Editorial
Editorial Tribun Manado: Legislator Belia
Adrian dan Hillary selain baru, mereka juga belum punya pengalaman duduk di lembaga legislatif.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum RI menetapkan 575 anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024, Sabtu (31/8/2019). Sebanyak 20 legislator itu berusia di bawah 30 tahun. Dua di antaranya berasal dari Sulawesi Utara. Mereka adalah Adrian Jopie dan Brigitta Lasut.
Adrian yang merupakan putra Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu masih berusia 25 tahun. Politikus Partai Golkar ini meraup suara 70.621 pada pemilihan umum anggota legislatif 2019.
Adapun Hillary Brigitta Lasut lebih muda lagi. Putri dari Elly Lasut dan Telly Tjanggulung masih berusia 23 tahun. Hillary yang berasal dari Partai Nasdem lolos ke Senayan dengan jumlah 70.345 suara.
Bersama dengan Adriana Dondokambey, Herson Mayulu, Felly Runtuwene, dan Vanda Sarundajang, mereka akan mewakili Sulawesi Utara di Senayan. Dari enam orang tersebut, hanya Vanda sebagai petahana. Lima lainnya pendatang baru.
Adrian dan Hillary selain baru, mereka juga belum punya pengalaman duduk di lembaga legislatif.
Adriana dan Felly mengecap DPRD Sulawesi Utara, sementara Herson pernah menjadi anggota DPRD Bolaang Mongondow (Bolmong). Herson juga dua kali terpilih menjadi bupati.
Usia muda tentu bukan halangan untuk mewakili 2,5 juta penduduk Sulawesi Utara. Namun, tentu, bukan perkara mudah juga mereka menaklukkan tantangan di percaturan politik nasional. Wakil-wakil dari daerah lain pun akan berjibaku untuk memperjuangkan kepentingan.
Bahkan sebelum menjalankan amanah, mereka harus menerima dibandingkan dengan anggota DPR RI asal Sulawesi Utara sebelumnya, seperti Olly Dondokambey, Yasti S Mokoagow, atau EE Mangindaan.
Olly sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI, Yasti S Mokoagow menjadi Ketua Komisi V, dan EE Mangindaan menjabat Wakil Ketua MPR. Tentu tidak mudah menyamai jejak mereka. Namun hal tersebut bisa jadi pelecut motivasi.
Masyarakat Sulawesi Utara tentu berharap kepada wakil mereka, bukan hanya Hillary dan Adrian tentu saja.
"Mereka punya tanggung jawab moril untuk membuktikan apa yang pernah mereka janjikan," ujar Ferry Daud Liando, pengamat politik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).
Para wakil rakyat harus membuktikan dengan kiprah mereka. Legislator dipilih bukan untuk duduk-duduk saja. Max Rembang, kolega Ferry di Unsrat, para pendatang baru itu harus cepat beradaptasi dan belajar banyak secara cepat.
Satu di antaranya adalah kemampuan untuk berbicara. Menurut Max, salah satu kritik pedas kepada anggota dewan, ada yang tak bisa bicara. Namun juga, tak sekadar bicara, tapi punya nilai kritis, argumentatif, dan solutif.
Masih menurut Max, seorang wakil rakyat harus memiliki personal influence (kemampuan memengaruhi). Belum cukup itu saja, seorang wakil rakyat harus punya kemampuan lobi bahkan negosiasi.
Khusus kemampuan ini tak didapat instan tapi karena memiliki pengalaman dan telah berhasil membentuk jejaring. Paling penting juga integritas. Tak sedikit wakil rakyat saat ini ditangkapi KPK karena terindikasi korupsi.
Sekali lagi, tidak mudah menjalaninya, tapi bukan berarti tidak mungkin. Mereka harus siap memastikan kepentingan masyarakat Sulawesi Utara bisa terakomodasi. Masyarakat Sulawesi Utara tentu mendoakan mereka, tapi doa saja tidak cukup. Usaha keraslah! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/legislator-milenial-sulut-di-senayan.jpg)