Breaking News:

News

Tercekik Hutang Rp 10 Juta di Rentenir, Saiful Nekat Jual Ginjalnya di Pinggir Jalan

Foto Saiful bersama dua anaknya sedang berusaha menarik pembeli untuk beli ginjalnya beredar di media sosial dan menjadi viral.

MSTar/Facebook
Viral foto Saiful sambil bawa dua anaknya nekat jajakkan ginjalnya di pinggir jalan untuk bayar utang ke rentenir. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tak kuat hadapi tekanan rentenir yang setiap hari menagih hutang padanya, Saiful nekat menjajakan ginjalnya di pinggir jalan.

Foto Saiful sedang berusaha menarik pembeli untuk beli ginjalnya beredar di media sosial dan menjadi viral.

Dikutip dari MStar, pria berusia 31 tahun asal Penang ini menarik perhatian netizen ketika seorang pengguna Facebook berbagi foto dirinya sedang jajakkan ginjal di bawah terik matahari dengan anak-anaknya, lengkap dengan sebuah karton dengan bertuliskan tujuan dirinya ada disitu.

Sekilas anda akan berpikir dia meminta sumbangan, tetapi tulisan di kartin itu berbunyi, "Saya ingin menyumbangkan ginjal saya, golongan darah B", diikuti dengan nomor kontaknya untuk dihubungi.

Banyak yang bingung dengan tindakan Saiful dan mempertanyakan mengapa ia tidak mendaftarkan diri sebagai donor organ daripada menjual organnya di pinggir jalan. Ternyata, ceritanya lebih kompleks dari yang terlihat.

Saiful mengatakan bahwa dia ingin menjual ginjalnya karena masalah keuangan.

Dia menjelaskan bahwa dia menggunakan istilah "menyumbang" pada kertas karton yang tergantung di lehernya, karena dia takut orang akan berpikir dia menjual anak-anaknya atau organ anaknya.

Dia menambahkan bahwa ketika seseorang mendekatinya, dia akan menjelaskan kebenaran kepada mereka, tentang tulisan yang ada di karton tersebut.

Rupanya, Saiful sudah terdaftar sebagai donor organ pada tahun 2012, tetapi ia tidak punya pilihan selain menjual ginjalnya, karena ia menghadapi banyak hutang.

Dia mengatakan bahwa dia telah meminjam RM 3.000 atau setara Rp 10 Juta dari Ah Long (seorang rentenir ilegal) dua bulan lalu karena dia ingin membuka warung ayam goreng di dekat rumahnya.

“Sekarang, saya harus membayar RM 36 setiap hari kepada rentenir dan keuntungan warung saya hanya RM50 hingga RM60 per hari. Setelah membayar rentenir, saya tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan, uang sewa, dan menghidupi keluarga saya, ” katanya.

Ia memiliki dua putra, masing-masing berusia dua dan tiga tahun, dan mobil yang ia gunakan saat ini milik ayah mertuanya.

Ketika ditanya tentang bantuan keuangan dari lembaga pemerintah, khususnya program Zakat, Saiful mengklaim bahwa dia telah kehilangan MyKad-nya untuk ketiga kalinya dan tidak bisa mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Saiful mengatakan bahwa ia tidak mampu membayar denda RM1.000 untuk mengganti kartu identitasnya.

Meskipun dia memiliki banyak hutang, dia bersikeras bahwa dia lebih suka menjual ginjalnya daripada dipermalukan karena harus meminta bantuan keuangan dari keluarga dan mertuanya.

Ketika ditanya berapa harga yang ia patok untuk ginjal yang ia jual, dia mengatakan bahwa dia tidak keberatan berapapun harganya, asalkan jumlahnya dapat menutupi utangnya.

"Rentenir tidak peduli apakah Anda membutuhkan uang untuk pendidikan anak Anda atau untuk menyembunyikan kebiasaan anda yang tidak sehat. Mengingat tingkat bunga konyol mereka, kadang-kadang setiap hari atau setiap jam, mereka membuat keuntungan ekstrem dari situasi putus asa Anda," ujar Saiful.

Lanjutnya, "berhati-hatilah dengan orang yang ramah di telepon yang menawarkan pinjaman cepat dapat dengan cepat berubah mengancam ketika peminjam tidak dapat melakukan pembayaran kembali." (MStar)

Penulis: Fransiska_Noel
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved