Breaking News:

News

'Kami Putus Asa!' Malaysia Resah Diserbu Babi Hutan dari Indonesia

“Invasi babi hutan ke laut membuat kami putus asa karena populasi hewan meningkat di Melaka."

Editor: Fransiska_Noel
Via Dartagnan.com
Ilustrasi Babi Hutan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Selain masalah imigran yang masuk secara ilegal ke Melaka melalui selat, negeri jiran saat ini juga menghadapi masalah lintas batas lainnya yakni invasi babi hutan dari Indonesia. Ketua Komite Pertanian, Pengembangan Agribisnis, dan Koperasi Melaka, Norhizam Hassan Baktee mengatakan, babi hutan adalah perenang yang hebat, tetapi pemerintah Malaysia tidak pernah berharap mereka menyeberangi Selat Malaka yang sempit dari Sumatera untuk mencari habitat baru di negeri Jiran.

“Invasi babi hutan ke laut membuat kami putus asa karena populasi hewan meningkat di Melaka. Pulau mistis Pulau Besar di sini telah menyaksikan kerusakan luas dari 'migrasi' puluhan babi hutan, termasuk anak babi," katanya seperti dikutip The Star, Jumat(6/9).

Norhizam mengatakan, para nelayan melaporkan melihat moncong babi hutan dalam gelap di sepanjang garis pantai Melaka hampir setiap malam. "Sekarang Melaka dihuni oleh babi hutan liar dari Indonesia," kata Norhizam.

Dia mengatakan jumlah babi hutan bisa melebihi jumlah manusia di Pulau Besar jika situasinya tidak terkendali. "Pulau Besar tampaknya menjadi titik pendaratan bagi babi hutan sebelum mereka menyeberang ke daerah yang dekat dengan Ujong Pasir di daratan dan daerah pesisir lainnya," katanya.

Norhizam mengatakan, Departemen Satwa dan Taman Nasional Melaka (Perhilitan) sekarang fokus pada pemberantasan populasi babi hutan yang tinggi di Pulau Besar. "Perhilitan membawa tiga penembak tajam dalam sebuah misi untuk menyelamatkan Pulau Besar dari invasi babi hutan," katanya.

Norhizam mengatakan Pulau Besar adalah situs penting untuk Melaka dan dikaitkan dengan kisah-kisah mitos. Beberapa menyebutkan paling awal dari pulau itu dalam legenda Putri Gunung Ledang. Sang putri peri dikatakan telah secara tidak sengaja menusuk suaminya dengan jarum beracun saat berlayar di lepas pantai di sini dan kemudian menggunakan Pulau Besar sebagai batu loncatan untuk terbang ke Gunung Ledang.

"Pulau-pulau di sini juga dikaitkan dengan armada harta karun terkenal abad ke-15 Cina yang dikomandoi oleh Laksamana Zheng He. Zheng He menggunakan Melaka sebagai pangkalan maju untuk perjalanan epiknya ke India, Sri Lanka, dan seterusnya ke Afrika. Bagian dari armadanya dikatakan berlabuh di sini. Pulau Besar juga merupakan rumah bagi beberapa sumur kuno, tempat pemujaan, dan kuburan yang telah menjadi objek wisata populer," ujar Norhizam.

Diragukan

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono meragukan klaim dari pemerintah Malaysia yang menyebut babi hutan melakukan invasi ke Pulau Besar melalui Selat Malaka dengan cara berenang. Kata Suharyono babi memang bisa berenang tapi tidak untuk jarak sejauh di Selat Malaka.

"Apa iya babi mampu berenang di Selat Malaka puluhan kilometer itu. Inilah yang kita ragukan,” kata Suharyono.

Suharyono juga mengatakan sulit membuktikan klaim otoritas Malaysia tentang babi hutan dari Indonesia menyeberang ke wilayah mereka. “Kalau hanya sekadar diklaim ada babi di pantai Malaysia lantas dianggap menyeberang dari Indonesia, ya kan sulit pembuktiannya seperti itu. Kita ragu babi mampu menyeberangi Selat Malaka itu,” ujar Suharyono.(Tribun Network/The Star/wly)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved