Kebakaran Hutan Menjadi-jadi: Begini Kata Ahli Kehutanan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak terhindari di Sulawesi Utara. Sejumlah titik api terpantau mulai Kabupaten Bolaang Mongondow,

Kebakaran Hutan Menjadi-jadi: Begini Kata Ahli Kehutanan
Istimewa
Karhutla di kawasan Jalan Ringroad Kota Manado. 

Kejadiannya berdasarkan karakteristik daerah, penyebabnya di tiap daerah lain, khusus untuk kebakaran hutan lahan. Penyebab kebakaran bisa dipicu oleh faktor angin yang bertiup, ditambah dengan cuaca panas, sehingga terjadi gesekan rumput yang menimbulkan titik api.

Juga bisa api timbul karena kelalaian warga berupa membuang puntung rokok sembarangan, saat terkena daun kering langsung memicu kebakaran. Pun dengan pembukaan lahan untuk pertanian. Biasanya saat sudah malas membersihkan, mereka ambil jalan pintas dengan membakar lahan, yang akhirnya menyebar ke mana-mana.

Saat ini banyak sekali terjadi perombakan hutan menjadi lahan pertanian. Biasanya dilakukan dengan cara dibakar. Diperkirakan di Sulut sekitar 40 persen, terjadi konversi di hutan. Ekosistem hutan di Sulut juga sudah agak rapuh. Sebenarnya di hutan banyak yang kosong, karena perambahan hutan dan pembuatan perkebunan.

Upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah, turun ke lapangan untuk mencari penyebab terjadinya kebakaran sehingga bisa dilakukan antisipasi. Sekarang kan mudah mencari titik api dengan menggunakan global positioning system (GPS). Selain itu, kesadaran masyarakat juga untuk tidak buang puntung rokok sembarangan, dan tidak membakar rumput atau sampah sembarang, perlu ditingkatkan.

Sebab bisa jadi sampah yang dibakar terbawa angin dan bisa membakar rumput dan bisa merembet ke wilayah hutan dan lahan. Sulut saat ini harus waspada terhadap kebakaran lahan dan hutan, karena memang hutan Sulut sudah sangat rapuh. 

Sumur Air Sudah Kering

Kekeringan mulai berdampak ke warga Kota Manado. Mereka terpaksa membeli air menyusul kekeringan sumber air bersih seperti sumur. Satu tangki berisi 1.000 liter air dibeli seharga Rp 75 ribu.

Andino Grandtino (23), warga Kelurahan Paniki Bawah, Kecamatan Mapanget mengatakan, sudah hampir sebulan sumur miliknya kering. "Air sumur kering, biasanya ambil air di tetangga sebelah, tapi karena sudah sama-sama kering saat ini cuma beli air isi ulang," ujarnya warga kepada tribunmanado.co.id, Kamis (15/8/2019).

Sehari 4 gelon air isi ulang dan sudah sekitar 5 hari dirinya membeli. "Sudah 5 hari ini beli air gelon, satu gelon Rp 5.000 jadi kalau 4 gelon bisa Rp 20.000," ujarnya. Lantaran mahal, ia memutuskan untuk menampung air di dekat sungai. "Sekarang menampung air di dekat sungai, kalau hari-hari beli air isi ulang bisa rugi. Ya beli air isi ulang cuma sekadar saja untuk minum dan gosok gigi," bebernya.

Tak hanya dia yang pergi menampung di sungai. Ada beberapa warga juga ikut menampung air di sungai. "Ada beberapa anak dan warga pergi menampung air di situ (sungai), di situ ada seperti pipa terus ada air mengalir nah air mengalir itu yang saya tampung isi di gelon bawa pulang pakai motor," jelasnya.

Menurutnya, musim kemarau seperti ini sudah pernah dialaminya beberapa tahun lalu, jadi dirinya sudah biasa dengan mengambil air dari sungai.
"Sudah biasa kak, dulu juga seperti ini makanya di sini (sungai) sudah disediakan pipa untuk air mengalir," bebernya.

Tak jauh berbeda dengan Windi (53). Ia mengatakan, membeli air 1.000 liter dengan harga Rp 75 ribu. "Setiap dua hari sekali beli 1 tong yang isinya 1.000 liter, sekali beli Rp 75 ribu, kami ada 11 anggota keluarga jadi kalau musim kemarau begini gak cukup untuk menampung air atau beli isi ulang yang harga Rp 5.000," ucapnya.

Ia menambahkan, air yang dibelinya itu selain untuk mandi juga untuk kebutuhan memasak dan mencuci. "Ya buat mandi, masak juga cuci piring, kalau baju di laundry, gak cukup airnya kalau buat cuci baju juga," ujarnya tersenyum.

Berbeda dengan Boim Sili (42), ia mandi di sungai. "Kalai mandi ya mending di sungai, kalau untuk masak beli air isi ulang, kalau air tampungan di sungai buat persediaan kalau malam suka buang air, tapi buat masak bukan air sungai," ujar pria asal Mapanget ini.

Ia berharap, musim kemarau segera usai, supaya kekeringan berakhir dan tak susah lagi cari air bersih untuk sehari-hari. "Cukup sampai akhir Agustus, gak usah berlanjut musim kemaraunya, susah air bersih," ucapnya. (art/dru/crz/ana)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved