Begini Aksi Gubernur Kepri saat Digiring Petugas KPK

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nurdin Basirun bersama lima orang lain yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) di Tanjungpinang

Begini Aksi Gubernur Kepri saat Digiring Petugas KPK
antara/kompas.com
Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun (kiri) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKART A - Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nurdin Basirun bersama lima orang lain yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) di Tanjungpinang, Kepri, tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK), Jakarta, Kamis (11/7/2019) siang.

Nurdin Basirun yang mengenakan PDH karang taruna hitam tiba di Gedung KPK pukul 14.00 WIB. Ia tampak diam saat dikawal penyidik KPK dan anggota Brimob bersenjata ke dalam Gedung KPK.

Baca: Begini Kata Ahli soal Tren Tidur dengan Mulut Diplester

Selain Nurdin Basirun selaku orang nomor satu Kepri, lima terduga pelaku yang turun dibawa ke GEdung KPK adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepri, Abu Bakar dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, Edy Sofyan.

Kemudian, Kepala Bidang Perikanan Tangkap (DKP) Pemprov Kepri, Budi Hartono dan staf DKP Provinsi Kepri, Aulia Rahman. Dua orang lainnya, yakni sopir Edy Sofyan, Muhammad Salihin dan pengusaha asal Kepulauan Karimun, Andreas Budi Sampurno.

Baca: Terkait Kasus Hoaks, Ratna Sarumpaet Divonis 2 Tahun Penjara

Kelima terduga pelaku tersebut memilih menunduk saat digiring petugas ke dalam Gedung KPK. Beberapa di antaranya membawa tas besar.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menjelaskan, keenam orang yang terjaring OTT itu telah menjalani pemeriksaan awal di Mapolres di Tanjungpinang, Kepri. Selanjutnya, mereka mereka menjalani pemeriksaan lanjutan di Gedung KPK. Dan penyidik KPK mempunyai waktu 1x24 jam untuk menentukan status hukum keenam orang tersebut.

Febri mengungkapkan, dalam OTT ini, KPK menduga akan terjadi transaksi pemberian uang terkait izin lokasi reklamasi yang melibatkan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun. "Informasi yang bisa disampaikan saat ini adalah diduga transaksinya itu terkait dengan kewenangan pemberian izin lokasi untuk rencana reklamasi di Provinsi Kepulauan Riau tersebut," ungkap Febri.

Dalam OTT Gubernur Kepri ini, tim KPK menyita barang bukti uang sebesar 6.000 Dollar Singapura dan sejumlah uang dalam pecahan rupiah. Jumlah total uang tersebut masih dalam penghitungan petugas.

Nurdin Basirun selaku Gubernur Kepri diketahui beberapa kali mengeluarkan kebijakan kontroversial. Pada tahun 2017, Nurdin melakukan mutasi pejabat Eselon II-IV Pemerintah Kepri secara mendadak pada November 2016, adanya catatan pertumbuhan ekonomi terburuk sepanjang Kepri berdiri dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPP), yakni pada Triwulan I-2017, hingga buruknya komunikasi Nurdin Basirun selaku gubernur dengan wali kota dan bupati sehingga menyulitkan pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Baca: Sompie Akan Selesaikan Masalah UKIT Perlahan-lahan, Ketengahkan Dialog

Selain itu, Pemprov Kepri di bawah kepemimpinan Nurdin Basirun merencakan reklamasi kawasan Tepilaut Tanjungpinang. Nantinya lahan reklamasi akan dibangun kawasan elite, seperti mal dan perhotelan seperti kawasan Harbour Bay Batam, yang dikelola pihak swasta.

Rencana Nurdin Basirun sempat mendapat penolakan dari Wali Kota Tanjungpinang, Lis Dharmansyah. Sebab, pihak Pemkot Tanjungpinang belum melihat secara terperinci konsep reklamasi dan tujuan dari reklamasi itu sampai tahun 2017. Selain itu, mereka khawatir pengelolaan kawasan yang mempunyai nilai tinggi itu jatuh ke tangan swasta.

Nurdin Basirun juga pernah mengeluarkan kebijakan penerapan fingerprint atau sidik jari saat shalat subuh berjamaah di masjid, khususnya untuk pejabat eselon II yang beragama Islam.
Wagub Teteskan Air Mata

Wakil Gubernur Kepri, Isdianto mendatangi Mapolres Tanjungpinang pada Kamis pagi, setelah atasannya, Nurdin Basirun dan beberapa kepala dinas terjaring OTT dari tim KPK. Dia menemui Nurdin Basirun di ruang pemeriksaan. Namun, Isdianto hanya beberapa menit bisa bertemu dengan Nurdin Basirun.

Isdianto mengaku sampai menitikkan air mata melihat kondisi atasannya itu. "Saya sudah ketemu langsung dengan pak Gubernur. Saya sangat terharu melihat atasan saya ini. Saya sedih dan meneteskan air mata ," ucap Isdianto,

Nurdin Basirun berpesan kepada Isdianto agar tetap menjalankan roda pemerintahan dengan baik. "Harapan kita, (kasus Nurdin Basirun) segera selesai dan masuk ke kantor bersama kita, dan bekerja seperti biasa," ujar Isdianto. (tribun network/ilh/kompas.com/coz)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved