Berita Minahasa

Petani Cengkeh Merugi Harga Turun Hingga Rp 70 Ribu

Harga yang terbilang cukup rendah, banyak membuat petani cengkeh urung menjual langsung cengkeh yang telah dikeringkan.

Petani Cengkeh Merugi Harga Turun Hingga Rp 70 Ribu
tribun manado/andreas ruaw
Ilustrasi Cengkeh 
 
TRIBUNMANADO.CO.ID- Beberapa petani cengkeh di wilayah Kabupaten Minahasa nampaknya tidak begitu berbahagia pada panen tahun ini.
Sebab, harga komoditas cengkeh saat ini tengah anjlok yaitu di Rp 70.000/kg untuk cengkeh kering.
Padahal harga cengkeh kering pada panen raya sebelumnya biasa mencapai hingga Rp120.000/kg. Kondisi itu jelas merugikan sebagian besar kalangan petani cengkeh.
Harga yang terbilang cukup rendah, banyak membuat petani cengkeh urung menjual langsung cengkeh yang telah dikeringkan.

IKUTI YOUTUBE TRIBUN MANADO

Tapi berbeda dengan Ance Watulangkow (65) warga Desa Tombuluan jaga 4, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa ini tetap akan menjual cengkeh yang telah dipanennya karena takut harga akan tambah turun.
“Kalau sekarang sih rata-rata harganya kisaran Rp 70 ribu tergantung kualitas cengkehnya.
Kalau mau disimpan terus tiba-harga tambah turun bisa rugi karena sudah terlanjur membayar pemetik dengan harga mahal, belum lagi biaya lain-lain seperti terpal dan alat panen,” katanya kepada Tribunmanado.co.id, Senin (15/7/2019).

BERITA POPULER

Baca: Kisah Cinta Guru SD dan Muridnya, Ketika Main di Kelas Dijaga Siswa Lainnya

Baca: Dikabarkan Keluar dari Pesbukers, Ayu Ting Ting Kepergok Bersama Syamsul Arief di Singapura

Baca: Pesulap Bernama Pak Tarno Menikah Dengan Pramugari Cantik, Ini Kisahnya

"Kalau bisa dibilang ini kayak bertaruh harga, kalau nanti harga turun ya harus segera dijual, namun kalau harga naik ya simpan dulu. Tapi kami kan tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan," tambahnya.

Menurutnya, jika musim cengkeh tiba, perekonomian masyarakat desa dapat terbantu dengan pendapatan tambahan dari penjualan cengkeh.
Bahkan, warga yang tak memiliki kebuh cengkeh saja bisa meraup untung dari hasil bekerja sebagai pemetik cengkeh.
Ance mengungkapkan saat mulai musim panen tiba, ia mempekerjakan empat orang dari Desanya untuk jadi pemetik cengkeh dengan upah yang diberikan sebesar Rp 4.000/liter.
“Kalau harga cengkeh murah, para petani dipastikan mengalami penurunan pendapatan. Saat ini kemampuan pengumpul hanya berani membeli dengan harga Rp 70 ribuan,” sebutnya.
Dia menyebut, tahun ini hampir semua pohon cengkeh berbuah lebat. Ada sebanyak 160 pohon cengkeh yang ditanam di dataran tinggi daerah Tombulu.
“Ya syukur pada panen raya kali ini semua pohon dengan total 160 pohon bisa berbuah semua, untuk satu pohon dapat menghasilkan 5 kg cengkeng,” katanya.
Dia menambahkan, panen tahun ini terbilang cukup lama dari tahun sebelumnya. Biasanya panen tiap dua atau tiga tahun sekali namun kali ini mencapai empat tahun.
Tapi untungnya tahun ini merupakan panen yang lumayan besar, bahkan ia harus memanen cenkeh sejak dari bulan Mei.
Ayah dua orang anak ini juga mengatakan bahwa ia sudah memiliki pembeli, sehingga tidak repot lagi harus mencari orang untuk membeli cengkeh.
“Saya menjual cengkeh ini di Kota Manado kepada pengumpul yang sudah menjadi langganan,” katanya.
Diketahui, dari hasil penjualan cengkeh ia sudah bisa menyekolahkan anak dan cucunya hingga memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Ia berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga komoditas produksi di Sulawesi Utara karena bukan hanya cengkeh saja yang berdampak akan penurunan harga, adapula kopra dan pala yang harganya kian merosot.
"Harapan saya ke pemerintah, ya semoga harga cengkih bisa diperhatikan agar harga bisa meningkat," tutupnya.
Tonton dan Subscribe Tribun Manado TV

Penulis: Andreas Ruauw
Editor: Chintya Rantung
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved