Uang Pelicin untuk Aparat di Plastik Hitam

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menceritakan kronologi operasi tangkap tangan (OTT) dan terungkapnya kasus suap

Uang Pelicin untuk Aparat di Plastik Hitam
kontan.co.id
Petugas menghitung pecahan 100 ribu rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menceritakan kronologi operasi tangkap tangan (OTT) dan terungkapnya kasus suap dalam lelang pekerjaan rehabilitasi saluran air hujan Dinas PUPKP Kota Yogyakarta yang melibatkan jaksa Kejari Yogyakarta, Eka Safitra dan jaksa Kejari Surakarta, Satriawan Sulaksono, dan Direktur Utama PT Manira Arta Mandiri (MAM) Gabriealla Yuan Ana.

Baca: Ini Hadiah Pangeran Abu Dhabi ke Jokowi

Mereka antara lain, Eka Safitra, Gabriella Yuan Ana, Anggota Badan Layanan Pengadaan, Anggota Pokja Lelang Pengadaan Rehabilitasi Saluran Air Hujan Jalan Supomo Baskoro Ariwibowo, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPKP Yogyakarta Aki Lukman Nor Hakim, dan Direktur PT Manira Arta Mandiri Novi Hartono.

Mulanya KPK mendapat informasi akan ada penyerahan uang terkait dengan pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur Dinas PUPKP Kota Yogyakarta 2019 pada Senin, 19 Agustus 2019.

Setelah memastikan adanya penyerahan uang, kata Alex, KPK mengamankan Direktur PT Manira Arta Mandiri Novi Hartono yang baru keluar dari rumah jaksa Eka Safitra, di Jalan Gang Kepuh, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, pada pukul 15.19 WIB.

Selanjutnya, KPK ke rumah jaksa Eka Safitra di Yogyakarta dan mengamankan yang bersangkutan di dalam rumahnya pada pukul 15.23 WIB.

Baca: Ajudan Mantan Gubernur Jatim Jalan Cepat Tinggalkan KPK

Dari jaksa Eka Safitra, petugas KPK mengamankan uang dalam plastik hitam sebesar Rp110.870.000. "Uang inilah yang diduga sebagai fee dari pelaksanaan royek-Proyek Infrastruktur Dinas PUPKP Kota Yogyakarta 2019," ungkap Alex.

Selanjutnya, secara paralel tim KPK mengamankan atasan Novi Hartono, Gabriella Yuan Ana, di kantornya di sekitar Jalan Mawar Timur Dua, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 15.27 WIB. Selanjutnya, semua pihak yang diamankan di Solo dibawa ke kantor Mapolresta Surakarta, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kemudian, petugas bergerak Aki Lukman Nor Hakim di Kantor Dinas PUPKP Yogyakarta pada 15.42 WIB. Selanjutnya, KPK mengamankan Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPKP Yogyakarta, Aki Lukman Nor Hakim Baskoro Ariwibowo, di kantor Badan Layanan Pengadaan Yogyakarta pada 15.57 WIB.

"Setelah itu, pihak yang diamankan dibawa ke Polresta Surakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata Alex.

KPK menduga Eka Safitra dan Satriawan Sulaksono membantu memuluskan Gabriella Yuan Ana agar kepentingannya mendapatkan proyek pengerjaan rehabilitasi saluran air hujan di Jalan Supomo Yogyakarta dengan pagu anggaran sebesar Rp10,89 miliar berjalan lancar.

Proyek tersebut diawasi oleh Tim TP4D.‎ Dalam hal ini, Eka Safitra merupakan anggota TP4D dari Kejari Yogyakarta. Satriawan merupakan jaksa yang mengenalkan Gabriella ke Eka Safitra.

Baca: Sebanyak 268 Anggota DPR Absen Rapat Paripurna

Setelah dilakukan berbagai upaya, akhirnya PT Windoro Kandang ‎(WK) yang merupakan perusahaan Gabriella dengan cara pinjam bendera memperoleh proyek tersebut. Eka Safitra dan Satriawan Sulaksono diduga telah menyepakati komitmen fee 5 persen dari total proyek sebesar Rp8,3 miliar.

Dari rangkaian upaya OTT tersebut, pihak KPK belum berhasil menangkap jaksa Satriawan Sulaksono. Padahal, oknum jaksa tersebut mempunyai banyak peran dan turut mendapat bagian dari pemberian suap sehingga ikut ditetapkan sebagai tersangka penerima suap oleh KPK.

Pihak KPK mengimbau agar jaksa Satriawan Sulaksono selaku tersangka segera menyerahkan diri. "KPK mengimbau agar tersangka SSL, jaksa di Kejaksaan Negeri Surakarta bersikap kooperatif dan menyerahkan diri ke KPK untuk proses hukum lebih lanjut," tegas Alex. (tribun network/ilh/coz)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved