Baca Surat untuk Jokowi: Begini Ekspresi Nuril

"Saya yakin Bapak Presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara menyampaikan niat mulia tersebut bukan karena air mata

Baca Surat untuk Jokowi: Begini Ekspresi Nuril
kompas.com
Baiq Nuril Makmun 

TRIBUNMANADO.CO.ID - "Saya yakin Bapak Presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara menyampaikan niat mulia tersebut bukan karena air mata saya sebagai korban."

Demikian ucapan terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Baiq Nuril saat membaca surat permohonan amnesti yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo saat menemui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/7). Baiq Nuril tak kuasa menahan tangis saat membaca surat permohonan tersebut.

Baca: Pimpinan DPR Divonis 6 Tahun: Ini Sanksi Politik buat Taufik Kurniawan

Dalam surat itu, Nuril bercerita awal mula dirinya ditetapkan menjadi terpidana. Nuril merekam percakapan dirinya dengan atasannya yang melakukan teror cabul.

"Kasus yang menimpa saya terjadi mulai dari tahun 2013. Teror yang dilakukan oleh atasan saya terjadi berulang kali, bukan hanya melalui pembicaraan telepon, tapi juga saat perjumpaan langsung. Saya dipanggil ke ruang kerjanya," tutur Nuril sembari menahan tangis.

Aksi cabul yang dilakukan kepala sekolah SMA 7 Mataram tersebut membuat Nuril tidak tahan. Nuril akhirnya memutuskan untuk merekam apa yang dikatakan atasannya melalui telepon. Nuril menyatakan tidak memiliki niat sama sekali untuk menyebarkan rekaman percakapan tersebut. Dia hanya berusaha mempertahankan pekerjaannya untuk membantu suami menghidupi anak-anak mereka.

"Dalam pikiran saya saat merekam, jika kemudian atasan saya benar-benar memaksa saya untuk melakukan hasrat bejatnya, dengan terpaksa akan saya katakan padanya saya merekam apa yang dia katakan," tuturnya.

Baiq Nuril menuturkan orang yang menyebarkan rekaman tersebut bukan dirinya, melainkan temannya. Temannya berniat membantu dia dan ingin memberikan rekaman tersebut kepada DPRD Mataram.

Baca: Tiga Partai Politik Berpeluang Usung Calon di Pilkada 2020

"Teman saya yang memindahkan materi rekaman dari telepon genggam saya ke laptopnya. Motifnya membantu saya lepas dari tekanan atasan. Kawan saya tersebut, yang juga berstatus honorer, ternyata menceritakan pada tiga orang kawan kami yang berstatus guru PNS dan satu orang guru honorer. Semua kawan-kawan saya ingin membantu saya. Setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi," paparnya.

Dalam kalimat-kalimat selanjutnya, Nuril pun menceritakan proses hukum yang dijalaninya hingga peninjauan kembali yang diajukannya ke Mahkamah Konstitusi (MK) ditolak. Nuril kemudian menyampaikan harapan agar Presiden Joko Widodo memberikan amnesti yang didasari oleh jiwa kepemimpinan.

"Saya sebagai rakyat kecil sangat yakin, niat mulia Bapak memberikan amnesti kepada saya didasari karena  jiwa kepemimpinan Bapak yang menyadari keputusan amnesti tersebut merupakan bentuk kepentingan negara dalam melindungi dan menjaga harkat martabat rakyatnya sebagai manusia," paparnya.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved