Wisata Minahasa
Gunung Soputan Jadi Spot Wisata Favorit Kaum Milenial
"Kesannya sangat terasa saat melihat suasana hutan yang dipenuhi pohon pinus ditambah udara yang dingin sehingga sangat nyaman
Penulis: Andreas Ruauw | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO.CO.ID, MINAHASA - Nober No Lolowan (66) seorang warga lokal yang tinggal di pos pendakian Gunung Soputan tepatnya di Wilayah Tompaso Barat, Desa Pinabetengan, Minahasa ini merupakan orang yang cukup populer di kalangan pendaki Sulawesi Utara.
Pasalnya pria paruh baya yang berprofesi sebagai petani ini juga mengabdikan dirinya untuk bertugas sebagai pengawas di pos pendakian selama kurang lebih 28 tahun, bahkan sebelum jalur pendakian Pinawetengan dibuka pada tahun 1989.
Nober yang akrab disapa Opa No ini juga menjadikan rumahnya sebagai tempat singgah bagi para pendaki yang sudah berjalan lintas desa dan kebun sepanjang empat kilometer dari desa terdekat.

Rumah sekaligus kantin miliknya tersedia bermacam-macam jajanan yang sederhana berupa mie instan, cemilan dan air mineral yang harganya terbilang murah.
Tidak lupa juga Opa No menyediakan minuman tradisional saguer untuk ditawarkan kepada pengunjung domestik dan manca negara bilamana melintas di depan rumahnya.
Opa No bersama istri mengaku selalu menganggap para pendaki seperti anak mereka sendiri, "walaupun kami punya tiga anak, tapi kami tetap menganggap para pendaki yang datang di gunung ini sebagai anak kami," katanya.

Opa No selalu antusias menjalani tugasnya sebagai pengawas pos pendakian walau harus standby selama 24 jam, "saya senang jika banyak pendaki yang melintas, bahkan saya dan istri sangat menikmati melayani para pendaki yang datang pada hari raya peringatan 17 Agustus yang waktu itu bisa sampai ribuan orang," tandas nya berseri.
Saat ini kendaraan roda dua sudah bisa masuk hingga pos satu Gunung Soputan, perjalanan yang harus ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam kini sudah bisa hanya dengan memakan waktu 15 menit.
Beberapa jenis motor seperti matic dan motor bebek pun sudah dengan leluasa menyusuri jalan para pendaki yang berawal dari Desa Toure, Kecamatan Tompaso, Minahasa.
Walaupun kondisi jalan yang masih berbatu dan sempit tidak menghalangi para pengendara yang ingin segera tiba di basecamp Gunung Soputan.

Hal ini pun mengundang tanggapan dari seorang pengawas pos pendakian bernama Nober No Lolowan (66).
Nober mengaku sejak dibukanya jalur pendakian dari Desa Pinawetengan Wilayah Tompaso Barat, Minahasa sejak tahun 1989 tidak terpikir olehnya akan ada banyak kendaraan roda dua yang mampu sampai ke basecamp, karena sejauh ini hanya motor trail saja yang bisa melintasi jalur pendakian.
"Alangkah baiknya memang jalur pendakian dilalui dengan berjalan kaki agar makna mendaki itu lebih bisa dirasakan, dan juga semoga pemerintah memberih perhatian terutama pada jalur ke basecamp agar tetap pada kondisi suasana pendakian," tandas Nober.
Walaupun kondisi gunung Soputan masih aktif dan sering mengeluarkan erupsi namun masih ramai dikunjungi pendaki.
Saat dipantau Tribun Manado belum lama ini, banyak pendaki dari berbagai kalangan dan usia menghapiri basecamp Gunung Soputan.
Menurut data pengunjung yang ada di pos pendakian Pinus Satu, para pendaki yang datang bisa mencapai tiga ratusan hingga lima ratus lebih per minggu.