Breaking News:

Opini

Lampu Merah Telah Menyala, Gereja Jangan Tinggalkan Kaum Milenial

Gerakan fundamentalisme dan radikalisme sangat mengkhawatirkan. Sudah ada ratusan Perda dan UU yang diskriminatif terhadap umat lain.

Editor: Sigit Sugiharto
TRIBUNMANADO/RYO NOOR
Pdt Albertus Patty Apresiasi Sikap Politik PSI Soal Perda Berlandaskan Agama 

Oleh: Pdt Dr Albertus Patty

Ungkapan Dirjen Bimas Kristen yang mengutip hasil penelitian Bilangan Research Center bahwa 50% pemuda mulai meninggalkan gereja harus disikapi dengan serius.

Moga saja hasil penelitiannya salah, tetapi kita berharap hasil penelitian ini melecut gereja-gereja untuk serius dengan kaum milenial.

Gereja harus membuat program yang merangkul dan sekaligus memberdayakan kaum muda agar mampu menjadi pemuda pembelajar yang mampu berkembang, mandiri dan matang dalam segala bidang kehidupan.

Menarik apa yang disampaikan salah seorang peserta dalam salah satu diskusi.

Ia katakan bukan kaum muda yang tinggalkan gereja tapi gerejalah yang tinggalkan kaum muda.

Coba perhatikan, ujarnya, investasi gereja terhadap pengembangan kaum muda sangat sedikit.

Gereja enggan berubah, dan tak serius menggeluti kebutuhan riel kaum milenial yang menghadapi dunia yang sama sekali baru, semakin berat, dan semakin menantang.

Ketua IV PGI Pdt Dr Albertus Patty saat berada di Kantor Tribun Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (24/11/2018).
Ketua IV PGI Pdt Dr Albertus Patty saat berada di Kantor Tribun Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (24/11/2018). (TRIBUN MANADO/ANDREAS RUAUW)

Di Barat, bukan kaum muda yang tinggalkan gereja, karena gereja lebih dulu tinggalkan mereka, katanya tegas.

Gereja memaksa diri untuk bertahan dengan konservatismenya.

Semua tradisi dari masa lalu dianggap sakral, tak boleh berubah, lalu dicopy paste dan dipertahankan mati-matian lebih daripada mempertahankan umatnya.

Kaum muda yang wajib menyesuaikan diri dengan gereja. Bukan sebaliknya!

Akibatnya, kaburlah mereka karena dunia mereka bukan lagi dunia indoktrinasi.

Bukan dunia satu arah. Bukan lagi dunia feodal, atas-bawah.

Dunia mereka adalah dunia kolaborasi sekaligus dunia kompetisi!

Gereja perlu mempelajari dan memilah mana yg merupakan Core Value (remain) yg tak bisa berubah, mana yg Complementing Value (updated atau transform).

Jangan sampai gereja kukuh mempertahankan nilai yang sebenarnya cuma complementing value.

Misalnya, gereja-gereja di Barat mempertahankan dengan sangat ketat tradisi susunan liturgi berikut alat musik orgel bambu, plus lagu-lagu klasik sebagai lagu rohani.

Gitar, drum dan alat musik lain ditolak dan bahkan diharamkan.

Kebijakan seperti ini yang disebut gerejalah yang telah meninggalkan anak muda. Bukan sebaliknya!

Menarik memperhatikan respons gereja Katolik.

Kini, mereka mulai melakukan banyak pembaruan.

Ketua PBNU, Said Aqil Siroj bersama Pendeta Albertus Patty dari Persekutan Gereja-gereja Indonesia (PGI) saat acara halaqoh Kebangsaan Pancasila Rumah Kita : Perbedaan adalah Rahmat, di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2015). Selain berdiskusi, para tokoh agama ini juga mendeklarasikan seruan perdamaian dan mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ketua PBNU, Said Aqil Siroj bersama Pendeta Albertus Patty dari Persekutan Gereja-gereja Indonesia (PGI) saat acara halaqoh Kebangsaan Pancasila Rumah Kita : Perbedaan adalah Rahmat, di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2015). Selain berdiskusi, para tokoh agama ini juga mendeklarasikan seruan perdamaian dan mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Cara berkotbah para pastornya pun tidak lagi membosankan.

Kini semakin update dan makin asyik didengar.

Banyak gereja-gereja Protestan mengadop persekutuan doa gaya Taize, Perancis.

Misalnya gereja CDCC-nya Dr. Bambang Wijaya.

Ternyata, umat gereja-gereja Protestan menyambutnya dengan cukup antusias.

Persekutuan doanya sangat sederhana.

Sebenarnya, sejauh yang saya ketahui, intinya hanya menyanyikan Lagu-lagu pendek yang bagus isi dan nadanya serta dinyanyikan berulang ulang di sekitar nyala lilin yang temaram.

Dalam keheningan itu, lagu-lagu tersebut menuntun dan menyalurkan emosi umat yg tersumbat.

Yang terpenting keheningan itu adalah saat dimana mereka merasakan pertemuan dengan Tuhan.

Meskipun demikian, gereja bukan saja harus bisa melakukan perubahan terhadap tata ibadah yang bisa merangkul kaum muda.

Gereja juga memiliki panggilan yang tidak kalah pentingnya, yaitu panggilan ekonomi-sosial-politik, plus panggilan merespons kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memasuki era artificial intellegence.

Berdasarkan pemetaan persoalan dan potensi gereja dalam bidang ekonomi-sosial-politik, dan ilmu pengetahuan, gereja harus meresponsnya secara cepat, tepat, strategik, dan, yang terpenting implementatif.

Gejala polarisasi masyarakat akibat semakin berkembangnya fundamentalisme-radikalisme sudah sangat mengkhawatirkan.

Gerakan fundamentalisme-radikalisme ini sudah menciptakan ratusan Perda dan UU yang diskriminatif terhadap umat lain dan terhadap kaum perempuan.

Gerakan ini pasti akan mencari kesempatan pada Pilkada serentak 2020 dan memuncak pada Pemilu 2024.

Bila abai, berbagai kasus diskriminasi akan terjadi di depan gereja dan pada akhirnya akan melindas gereja sendiri.

Kemiskinan yg makin marak di daerah 'kantong2' Kristen yang dijadikan kesempatan untuk melakukan islamisasi yang masif sudah pada situasi yang sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan.

Semua gejala ini membutuhkan respons strategik dan implementatif gereja.

Tidak cukup lagi hanya dengan berkumpul, berseminar, ber-FGD atau dengan mengeluarkan Surat Pastoral.

Jokowi betul, sekarang saatnya kerja dan kerja. Bukan sekedar kerja, tetapi kerja yang serius dan strategik!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved