segala yang diambil dari mereka. Bangsa-bangsa yang menindas mereka akan menanggung pembangunan tembok Yerusalem dan bait suci di dalamnya.

Halaman
123
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved