Pilkada Sulut 2020

Pengamat Politik DR Alfons Kimbal : Hilangnya Simpul-Simpul Kekuatan Golkar

Partai Golkar Sulut di masa kini belum bisa menyamai kekuatan di masa lalu.

Penulis: Ryo_Noor | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO/RYO NOOR
Pengamat Politik Sulut, DR Alfons Kimbal 

Pengamat Politik Sulut

DR Alfons Kimbal

TRIBUNMANADO. CO. ID, MANADO - Partai Golkar Sulut di masa kini belum bisa menyamai kekuatan di masa lalu.

Ada dua hal yang perlu dicermati. Pertama, kekuasaan hari ini tidak bisa berdiri pada simpul-simpul tradisi kekuasaan partai Golkar yang sudah berdiri sebelumnya, sehinggga simpul-simpul kekuasaan Partai Golkar saat ini tidak mayoritas dalam perpolitikan saat ini

Maksudnya, semisal pengalaman di masa Golkar di bawah tampuk kepemimpinan Jimmy Rimba Rogi (Imba) dan Stevanus Vreeke Runtu berkuasa, itu tidak menjamin menjadi simpul kekuasaan yang terbangun untuk Golkar saat ini dalam Kontestasi Pilkada provinsi, kabupaten dan kota.

Jadi kehadiran tokoh-tokoh Partai Golkar yang pernah berkuasa sebagai kepala daerah tidak menjadi harga mati sebagai sesuatu kekuatan dari Partai Golkar.

Mengapa? karena tidak mempunyai simpul kekuasaan yang kuat dalam perpolitikan saat ini. Politik elektoral sudah terjadi pergeseran saat ini.

Jadi masalahnya Vreeke seorang tokoh politik partai, tetapi tidak memiliki jaringan informalitas untuk membangun kekuatan politik termasuk juga Imba, merupakan tokoh Partai Golkar tetapi tidak memiliki jaringan Politik yang kuat.

Imba punya kekuatan kenangan.

Ada kekuatan manis dalam psikologis masyarakat kota Manado maupun Sulawesi Utara.

Jadi kepemimimpinan Imba ada efek kepemimpinan daya ingat dari masyarakat, tetapi sebaliknya kekuatannya itu akan menghadapi kekuatan politik saat ini dalam kontestasi Pilkada yakni PDI Perjuangan.

Karena bagaimanapun opini publik sudah terbentu, PDI Perjuangan punya kekuasaan terstruktur yang sangat kuat di daerah baik provinsi, kota, kabupaten sampai di tingkat desa.

Prediksi kekuataan golkar, yakni berkumpulnya tokoh-tokoh Golkar yang pernah menjabat publik tetapi telah kehilangan basis dan jaringan politik.

Kedua secara politik formal hari ini Partai Golkar tidak memegang simpul-simpul birokrasi, tingkat provinsi, kabupaten kota. Jadi dalam pelaksanaan Pilkada dukungan birokrasi sangat lemah untuk mendukung calon Partai Golkar dalam kontestasi pilkada yang akan dilkasanakan nanti.

Konsolidasi dukungan kekuatan politik melalui birokrat kurang, hal ini yang menjadi salah satu kelemahan Partai Golkar

Kekuatan politik melalui birokrat hanya dimiliki oleh partai yang memiliki kekuatan formal dalam pemerintahan.

Hal tersebut bisa dilihat dengan peran Olly sebagai gubernur untuk mengkonsolidasi kekuatan politik melalui birokrat.

Golkar hari ini seperti kehilangan kepercayaaan diri untuk mendukung Tety Paruntu.

Pertarungan di Provinsi Tetty harus realistis untuk papan dua dengan memperhatikan koalisi partai politik. (ryo)

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved