Tajuk Tamu Tribun Manado

Melacak Akar Filosofi Budaya Bangsa

Pembangunan jati diri bangsa atau sering diidentikkan dengan identitas manusia, juga harus ditegaskan dengan sebuah pemahaman akan falsafah budaya.

Melacak Akar Filosofi Budaya Bangsa
antara
Presiden Jokowi pimpin upacara Hari Lahirnya Pancasila di Istana Jakarta, Jumat (1/6/2018). 

Oleh:
Ambrosius M Loho MFil
Pegiat Filsafat

KEBUDAYAAN adalah sesuatu yang terus berlangsung dan tak akan berhenti pada titik tertentu. Dan sebagaimana kita ketahui, kebudayaan adalah hasil interaksi kehidupan bersama suatu bangsa.

Dalam dunia realitas, manusia senantiasa mengalami perubahan-perubahan alamiah, juga karena berada dalam perubahan. Maka suatu gerak perubahan sering dikenal dengan sebutan dinamika kebudayaan.

Dalam proses perkembangannya, kreativitas dan tingkat peradaban masyarakat sebagai pemiliknya sehingga menyebabkan kemajuan kebudayaan dalam suatu kelompok masyarakat, sesungguhnya merupakan cermin dari kemajuan peradaban masyarakat tersebut. (Akkase Teng 2017: 71).

Dalam konteks mempertahankan budaya (lokal), misalnya, sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya berjudul “Pembanguan Jati Diri Bangsa” (Tribun Manado Rabu 31 Juli 2019), telah diuraikan bahwa yang sangat perlu dipertimbangakan serta dipikirkan, terutama dalam menghadapi budaya yang modern adalah pembangunan jati diri bangsa. Kendati demikian penting, pada dasarnya pembangunan jati diri bangsa tersebut, harus pula ditopang oleh pemahaman tentang falsafah budaya.

Pembangunan jati diri bangsa atau yang sering diidentikkan dengan identitas manusia, juga harus ditegaskan dengan sebuah pemahaman akan falsafah budaya. Adapun falsafah budaya dipandang sebagai tindak lanjut pembangunan jati diri bangsa, juga karena falsafat budaya itu mengandung nilai-nilai khas lokal setempat, untuk memperkuat atau menopang eksistensi budaya itu.

Pertanyaannya, apa yang paling memungkinkan untuk dijadikan fondasi falsafah budaya kita, yang katakanlah, kekinian itu? Jawabannya adalah berpijak dari Pancasila.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa arah pembinaan kebudayaan Indonesia harus berpijak pada dasar filsafat bangsa yaitu Pancasila, artinya bahwa bentuk-bentuk kebudayaan sebagai pengejawantahan pribadi manusia Indonesia, harus menunjukkan, nilai-nilai esensial dari Pancasila sebagai dasar filsafat bangsa.

Baca: BPIP: Upaya Ganti Pancasila dan Sikap Intoleransi Juga Masih Tinggi

Baca: Ahok: Tugas Saya Gelorakan Pancasila, Ingatkan Bahaya Radikalisme, Menangkan PDIP di Atas 30 Persen

Sartono Kartodirdjo berpendapat bahwa permulaan kehidupan bangsa Indonesia dalam kerangka kebudayaan nasional yang berdasarkan Pancasila, adaIah proses yang timbal balik antara yang ideal .dan yang aktual, antara "kebenaran ideal" dengan “realitas”, antara nilai-nilai dan perilaku individu, dan lain sebagainya. Hubungan kultural itu dapat dipandang sebagai proses yang menjembatani (bdk. SriSoeprapto & Jirzanah 1996: 20).

Hal ini tentu mengisyaratkan sebuah langkah bahwa di dalam Pancasila harus ada sinergitas antara kemajuan dalam kebudayaan dengan sesuatu yang ideal. Dengan demikian, maka kebudayaan kita sungguh-sungguh berpijak dari fondasi yang kuat dan terukur.

Halaman
12
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved