Komisioner KPK Kesulitan Jawab Pertanyaan Pilihan Ganda: Ini Permintaan Ketua Pansel

Sebanyak 192 pendaftar calon pimpinan KPK Kamis (18/7) mengikuti tahapan seleksi berikutnya.

Komisioner KPK Kesulitan Jawab Pertanyaan Pilihan Ganda: Ini Permintaan Ketua Pansel
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan (tengah) dan Alexander Marwata (kedua kanan) berfoto bersama Ketua Pansel calon pimpinan KPK Yenti Garnasih (keempat kiri) dan anggota Pansel Capim KPK lainnya seusai pertemuan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (12/6/2019). Panitia seleksi calon pimpinan KPK bertemu dengan pimpinan lembaga antirasuah tersebut untuk membahas terkait proses seleksi pimpinan KPK jilid V berikut rekam jejak para calon yang ikut seleksi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sebanyak 192 pendaftar calon pimpinan KPK Kamis (18/7) mengikuti tahapan seleksi berikutnya. Bertempat di Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara, Jalan Gaharu I Nomor 1, Cilandak, Jakarta Selatan, seleksi uji kompetensi digelar.

Salah satu pesertanya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif yang maju mencalonkan diri lagi mengaku kesulitan menjawab pertanyaan saat uji kompetensi tersebut. "Soal seperti multiple choice agak susah karena jawaban-jawabannya itu mirip-mirip, jadi harus cari yang paling pas," ujar Laode

Laode menceritakan, ada satu pertanyaan dalam ujian terkait definisi dari korupsi. Dia menuturkan, dari empat pilihan jawaban yang ada, keempatnya memiliki definisi yang hampir serupa. "Jawabannya kan pilihan antara A,B,C, atau D.

Baca: Ini Tanggapan KPU soal Gugatan Mulan Jameela Dkk

Keempat jawaban itu mirip-mirip, misalnya soal definisi korupsi, ada pilihan jawaban yang menjebak. Jebakan itu ada di penggunaan kata 'dan' serta 'atau', itu kan kita ada enggak hafal," tuturnya.

Laode melanjutkan, ada juga soal-soal lain yang cukup menyulitkan, misalnya soal definisi-definisi pemberantasan korupsi yang ada di Undang-undang (UU) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan dalam UU KPK. "Bahkan ditanyain definisi pemberantasan korupsi dalam UU KPK, kan itu agak panjang, jadi untuk bisa menjawab kan terkadang lupa. Saya yakin juga orang di luar KPK akan lebih sulit lagi karena enggak tiap hari membaca, kita saja yang setiap hari membaca saja masih lupa," jelasnya.

Namun demikian, ketika ditanya terkait persiapan untuk menghadapi jebakan-jebakan jawaban tersebut, Laode mengaku tidak ada persiapan. Ketua panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK), Yenti Garnasih mengungkapkan, Wakapolda Jawa Barat Brigjen Pol Akhmad Wiyagus mengundurkan diri sebagai capim KPK. "Ada satu dari kepolisian yang mengundurkan diri, yaitu Pak Wiyagus," ujar Yenti.

Yenti mengaku belum mengetahui alasan pengunduran polisi yang pernah bertugas di KPK sebagai penyidik ini. "Kan baru saja ya kita dengar mengundurkan diri, jadi belum tahu alasannya," paparnya kemudian. Sementara itu, Yenti juga mengonfirmasi ada tiga orang capim yang juga belum datang ke tempat tes dan tidak ada keterangan apapun. Adapun ada juga satu capim yang terlambat satu jam.

Dia menegaskan, tiga capim yang belum datang tersebut tidak boleh masuk untuk mengikuti uji kompetensi. Toleransi keterlambatan pun hanya diberikan 30 menit setelah tes dimulai, yakni pukul 08.00 WIB.

"Enggak boleh masuk lah, kan itu integritas dan kita minta satu hari sebelumnya untuk mencari lokasi tes. Jadi toleransinya 30 menit," imbuhnya. Yenti menjelaskan ‎uji kompetensi meliputi Objective Test dan penulisan makalah ini digelar pukul 08.00-13.00 WIB. 

"Untuk judul makalahnya nanti diberi tahu saat tes, saat ini masih rahasia," tegas Yenti. Pada saat mengikuti uji kompetensi, ungkap Yenti, setiap pendaftar wajib membawa KTP dan hadir 30 menit sebelum pelaksanaan tes dimulai untuk registrasi.

Baca: MA Tanggapi Aksi Pengacara Serang Hakim saat Sidang

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved