Sekilas Tokoh

Cerita Soeharto Todong Pistol di Kepala Komandan Batalyon TNI Herman Serens: Tak selentik kowe!

Kengerian tersebut diceritakan dalam sudut pandang Herman Sarens Soediro, yang kala itu menjabat sebagai panglima TNI.

Cerita Soeharto Todong Pistol di Kepala Komandan Batalyon TNI Herman Serens: Tak selentik kowe!
Kolase foto: via Kompas.com/via Tribunnews
Kisah Herman Herens Soediro ditodong Pistol oleh Soeharto 

Sehari sebelum kejadian, diketahui Herman memang diserahkan kuasa untuk mengatur gerakan guna menumpas pergerakan PKI.

Cerita Herman Herens Soediro ditodong Pistol oleh Soeharto
Cerita Herman Herens Soediro ditodong Pistol oleh Soeharto (Kolase gambar Kompas.com/Glori K. Wadrianto)

Melalui wewenangnya sebagai Kepala Biro Antar Angkatan danb Kesiapsiagaan Staf Umum AD, Herman mengambil alih 10 unit truk yang berada di pool Resimen Cakrabirawa Cawang untuk Brigade Kavaleri Letnan Kolonel Wing Wiryawan.

Selanjutnya Herman bergerak ke Jalan Madiun, mengobrak-abrik markas Badan Pusat Intelijen (BPI) pimpinan Soebandrio dan menangkap orang-orang yang terlibat atau diduga PKI.

Tindakannya yang dinilai terlalu gegabah dan beresiko karena menggunakan kekuatan pasukan dalam skala yang cukup besar membuat Soeharto marah besar padanya.

Keputusan Herman kala itu dianggap melangkahi posisi Soeharto sebagai Panglima Kostrad yang dinilai lebih berwenang.

Seperti yang dituturkam oleh sejarawan Rushdy Hoesein dalam buku tersebut, Herman sempat merasa ketakutan dengan amukan mantan presiden tersebut.

Herman sadar betul apa yang dia lakukan memang agak gegabah.

Baca: Kisah Ibu Tien, Alami Derita Batin saat G30S/PKI Terjadi, Jendral Diculik, Tommy Soeharto Masuk RS

Baca: KISAH Soekarno Secara Sekejap Hentikan Pidato Pasca G30S/PKI, Gara-gara Selembar Kertas Penting Ini

Baca: Ucapan Soeharto pada Soekarno Jelang G30S/PKI Pecah, Peringatan Diabaikan, Kejujuran Petahana ke-2

Terlebih lagi, menurut Rusdhy Hoesein, Soeharto memang acap kali menunjukkan bahwa ia memiliki perangai yang pantang untuk dilangkahi.

"Kalau (pistol) itu meledak, mati gue,” kata Herman kepada Rusdhy Hoesein setelah bertahun-tahun kemudian.

Kendati demikian, Herman mengaku langsung meminta maaf kepada Soeharto saat itu karena telah membuat keputusan yang terburu-buru.

Halaman
1234
Penulis: Reporter Online
Editor: Frandi Piring
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved